YESUS YANG BAIK
YAYESUS TERIMAKASIH KARENA ENGKAU TELAH
MEMBERIKU TUBUH YANG SEHAT INI KADANG AKU LUPA
BERTERIMAKASIH PADAMU DAN LUPA BERDOA PADAMU
HINGGA SAAT INI AKU BERTUMBUH BESAR DAN DEWASA
TERIMA KASIH TUHAN I LOVE YOU AKU SAYANG PADAMU
YESUS .
THANK YOU
BUNGAKU
Oleh Skolastika Lintang Dianwidhi
BUNGAKU
BETAPA KAU SANGAT HARUM DAN CANTIK
KUPU KUPU MENGHISAP MADUMU SAAT PAGI
KU SIRAMI ENGKAU SETIAP HARI DAN KUBERI PUPUK
AGAR ENGKAU SUBUR DAN TIDAK LAYU
PADA MUSIM HUJAN ATAU KEMARAU KAU TETAP SUBUR
BETAPA ELOKNYA ENGKAU BUNGAKU
MEKAR DI HALAMAN RUMAHKU
DENGAN BERBAGAI MACAM WARNA
ENGKAULAH LUKISAN TUHAN
YANG SANGAT MENGAGUMKAN
ADIK KU
Oleh Skolastika Lintang Dianwidhi
ADIKKU ENGKAU LUCU DAN MENGGEMASKAN
SAAT ENGKAU MENANGIS KUAJAK KAU BERMAIN BERSAMA
ENGKAU CERIA KAKAK PUN GEMBIRA
SAYANGKU HANYA UNTUK DIRIMU
OH ADIKKU YANG KUSAYANGI
SEMOGA KAU CEPAT BESAR
SEHINGGA KAMU BISA BERMAIN DENGAN TEMAN TEMANMU
BISA SEKOLAH DAN BELAJAR BERSAMA
KAKAK TETAP SAYANG PADAMU HINGGA KAU BESAR NANTI
ADIKKU KAULAH MALAIKAT KECILKU
DARI TUHAN YANG DIKIRIM UNTUKKU
UNTUK MENEMANIKU DI DUNIA INI
ORANG TUAKU
Oleh Skolastika Lintang Dianwidhi
ORANG TUAKU
BETAPA KASIH MU SANGAT DALAM
ENGKAU TELAH MERAWATKU DARI KECIL
HINGGA SEKARANG INI
ENGKAU MEMBESARKANKU
DENGAN KASIH SAYANG
TERIMAKASIH MAMA
TERIMAKASIH PAPA
AKU SAYANG PADAMU
DAN SETELAH AKU BESAR NANTI
AKU AKAN MEMBALAS JASA JASA MU
YESUS TERIMAKASIH
KAUBERI AKU ORANGTUA YANG BAIK
LINDUNGILAH MAMA DAN PAPA SELALU
Yesus
Yesus engkaulah
Tuhanku
Engkau yang
Membuat tubuhku
Dengan sempurna
Aku berutang
Budi padamu
Tuhan
Sbab engkau Raja
Sgala bangsa
Dan engkau baik
Padaku
Engkau menghapus
Dosa-dosa manusia
Tiada manusia
Sepertimu
Oh---Yesus
Betapa baiknya
Engkau Yesus
Yesus engkau lahir
Di Betlehem
Di dalam
Palungan glap
Bunda Maria
Yang melahirkanmu
Dan Bapak Yusuf
Para Gembala
Menemanimu saat
Engkau lahir
Tuhan Engkau lahir
Selasa, 03 November 2009
YESUS SAHABAT TERBAIKKU (Lintang, Warta Klara 25 Oktober 2009) Juara 1 Lomba menulis HUT Paroki Klara ke-11
YESUS SAHABAT TERBAIKKU
Oleh Skolastika Lintang Dianwhidi
Kelas 4 SD (9,5 tahun)
Lingkungan Antonius 3 Santa Klara
Yesus orang yang sangat sayang kepadaku dan para pengikut-Nya. Yesus sejak balita tinggal di Nazaret. Orang tua Yesus bernama Maria dan Yusuf. Yusuf seorang tukang kayu. Dari kecil Yesus anak seorang tukang kayu, tetapi Yesus menerima apa adanya. Apa yang telah dilakukan dalam pekerjaan orang tua-Nya itu baik. Yesus ikut membantu. Walau hasil kayu yang telah dijual hanya sedikit tetapi mereka tetap bekerja keras. Tahun demi tahun berlalu, Yesus telah tumbuh besar. Ia mengetahui dan mencintai Allah Bapa seperti ayah-Nya sendiri. Akupun ingin sederhana seperti Yesus dan sayang pada orangtuaku.
Yesus juga mempelajari perintah-perintah Bapa dari Ibu Maria dan pemimpin agama. Setelah belajar Yesus jadi tahu betapa besar cinta Bapa kepada umat-Nya. Setiap hari Yesus menyampaikan kabar gembira itu kepada orang lain. Di gunung dan di pantai. Ia pergi mengelilingi negeri-Nya untuk menyampaikan firman Tuhan. Walau panas, hujan dan dingin Yesus tetap mewartakan injil Tuhan. Orang-orang mendengar-Nya dengan sungguh-sungguh. Yesus berkata, “Cintailah musuh-musuhmu dan doakanlah orang-orang yang benci padamu, sehingga engkau menjadi anak-anak Tuhan yang baik.” Ajaran-ajaran Yesus baik dan benar. Akupun ingin mempelajari dan melaksanakan ajaran itu.
Yesus juga sering menghibur anak-anak. Bagiku Yesus adalah pencinta damai. Yesus juga mengajari saling memaafkan, saling menolong dan saling mengasihi. Yesus adalah guru agama, Ia mengajar dua belas murid-murid-Nya. Dia tidak pernah lelah untuk mengajar. Tapi ada juga orang yang benci pada Yesus. Mereka tidak mau mendengarkan ajaran Yesus dan mukjijat yang Ia lakukan. Tetapi Yesus terus semangat..
Yesus sahabatku yang paling baik. Saat aku sakit Yesus menemanikku, saat aku sedih Yesus menghiburku, saat aku ulangan Yesus menemaniku, dan saat aku belajar Yesus memberi kemudahan saat mengerjakan soal ujian. Dan mengingatkanku untuk terus belajar. Aku ingin seperti Yesus yang baik, lemah lembut dan penyayang. Bagiku Yesus teman yang paling baik di dunia ini.
Walau aku kadang lupa bedoa mengucapkan syukur kepadaYesus, tapi Yesus tetap sayang kepadaku dan mengingatkanku slalu. Yesus memberikan tubuh untukku dengan sempurna, dan memberikanku orang tua yang sayang kepadaku dan menyayangiku.Yesus teman baikku yang slalu menemaniku setiap waktu. Yesus tidak pernah tidur, ia tetap menemaniku tidur malam dan mengingatkanku untuk berdoa sebelum tidur.Ya Tuhan Yesus ketika aku sendirian dan ada masalah menimpaku seperti beban yang sangat berat, bantulah aku untuk menyadari bahwa Engkau selalu menyertaiku.
Yesus juga dapat menyembuhkan orang sakit hanya dengan menyentuh bagian tubuh yang sakit, seperti seorang anak perempuan Bapak Yairus. Dia mempunyai seorang anak perempuan yang sakit parah. Lalu sang ayah menemui Yesus untuk menyembuhkan seorang anak perempuan itu. Sesampai di rumah Bapak Yairus, anak itu sudah meninggal. Orang tua anak itu menangis karena anak itu anak satu-satunya. Akhirnya Yesus hanya memegang badannya saja dan anak itu bangun. Orang tua anak itu sangat berterima kasih sekali kepada Yesus, karena Yesus telah membangkitkan anaknya yang sudah meninggal. Yesus memberi penyembuhan kepada umat-Nya dan sayang pada anak-anak.
Terima kasih atas yang Engkau berikan kepada keluarga kami, Yesus. Engkau memberikan rumah yang cukup untuk kami tinggal. Engkau juga memberikan makanan untuk kami makan setiap hari. Tuhan Yesus, Engkau juga menyayangi aku dan teman-temanku. Tuhan aku kadang lupa sekolah minggu tetapi Engkau mengingatkanku untuk terus memuliakan nama-Mu. Terimakasih ya Yesus karena sudah menjadi sahabat terbaikku.Aku janji akan menyayangi teman-temanku seperti engkau mengasihiku.
Oleh Skolastika Lintang Dianwhidi
Kelas 4 SD (9,5 tahun)
Lingkungan Antonius 3 Santa Klara
Yesus orang yang sangat sayang kepadaku dan para pengikut-Nya. Yesus sejak balita tinggal di Nazaret. Orang tua Yesus bernama Maria dan Yusuf. Yusuf seorang tukang kayu. Dari kecil Yesus anak seorang tukang kayu, tetapi Yesus menerima apa adanya. Apa yang telah dilakukan dalam pekerjaan orang tua-Nya itu baik. Yesus ikut membantu. Walau hasil kayu yang telah dijual hanya sedikit tetapi mereka tetap bekerja keras. Tahun demi tahun berlalu, Yesus telah tumbuh besar. Ia mengetahui dan mencintai Allah Bapa seperti ayah-Nya sendiri. Akupun ingin sederhana seperti Yesus dan sayang pada orangtuaku.
Yesus juga mempelajari perintah-perintah Bapa dari Ibu Maria dan pemimpin agama. Setelah belajar Yesus jadi tahu betapa besar cinta Bapa kepada umat-Nya. Setiap hari Yesus menyampaikan kabar gembira itu kepada orang lain. Di gunung dan di pantai. Ia pergi mengelilingi negeri-Nya untuk menyampaikan firman Tuhan. Walau panas, hujan dan dingin Yesus tetap mewartakan injil Tuhan. Orang-orang mendengar-Nya dengan sungguh-sungguh. Yesus berkata, “Cintailah musuh-musuhmu dan doakanlah orang-orang yang benci padamu, sehingga engkau menjadi anak-anak Tuhan yang baik.” Ajaran-ajaran Yesus baik dan benar. Akupun ingin mempelajari dan melaksanakan ajaran itu.
Yesus juga sering menghibur anak-anak. Bagiku Yesus adalah pencinta damai. Yesus juga mengajari saling memaafkan, saling menolong dan saling mengasihi. Yesus adalah guru agama, Ia mengajar dua belas murid-murid-Nya. Dia tidak pernah lelah untuk mengajar. Tapi ada juga orang yang benci pada Yesus. Mereka tidak mau mendengarkan ajaran Yesus dan mukjijat yang Ia lakukan. Tetapi Yesus terus semangat..
Yesus sahabatku yang paling baik. Saat aku sakit Yesus menemanikku, saat aku sedih Yesus menghiburku, saat aku ulangan Yesus menemaniku, dan saat aku belajar Yesus memberi kemudahan saat mengerjakan soal ujian. Dan mengingatkanku untuk terus belajar. Aku ingin seperti Yesus yang baik, lemah lembut dan penyayang. Bagiku Yesus teman yang paling baik di dunia ini.
Walau aku kadang lupa bedoa mengucapkan syukur kepadaYesus, tapi Yesus tetap sayang kepadaku dan mengingatkanku slalu. Yesus memberikan tubuh untukku dengan sempurna, dan memberikanku orang tua yang sayang kepadaku dan menyayangiku.Yesus teman baikku yang slalu menemaniku setiap waktu. Yesus tidak pernah tidur, ia tetap menemaniku tidur malam dan mengingatkanku untuk berdoa sebelum tidur.Ya Tuhan Yesus ketika aku sendirian dan ada masalah menimpaku seperti beban yang sangat berat, bantulah aku untuk menyadari bahwa Engkau selalu menyertaiku.
Yesus juga dapat menyembuhkan orang sakit hanya dengan menyentuh bagian tubuh yang sakit, seperti seorang anak perempuan Bapak Yairus. Dia mempunyai seorang anak perempuan yang sakit parah. Lalu sang ayah menemui Yesus untuk menyembuhkan seorang anak perempuan itu. Sesampai di rumah Bapak Yairus, anak itu sudah meninggal. Orang tua anak itu menangis karena anak itu anak satu-satunya. Akhirnya Yesus hanya memegang badannya saja dan anak itu bangun. Orang tua anak itu sangat berterima kasih sekali kepada Yesus, karena Yesus telah membangkitkan anaknya yang sudah meninggal. Yesus memberi penyembuhan kepada umat-Nya dan sayang pada anak-anak.
Terima kasih atas yang Engkau berikan kepada keluarga kami, Yesus. Engkau memberikan rumah yang cukup untuk kami tinggal. Engkau juga memberikan makanan untuk kami makan setiap hari. Tuhan Yesus, Engkau juga menyayangi aku dan teman-temanku. Tuhan aku kadang lupa sekolah minggu tetapi Engkau mengingatkanku untuk terus memuliakan nama-Mu. Terimakasih ya Yesus karena sudah menjadi sahabat terbaikku.Aku janji akan menyayangi teman-temanku seperti engkau mengasihiku.
Minggu, 25 Oktober 2009
JANGAN PERNAH MENOLAK (Warta Klara, 25 Okt 2009)
JANGAN PERNAH MENOLAK!
Oleh Rini Giri
Menurut surat edaran Dewan Paroki Santa Klara, proses peremajaan pengurus lingkungan/wilayah dimulai bulan Oktober ini. Kepengurusan baru periode 2010-2013 akan dilantik Ketua Dewan Paroki akhir Februari 2010. Puji Tuhan, tugas keluarga kami untuk memimpin lingkungan pun akan segera berakhir dan digantikan keluarga yang lain. Lega rasanya.
“Kenapa kok belakangan suamimu tampak kurus?” Tanya ibu mertua suatu kali.
“Oh, dia sekarang jadi ketua lingkungan, Bu.” Jawab saya jujur. Sejujur-jujurnya. Ibu mertua sampai mengernyitkan dahi.
Nah, adik ipar lah yang akhirnya menemukan relasi kedua variabel di atas. Dia datang ke rumah karena kangen pada abangnya dan ingin ngobrol. Jauh-jauh, kok cuma dapat jatah waktu beberapa menit untuk ketemu. Padahal hari Minggu. Pagi jam 09.00, suami saya ke lahan gereja mengikuti suatu rapat. Pulang, makan sebentar, lalu ke rumah sakit menengok umat yang sedang dirawat. Hingga sore. Habis mandi, pergi lagi ke doa lingkungan. Waduh !
“Mau-maunya jadi ketua lingkungan. Dapet apa coba?” Komentar kakak ipar. Mungkin adik ipar berkeluh kesah padanya tentang pertemuan yang kurang memuaskan itu.
“Secara materi aku gak dapet apa-apa. Tapi secara rohani, hidup keluarga kami terasa lebih kaya akhir-akhir ini. Aku agak kurus tapi imanku tambah gemuk rasanya.“ Itu jawaban suami saya. Dan saya amini. Amin. Amin. Amin.
Memang benar. Selama tiga tahun terakhir ini, kami semakin menemukan Cinta Yesus. Mungkin Tuhan ingin menjadikan keterlibatan kami dalam kepengurusan ini untuk semakin dekat pada-Nya. Menjadi lebih sering hadir dalam kegiatan lingkungan dan lebih banyak mengenal umat lain. Cinta tidak selalu mulus, termasuk dalam menemukan Cinta Yesus. Banyak suka-duka keluarga kami dalam menjalankan tanggung-jawab dan kepercayaan ini. Waktu, tenaga, dan pikiran lebih banyak tercurah ke sana. Puji Tuhan, kami bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Apalagi untuk melayani Tuhan dan sesama. Semuanya kami anggap sebagai proses pendewasaan kami sebagai salah satu umat Allah.
Dengan menjadi ketua lingkungan, ada suatu keuntungan tersendiri. Kami bisa mengenal puluhan KK dengan lebih baik, karena mereka selalu datang ke rumah untuk lapor dan minta tanda tangan. Kami jadi semakin sering berinteraksi dengan umat lain. Makin belajar untuk sabar dan menjadi pendengar yang baik akan segala curhat maupun masukan umat. Makin sadar akan peranan kerjasama umat basis dalam menumbuhkan iman bersama. Kegiatan di wilayah maupun paroki juga dapat menambah pertemanan kami dalam nama Yesus. Ya, jadi ketua lingkungan bukan hanya memperkaya rohani kami, tapi juga memperkaya jalinan silaturahmi. Juga menjadi suatu tantangan untuk selalu berlaku dan bersikap baik dan benar. Bukan sekedar “ja-im” lho! Soalnya yang namanya ketua dimana-mana kan harus bisa jadi panutan dan andalan.
“Lha, tapi kok badanmu kian makmur saja? Apa gak bantu suamimu dalam melaksanakan tugasnya?” tanya ibu mertua lagi. Saya hanya tersenyum.
“Putra ibu yang menabur, saya yang memanen berkah-Nya.” Jawab saya dalam hati. Soalnya, ssstttt ini rahasia, umat lebih cinta pada istri ketua lingkungan dibanding pada ketua lingkungannya. Kalau ada doa syukur di rumah umat, yang dikasih buah tangan bukan ketua lingkungannya tapi istrinya. Hehehehe.
Suatu harapan, jangan pernah menolak berkah Tuhan untuk menjadi pengurus lingkungan/wilayah. Sebab berkah Tuhan hadir saat kita mau diutus. Duabelas rasul tak pernah keberatan diutus Yesus. Bahkan Saulus yang kejipun tak kuasa menerima perutusan-Nya. Padahal tugas mereka tidak ringan. Namun nyatanya kita bisa melihat perubahan hidup rohani setelah para rasul dan Paulus rela bekerja untuk Yesus. Suatu pertobatan. Dan itu indah. Tuhan memberkati.
Oleh Rini Giri
Menurut surat edaran Dewan Paroki Santa Klara, proses peremajaan pengurus lingkungan/wilayah dimulai bulan Oktober ini. Kepengurusan baru periode 2010-2013 akan dilantik Ketua Dewan Paroki akhir Februari 2010. Puji Tuhan, tugas keluarga kami untuk memimpin lingkungan pun akan segera berakhir dan digantikan keluarga yang lain. Lega rasanya.
“Kenapa kok belakangan suamimu tampak kurus?” Tanya ibu mertua suatu kali.
“Oh, dia sekarang jadi ketua lingkungan, Bu.” Jawab saya jujur. Sejujur-jujurnya. Ibu mertua sampai mengernyitkan dahi.
Nah, adik ipar lah yang akhirnya menemukan relasi kedua variabel di atas. Dia datang ke rumah karena kangen pada abangnya dan ingin ngobrol. Jauh-jauh, kok cuma dapat jatah waktu beberapa menit untuk ketemu. Padahal hari Minggu. Pagi jam 09.00, suami saya ke lahan gereja mengikuti suatu rapat. Pulang, makan sebentar, lalu ke rumah sakit menengok umat yang sedang dirawat. Hingga sore. Habis mandi, pergi lagi ke doa lingkungan. Waduh !
“Mau-maunya jadi ketua lingkungan. Dapet apa coba?” Komentar kakak ipar. Mungkin adik ipar berkeluh kesah padanya tentang pertemuan yang kurang memuaskan itu.
“Secara materi aku gak dapet apa-apa. Tapi secara rohani, hidup keluarga kami terasa lebih kaya akhir-akhir ini. Aku agak kurus tapi imanku tambah gemuk rasanya.“ Itu jawaban suami saya. Dan saya amini. Amin. Amin. Amin.
Memang benar. Selama tiga tahun terakhir ini, kami semakin menemukan Cinta Yesus. Mungkin Tuhan ingin menjadikan keterlibatan kami dalam kepengurusan ini untuk semakin dekat pada-Nya. Menjadi lebih sering hadir dalam kegiatan lingkungan dan lebih banyak mengenal umat lain. Cinta tidak selalu mulus, termasuk dalam menemukan Cinta Yesus. Banyak suka-duka keluarga kami dalam menjalankan tanggung-jawab dan kepercayaan ini. Waktu, tenaga, dan pikiran lebih banyak tercurah ke sana. Puji Tuhan, kami bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Apalagi untuk melayani Tuhan dan sesama. Semuanya kami anggap sebagai proses pendewasaan kami sebagai salah satu umat Allah.
Dengan menjadi ketua lingkungan, ada suatu keuntungan tersendiri. Kami bisa mengenal puluhan KK dengan lebih baik, karena mereka selalu datang ke rumah untuk lapor dan minta tanda tangan. Kami jadi semakin sering berinteraksi dengan umat lain. Makin belajar untuk sabar dan menjadi pendengar yang baik akan segala curhat maupun masukan umat. Makin sadar akan peranan kerjasama umat basis dalam menumbuhkan iman bersama. Kegiatan di wilayah maupun paroki juga dapat menambah pertemanan kami dalam nama Yesus. Ya, jadi ketua lingkungan bukan hanya memperkaya rohani kami, tapi juga memperkaya jalinan silaturahmi. Juga menjadi suatu tantangan untuk selalu berlaku dan bersikap baik dan benar. Bukan sekedar “ja-im” lho! Soalnya yang namanya ketua dimana-mana kan harus bisa jadi panutan dan andalan.
“Lha, tapi kok badanmu kian makmur saja? Apa gak bantu suamimu dalam melaksanakan tugasnya?” tanya ibu mertua lagi. Saya hanya tersenyum.
“Putra ibu yang menabur, saya yang memanen berkah-Nya.” Jawab saya dalam hati. Soalnya, ssstttt ini rahasia, umat lebih cinta pada istri ketua lingkungan dibanding pada ketua lingkungannya. Kalau ada doa syukur di rumah umat, yang dikasih buah tangan bukan ketua lingkungannya tapi istrinya. Hehehehe.
Suatu harapan, jangan pernah menolak berkah Tuhan untuk menjadi pengurus lingkungan/wilayah. Sebab berkah Tuhan hadir saat kita mau diutus. Duabelas rasul tak pernah keberatan diutus Yesus. Bahkan Saulus yang kejipun tak kuasa menerima perutusan-Nya. Padahal tugas mereka tidak ringan. Namun nyatanya kita bisa melihat perubahan hidup rohani setelah para rasul dan Paulus rela bekerja untuk Yesus. Suatu pertobatan. Dan itu indah. Tuhan memberkati.
TUHAN MENJADIKAN SEMUA BAIK (Warta Klara, 25 Okt 2009)
TUHAN JADIKAN SEGALANYA BAIK
Oleh Rini Giri
Aku senang sekali, ketika membuka facebook dan mendapatkan permintaan pertemanan dari seseorang yang istimewa. Kawan dari masa lalu yang sangat berarti bagiku. Mungkin sudah 15 tahun kami tidak berkomunikasi. Dia yang mengajarkan lagu berbahasa Inggris pertamaku. Saat itu umurku 11 tahun. Lagu milik John Lennon…Oh, my love for the first time in my life…my eyes are wide open...Oh, my love for the first time in my life…my eyes can see…Dengan gitar dia mengiringiku menyanyi dalam suatu acara muda-mudi. Pengalaman ini membuatku membuka mata untuk pertama kalinya pada kemurahan karunia Tuhan padaku.
“Suaramu keren. Kamu pasti bisa. Menyanyi itu bisa jadi pintu untuk mendapatkan banyak teman lho.” Ujarnya menyemangatiku. Itu adalah penampilan pertamaku menyanyi solo di depan umum, sehingga aku masih malu dan ragu. Dia benar. Puji Tuhan, aku mendapat banyak teman ketika terlibat dalam beberapa kelompok koor.
Kawanku ini tidak pernah sekolah. Dia belajar segala sesuatu secara otodidak. Panas tinggi waktu kecil, membuat kakinya lumpuh dan kursi roda menjadi kepanjangan langkahnya. Namun kekurangan fisiknya tertutupi kelebihan iner-nya. Dia jago main gitar, cas-cis-cus bahasa Inggrisnya, pinter nulis, pinter ngomong, wawasannya luas, jadi penyemangat banyak teman, rendah hati, dan dalam usia muda sudah mampu memimpin doa di lingkungan. Temannya banyak. Usianya yang sepuluh tahun lebih tua, membuatku menghormatinya sebagai kakak.
Dulu, di mata kanak-kanakku, aku sangat kasihan padanya. Kenapa Tuhan memberikan tubuh yang tidak sempurna pada orang sebaik itu. Apa dosanya? Apa Tuhan yang Maha Adil juga Maha Tidak Adil sekaligus? Ketika guru SD-ku tidak jadi melibatkanku dalam lomba koor gara-gara aku tidak jitu baca not, dia malah mendukungku untuk menyanyi solo di depan banyak tamu. Bahkan dia juga mengajakku mendiskusikan lagu berbahasa Inggris itu agar aku lebih menghayatinya. Dia begitu peduli pada anak baru gede yang masih minder dan gampang patah sepertiku. Dan membantuku menemukan rasa percaya diri.
Dengan keterbatasan fisik dan talenta yang dimilikinya, dia melayani gereja maupun komunitas kaum muda di tempat tinggal kami. Dia selalu penuh senyum dan binar ceria terus memancar dari balik kaca mata minusnya. Apa dia tidak kecewa pada Tuhan? Apa dia tidak protes pada-Nya? Jika kulihat dari apa yang dikerjakannya dengan sepenuh hati, aku bisa melihat rasa syukur selalu mengalun dari hatinya. Kekurangannya justru menjadi kelebihannya dalam memuliakan nama Tuhan. Dia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah kecil hati. Merasa dirinya tidak beda dengan kawan yang lain.
“Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” Roma 9: 21. Dari kutipan itu, kusadari, Tuhan menciptakan setiap insan secara unik. Masing-masing dengan lebih dan kurangnya. Semua untuk tujuan mulia. Agar kemuliaan nama-Nya semakin dinyatakan. Meskipun tugas dan peranannya berbeda-beda.
Kadang, dengan segala lebih yang ada padaku, akupun masih mengeluh dan merasa kurang berguna. Apalagi jika melihat kawan-kawan lain sangat sukses dalam kariernya. Aduh, rasanya aku ini seperti katak dalam batok kelapa. Kuper banget. Kegiatanku cuma muter-muter di situ-situ saja. Di rumah, RT, sekolah anak-anak, dan paling pol lingkungan gereja. Seandainya dulu aku terus bekerja, tentu akupun tak jauh dari apa yang mereka capai. Begitu pikirku.
Tapi begitu melihat kawan lamaku nongol lagi di facebook dan kabarnya dia masih giat melayani Tuhan sesuai panggilan-Nya, cara pandangku begeser. Tuhan menjadikan segalanya baik. Tidak satupun hal diciptakan untuk tujuan hina apalagi jahat. Rencana dan rancangan-Nya untuk kita adalah sesuatu yang indah. Bahkan segala kekurangan pun mampu dijadikan-Nya kelebihan untuk berkarya. Dan segala keterbatasan lingkup bergaulku, mungkin memang harus kukelola untuk lebih maksimal dalam melayani sesama di lingkup itu. Terimakasih Tuhan. Tuhan kan memberkati.
Oleh Rini Giri
Aku senang sekali, ketika membuka facebook dan mendapatkan permintaan pertemanan dari seseorang yang istimewa. Kawan dari masa lalu yang sangat berarti bagiku. Mungkin sudah 15 tahun kami tidak berkomunikasi. Dia yang mengajarkan lagu berbahasa Inggris pertamaku. Saat itu umurku 11 tahun. Lagu milik John Lennon…Oh, my love for the first time in my life…my eyes are wide open...Oh, my love for the first time in my life…my eyes can see…Dengan gitar dia mengiringiku menyanyi dalam suatu acara muda-mudi. Pengalaman ini membuatku membuka mata untuk pertama kalinya pada kemurahan karunia Tuhan padaku.
“Suaramu keren. Kamu pasti bisa. Menyanyi itu bisa jadi pintu untuk mendapatkan banyak teman lho.” Ujarnya menyemangatiku. Itu adalah penampilan pertamaku menyanyi solo di depan umum, sehingga aku masih malu dan ragu. Dia benar. Puji Tuhan, aku mendapat banyak teman ketika terlibat dalam beberapa kelompok koor.
Kawanku ini tidak pernah sekolah. Dia belajar segala sesuatu secara otodidak. Panas tinggi waktu kecil, membuat kakinya lumpuh dan kursi roda menjadi kepanjangan langkahnya. Namun kekurangan fisiknya tertutupi kelebihan iner-nya. Dia jago main gitar, cas-cis-cus bahasa Inggrisnya, pinter nulis, pinter ngomong, wawasannya luas, jadi penyemangat banyak teman, rendah hati, dan dalam usia muda sudah mampu memimpin doa di lingkungan. Temannya banyak. Usianya yang sepuluh tahun lebih tua, membuatku menghormatinya sebagai kakak.
Dulu, di mata kanak-kanakku, aku sangat kasihan padanya. Kenapa Tuhan memberikan tubuh yang tidak sempurna pada orang sebaik itu. Apa dosanya? Apa Tuhan yang Maha Adil juga Maha Tidak Adil sekaligus? Ketika guru SD-ku tidak jadi melibatkanku dalam lomba koor gara-gara aku tidak jitu baca not, dia malah mendukungku untuk menyanyi solo di depan banyak tamu. Bahkan dia juga mengajakku mendiskusikan lagu berbahasa Inggris itu agar aku lebih menghayatinya. Dia begitu peduli pada anak baru gede yang masih minder dan gampang patah sepertiku. Dan membantuku menemukan rasa percaya diri.
Dengan keterbatasan fisik dan talenta yang dimilikinya, dia melayani gereja maupun komunitas kaum muda di tempat tinggal kami. Dia selalu penuh senyum dan binar ceria terus memancar dari balik kaca mata minusnya. Apa dia tidak kecewa pada Tuhan? Apa dia tidak protes pada-Nya? Jika kulihat dari apa yang dikerjakannya dengan sepenuh hati, aku bisa melihat rasa syukur selalu mengalun dari hatinya. Kekurangannya justru menjadi kelebihannya dalam memuliakan nama Tuhan. Dia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah kecil hati. Merasa dirinya tidak beda dengan kawan yang lain.
“Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” Roma 9: 21. Dari kutipan itu, kusadari, Tuhan menciptakan setiap insan secara unik. Masing-masing dengan lebih dan kurangnya. Semua untuk tujuan mulia. Agar kemuliaan nama-Nya semakin dinyatakan. Meskipun tugas dan peranannya berbeda-beda.
Kadang, dengan segala lebih yang ada padaku, akupun masih mengeluh dan merasa kurang berguna. Apalagi jika melihat kawan-kawan lain sangat sukses dalam kariernya. Aduh, rasanya aku ini seperti katak dalam batok kelapa. Kuper banget. Kegiatanku cuma muter-muter di situ-situ saja. Di rumah, RT, sekolah anak-anak, dan paling pol lingkungan gereja. Seandainya dulu aku terus bekerja, tentu akupun tak jauh dari apa yang mereka capai. Begitu pikirku.
Tapi begitu melihat kawan lamaku nongol lagi di facebook dan kabarnya dia masih giat melayani Tuhan sesuai panggilan-Nya, cara pandangku begeser. Tuhan menjadikan segalanya baik. Tidak satupun hal diciptakan untuk tujuan hina apalagi jahat. Rencana dan rancangan-Nya untuk kita adalah sesuatu yang indah. Bahkan segala kekurangan pun mampu dijadikan-Nya kelebihan untuk berkarya. Dan segala keterbatasan lingkup bergaulku, mungkin memang harus kukelola untuk lebih maksimal dalam melayani sesama di lingkup itu. Terimakasih Tuhan. Tuhan kan memberkati.
Senin, 12 Oktober 2009
MENERIMA IMAM APA ADANYA (Warta Klara, 4 Oktober 2009)
MENERIMA IMAM APA ADANYA
Oleh Rini Giri
Membaca Buletin Refleksi Tahun Imam Keuskupan Agung Jakarta, membuat hati saya tergetar. Menjadi seorang imam itu ternyata tidak semudah yang saya lihat. Tinggal di pastoran yang bersih dan rapi, segala keperluan sudah dilengkapi, dan semua umat siap menghormati. Wah! Ternyata seorang imam harus selalu siap untuk melayani, mendampingi, berkolaborasi, menjalani hidup suci, tidak tergoda pada hal duniawi, domba yang hilang harus dicari, siap diomongi, bahkan juga harus siap mati. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi seorang imam. Belum lagi menghadapi umat yang aneka-ragam latar belakang, pandangan, dan keinginannya.
Umat dengan gampang mengajukan kriteria imam ideal. Antara lain: yang mengerti umatnya, yang membaur, yang gampang dihubungi, yang bisa jadi teladan, yang sederhana, yang komunikatif, yang setia pada janji Imamatnya, yang ngemong umat, yang selalu siap melayani, yang tidak galak, yang kotbahnya menggugah, yang memimpin misa-nya tidak bikin ngantuk, yang ramah, yang mudah bergaul, yang rendah hati, yang tidak gila hormat….walah, banyak banget!!! Biasanya umat akan ngedumel kalau ternyata imamnya tidak sesuai dengan gambaran ideal mereka.
Apakah para imam juga pernah melemparkan kriteria umat ideal baginya? Yang aktif, yang gampang diajak kerjasama, yang tidak ngumpet kalau dimintai iuran, yang punya inisiatif, yang kreatif, dll. Tidak! Imam yang datang ke dalam suatu paroki, selalu menerima begitu saja umat yang ada. Dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka. Kekurangan umatnya biasanya akan dijadikan tantangan untuk menemukan format penggembalaan yang lebih tepat. Sedangkan kelebihan umat akan dijadikan sarana untuk semakin memajukan paroki yang dipimpinnya.
Sebagai umat, kitapun perlu menerima imam apa adanya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang terpilih dan terpanggil. Sudah dipersiapkan dengan baik untuk melayani gereja Allah. Menerima kekurangan mereka secara manusiawi dan memberikan kelebihan umat untuk bersama-sama membangun paroki. Mensyukuri kelebihan mereka supaya dengan anugerah itu, kekurangan-kekurangan dalam diri umat dapat diolah untuk menjadi lebih baik. Intinya, tidak ada imam yang ideal. Hanya Yesus imam yang ideal. Tak ada pula umat yang ideal. Jemaat perdana adalah komunitas kristen yang paling ideal. Yang bisa kita lakukan bersama hanyalah meneladan imam dan jemaat ideal itu. Jadi, kerjasama antara gembala dan umatnya lah yang akan mengantar kita pada kondisi yang mendekati ideal. Para imam meneladan Yesus dalam melayani dan umat pun bahu-membahu meneladan jemaat perdana dalam membangun komunitas. Saling melayani. Bekerjasama.
Dalam Novel Pohon-Pohon Sesawi, karya Romo Mangunwijaya, bab Pohon-Pohon Di Pekarangan Paroki, diceritakan bahwa jika paroki itu diandaikan sebuah kebun maka di dalamnya ada pohon kelapa, sawo, sukun, durian, pisang, pepaya, bahkan berbagai jenis bunga. Begitu banyak dan berbeda-beda, namun toh semuanya anggota kebun dan punya kontribusi masing-masing pada si empunya kebun (Yesus). Si tukang kebun (imam) harus menerima dan merawat semuanya dengan baik. Sebab dia dipilih dan dipercaya oleh TUAN-nya. Meskipun si durian berduri, meski si pisang banyak getah, si sawo banyak ulat bulunya, dll. Tak boleh pilih kasih.
Dan para penghuni kebun itu tentunya akan tetap berbuah limpah pada musimnya, tanpa memandang siapa yang jadi tukang kebun kala itu bukan? Yang menjadi alasan bagi para pohon untuk selalu berbuah bukan tukang kebunnya tapi TUAN si empunya kebun. Jadi, dalam sebuah paroki, siapapun imam-nya, seyogyanya tidak jadi soal. Sebab umat berkarya bukan dalam nama imam tapi dalam nama IMAM AGUNG yaitu Yesus sendiri. Bekerjasama, saling melayani, dan saling mendukung antara imam dan umat adalah suatu relasi ideal demi kemajuan suatu paroki. Tentu saja tidak menutup kemungkinan untuk saling mengkritik dan memberi masukan. Selamat Tahun Imam. Tuhan memberkati.
Oleh Rini Giri
Membaca Buletin Refleksi Tahun Imam Keuskupan Agung Jakarta, membuat hati saya tergetar. Menjadi seorang imam itu ternyata tidak semudah yang saya lihat. Tinggal di pastoran yang bersih dan rapi, segala keperluan sudah dilengkapi, dan semua umat siap menghormati. Wah! Ternyata seorang imam harus selalu siap untuk melayani, mendampingi, berkolaborasi, menjalani hidup suci, tidak tergoda pada hal duniawi, domba yang hilang harus dicari, siap diomongi, bahkan juga harus siap mati. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi seorang imam. Belum lagi menghadapi umat yang aneka-ragam latar belakang, pandangan, dan keinginannya.
Umat dengan gampang mengajukan kriteria imam ideal. Antara lain: yang mengerti umatnya, yang membaur, yang gampang dihubungi, yang bisa jadi teladan, yang sederhana, yang komunikatif, yang setia pada janji Imamatnya, yang ngemong umat, yang selalu siap melayani, yang tidak galak, yang kotbahnya menggugah, yang memimpin misa-nya tidak bikin ngantuk, yang ramah, yang mudah bergaul, yang rendah hati, yang tidak gila hormat….walah, banyak banget!!! Biasanya umat akan ngedumel kalau ternyata imamnya tidak sesuai dengan gambaran ideal mereka.
Apakah para imam juga pernah melemparkan kriteria umat ideal baginya? Yang aktif, yang gampang diajak kerjasama, yang tidak ngumpet kalau dimintai iuran, yang punya inisiatif, yang kreatif, dll. Tidak! Imam yang datang ke dalam suatu paroki, selalu menerima begitu saja umat yang ada. Dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka. Kekurangan umatnya biasanya akan dijadikan tantangan untuk menemukan format penggembalaan yang lebih tepat. Sedangkan kelebihan umat akan dijadikan sarana untuk semakin memajukan paroki yang dipimpinnya.
Sebagai umat, kitapun perlu menerima imam apa adanya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang terpilih dan terpanggil. Sudah dipersiapkan dengan baik untuk melayani gereja Allah. Menerima kekurangan mereka secara manusiawi dan memberikan kelebihan umat untuk bersama-sama membangun paroki. Mensyukuri kelebihan mereka supaya dengan anugerah itu, kekurangan-kekurangan dalam diri umat dapat diolah untuk menjadi lebih baik. Intinya, tidak ada imam yang ideal. Hanya Yesus imam yang ideal. Tak ada pula umat yang ideal. Jemaat perdana adalah komunitas kristen yang paling ideal. Yang bisa kita lakukan bersama hanyalah meneladan imam dan jemaat ideal itu. Jadi, kerjasama antara gembala dan umatnya lah yang akan mengantar kita pada kondisi yang mendekati ideal. Para imam meneladan Yesus dalam melayani dan umat pun bahu-membahu meneladan jemaat perdana dalam membangun komunitas. Saling melayani. Bekerjasama.
Dalam Novel Pohon-Pohon Sesawi, karya Romo Mangunwijaya, bab Pohon-Pohon Di Pekarangan Paroki, diceritakan bahwa jika paroki itu diandaikan sebuah kebun maka di dalamnya ada pohon kelapa, sawo, sukun, durian, pisang, pepaya, bahkan berbagai jenis bunga. Begitu banyak dan berbeda-beda, namun toh semuanya anggota kebun dan punya kontribusi masing-masing pada si empunya kebun (Yesus). Si tukang kebun (imam) harus menerima dan merawat semuanya dengan baik. Sebab dia dipilih dan dipercaya oleh TUAN-nya. Meskipun si durian berduri, meski si pisang banyak getah, si sawo banyak ulat bulunya, dll. Tak boleh pilih kasih.
Dan para penghuni kebun itu tentunya akan tetap berbuah limpah pada musimnya, tanpa memandang siapa yang jadi tukang kebun kala itu bukan? Yang menjadi alasan bagi para pohon untuk selalu berbuah bukan tukang kebunnya tapi TUAN si empunya kebun. Jadi, dalam sebuah paroki, siapapun imam-nya, seyogyanya tidak jadi soal. Sebab umat berkarya bukan dalam nama imam tapi dalam nama IMAM AGUNG yaitu Yesus sendiri. Bekerjasama, saling melayani, dan saling mendukung antara imam dan umat adalah suatu relasi ideal demi kemajuan suatu paroki. Tentu saja tidak menutup kemungkinan untuk saling mengkritik dan memberi masukan. Selamat Tahun Imam. Tuhan memberkati.
SEMUA JADI JUARA (Warta Klara, 11 Oktober 2009)
SEMUA JADI JUARA
Oleh Rini Giri
“Hai, kamu nomor undian berapa? Doain aku ya! Kelompokku sebentar lagi maju nih!” Ujar seorang anak pada teman di depannya. “Habis kamu, baru kelompokku. Deg-degan nih. Doain aku juga ya.” Jawab kawan di depannya. Tapi MC segera memberi aba-aba pada hadirin untuk mengucapkan kata “Bayem!” Supaya mulut terkunci dan ruangan menjadi tenang. Acara akan segera dimulai. Pukul 09.00 thet! Obrolan kedua anak beda lingkungan itupun terputus. Tapi toh ada anak lain yang usil dan malah mengucapkan kata ”Kangkung!” atau “Buncis!”sehingga ruangan tak kunjung reda dari gemuruh obrolan setengah berbisik.
Itulah sekelumit perbincangan anak-anak yang sempat terdengar dalam Festival Koor Anak dalam memeriahkan HUT Paroki Santa Klara ke-11. Ada 15 kelompok paduan suara anak yang hadir dalam perhelatan tanggal 27 September 2009, di Gedung Serba Guna Seroja itu. Masing-masing dengan kekhasan-nya sendiri, baik pakaian, suara, maupun geraknya. Semua ingin menampilkan yang terbaik. Nyatanya, kelimabelas kontingen pun menjadi yang terbaik, sebab tak ada pujian dan nyanyian yang cela di hadapan Tuhan. Apalagi jika dilantunkan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Meskipun di akhir acara, juri memberikan banyak koreksi tehnis, tapi kan kesungguhan dan semangat untuk memuliakan Tuhan tak bisa dikoreksi.
Panitia rupanya berhasil menjadikan festival koor ini sebagai ajang pesta, bukan perlombaan yang penuh persaingan. Sukses buat panitia. Apalagi dekorasi balon dan bingkisannya, meski sederhana, cukup mendukung. Terdengar seorang anak berujar,”Wah, gerakan dan kanon kelompok Si Anu kompak banget ya. Latihannya pasti lama tuh.” Temannya nimbrung, ”Kelompok kita cuma latihan empat kali, mana bisa begitu.” Sebuah pujian tulus bagi kelompok lain yang tampil lebih OK dan pengakuan sportif atas kekurangan diri.
Apalagi dalam ajang ini, anak-anak bertemu dengan teman satu sekolah yang kebetulan beda lingkungan. Atau pernah jadi sesama peserta komuni pertama. Sehingga persaingan ketat seperti pada kebanyakan lomba tidak terjadi. Mungkin mereka tahu bahwa peserta lain adalah teman seiman dan segereja, yang sama-sama ingin memuji Tuhan. “Nyanyinya yang sungguh-sungguh, tapi jangan jadi beban ya. Pokoknya kayak kalau tugas koor di gereja itu. Menyanyi untuk Tuhan Yesus. Bagi Yesus, suara nyanyian semua anak bagus kok.” Ujar seorang pembina menyemangati.
Setelah semua peserta menampilkan yang terbaik untuk Yesus, para hadirin dihibur dengan lagu-lagu yang dilantunkan peserta KEP. “Lho, kok ibu-ibu juga ikut lomba, Bu?” tanya seorang anak. Dia mengira ibu-ibu peserta KEP dengan seragam putih dan selendang batik itu juga saingan mereka. Setelah itu, Romo Alex dan Romo Justin juga menyumbang lagu. Romo Dominikus pun hadir dan disambut meriah oleh anak-anak. Menjelang pengumuman hasil lomba, seorang pemuda bernama Doni melantunkan “Status Palsu” dan “Tak Gendong Kemana-mana”. Anak-anak sangat antusias ikut menyanyi. “Wah, ironis sekali. Coba kalau nyanyi lagu pujian sesemangat dan seheboh ini.” Komentar seorang ibu. Itulah tantangan kita, terutama para pembina BIA, untuk membuat lagu-lagu rohani jadi “hit” di telinga dan hati anak-anak. Apalagi Seksi Liturgi sudah menyumbangkan 20 lagu untuk dipelajari.
Sepulang dari acara itu, tak tampak mendung dari wajah anak-anak yang tidak berhasil membawa piala. Bahkan di panggung, saat pengumuman pemenang dan pembagian hadiah, sempat terjadi seorang anak yang kalah menyalami temannya yang menang. Puji Tuhan. Ada 3 pemenang Lomba Baca Kitab Suci BIA, 3 pemenang Lomba Baca Kitab Suci BIR, 1 pemenang Lomba Menulis BIA, 1 pemenang Lomba Menulis BIR, 1 dirijen terbaik, dan 6 kelompok pemenang Festival Koor. Selamat untuk para pemenang.
“Ma, kita sudah kompak banget. Bandana kita saja keren. Pakai kupu-kupu lagi. Barisnya rapi. Suaranya kenceng. Tapi kok nggak dapat piala ya, Ma?” tanya seorang anak, saat acara usai pukul 12.00. “Yang penting kamu dan teman-teman punya pengalaman. Sudah bekerjasama dengan kompak. Ketemu banyak teman dari lingkungan lain. Di mata Tuhan Yesus, semua anak jadi juara kok.” Anak itupun tersenyum. Puji Tuhan. Kami merindukan acara seperti ini lagi.
Oleh Rini Giri
“Hai, kamu nomor undian berapa? Doain aku ya! Kelompokku sebentar lagi maju nih!” Ujar seorang anak pada teman di depannya. “Habis kamu, baru kelompokku. Deg-degan nih. Doain aku juga ya.” Jawab kawan di depannya. Tapi MC segera memberi aba-aba pada hadirin untuk mengucapkan kata “Bayem!” Supaya mulut terkunci dan ruangan menjadi tenang. Acara akan segera dimulai. Pukul 09.00 thet! Obrolan kedua anak beda lingkungan itupun terputus. Tapi toh ada anak lain yang usil dan malah mengucapkan kata ”Kangkung!” atau “Buncis!”sehingga ruangan tak kunjung reda dari gemuruh obrolan setengah berbisik.
Itulah sekelumit perbincangan anak-anak yang sempat terdengar dalam Festival Koor Anak dalam memeriahkan HUT Paroki Santa Klara ke-11. Ada 15 kelompok paduan suara anak yang hadir dalam perhelatan tanggal 27 September 2009, di Gedung Serba Guna Seroja itu. Masing-masing dengan kekhasan-nya sendiri, baik pakaian, suara, maupun geraknya. Semua ingin menampilkan yang terbaik. Nyatanya, kelimabelas kontingen pun menjadi yang terbaik, sebab tak ada pujian dan nyanyian yang cela di hadapan Tuhan. Apalagi jika dilantunkan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Meskipun di akhir acara, juri memberikan banyak koreksi tehnis, tapi kan kesungguhan dan semangat untuk memuliakan Tuhan tak bisa dikoreksi.
Panitia rupanya berhasil menjadikan festival koor ini sebagai ajang pesta, bukan perlombaan yang penuh persaingan. Sukses buat panitia. Apalagi dekorasi balon dan bingkisannya, meski sederhana, cukup mendukung. Terdengar seorang anak berujar,”Wah, gerakan dan kanon kelompok Si Anu kompak banget ya. Latihannya pasti lama tuh.” Temannya nimbrung, ”Kelompok kita cuma latihan empat kali, mana bisa begitu.” Sebuah pujian tulus bagi kelompok lain yang tampil lebih OK dan pengakuan sportif atas kekurangan diri.
Apalagi dalam ajang ini, anak-anak bertemu dengan teman satu sekolah yang kebetulan beda lingkungan. Atau pernah jadi sesama peserta komuni pertama. Sehingga persaingan ketat seperti pada kebanyakan lomba tidak terjadi. Mungkin mereka tahu bahwa peserta lain adalah teman seiman dan segereja, yang sama-sama ingin memuji Tuhan. “Nyanyinya yang sungguh-sungguh, tapi jangan jadi beban ya. Pokoknya kayak kalau tugas koor di gereja itu. Menyanyi untuk Tuhan Yesus. Bagi Yesus, suara nyanyian semua anak bagus kok.” Ujar seorang pembina menyemangati.
Setelah semua peserta menampilkan yang terbaik untuk Yesus, para hadirin dihibur dengan lagu-lagu yang dilantunkan peserta KEP. “Lho, kok ibu-ibu juga ikut lomba, Bu?” tanya seorang anak. Dia mengira ibu-ibu peserta KEP dengan seragam putih dan selendang batik itu juga saingan mereka. Setelah itu, Romo Alex dan Romo Justin juga menyumbang lagu. Romo Dominikus pun hadir dan disambut meriah oleh anak-anak. Menjelang pengumuman hasil lomba, seorang pemuda bernama Doni melantunkan “Status Palsu” dan “Tak Gendong Kemana-mana”. Anak-anak sangat antusias ikut menyanyi. “Wah, ironis sekali. Coba kalau nyanyi lagu pujian sesemangat dan seheboh ini.” Komentar seorang ibu. Itulah tantangan kita, terutama para pembina BIA, untuk membuat lagu-lagu rohani jadi “hit” di telinga dan hati anak-anak. Apalagi Seksi Liturgi sudah menyumbangkan 20 lagu untuk dipelajari.
Sepulang dari acara itu, tak tampak mendung dari wajah anak-anak yang tidak berhasil membawa piala. Bahkan di panggung, saat pengumuman pemenang dan pembagian hadiah, sempat terjadi seorang anak yang kalah menyalami temannya yang menang. Puji Tuhan. Ada 3 pemenang Lomba Baca Kitab Suci BIA, 3 pemenang Lomba Baca Kitab Suci BIR, 1 pemenang Lomba Menulis BIA, 1 pemenang Lomba Menulis BIR, 1 dirijen terbaik, dan 6 kelompok pemenang Festival Koor. Selamat untuk para pemenang.
“Ma, kita sudah kompak banget. Bandana kita saja keren. Pakai kupu-kupu lagi. Barisnya rapi. Suaranya kenceng. Tapi kok nggak dapat piala ya, Ma?” tanya seorang anak, saat acara usai pukul 12.00. “Yang penting kamu dan teman-teman punya pengalaman. Sudah bekerjasama dengan kompak. Ketemu banyak teman dari lingkungan lain. Di mata Tuhan Yesus, semua anak jadi juara kok.” Anak itupun tersenyum. Puji Tuhan. Kami merindukan acara seperti ini lagi.
Senin, 14 September 2009
MENCINTAI SABDA-NYA SEJAK KECIL (Warta Klara 13 Sept 2009)
MENCINTAI SABDA-NYA SEJAK KECIL
Oleh Rini Giri
Ayah dan Ibu saya dulu bukan Katolik. Suatu berkah istimewa jika akhirnya mereka menikah di Gereja Katolik. Tapi, kekatolikan yang diturunkan pada saya sangat minim. Bahkan saya baru mulai sering mendengar sabda Tuhan setelah SMA dan kuliah, dari para pembimbing retret. Dan setelah dewasa, barulah saya tergerak untuk lebih banyak belajar. Seperti rusa di padang tandus yang rindu akan air.
Mengenal dan mencintai sabda-Nya sangat penting. Sebab sabda Tuhan adalah kebenaran dan hidup. Pegangan kita. Maka saya sebagai seorang ibu, tidak ingin anak-anak saya memiliki nasib serupa dengan saya. Menjadi Katolik sejak lahir bahkan dibabtis ketika umur baru beberapa bulan, namun malang, hanya sedikit sabda Tuhan yang sampai ke telinga saya.
“Ibu, tadi di sekolah, Bu Guru Agama nanyain : Nabi Musa waktu bayi dibuang ke sungai mana? Nggak ada satupun temanku yang tau! Lalu aku bilang : Sungai Nil. Bu Guru nanya : kok kamu tau? Lalu aku bilang : kan Ibu saya udah ceritain ke saya.” Tutur anakku saat kelas 1 SD. Puji Tuhan. Saya memang menceritakan tokoh-tokoh Alkitab sebelum mereka tidur.
Ketika anak saya batita, di bawah tiga tahun, saya hanya memperlihatkan gambar-gambar sambil menceritakan sedikit intinya dengan kata-kata sendiri. Lalu mereka jadi mengenal tokoh hanya dengan melihat gambar. Kalau melihat orang dengan kapal besar dan banyak binatang, mereka jadi tahu,”Itu Nabi Nuh!”
Ketia anak saya balita, saat TK, saya mulai memperkenalkan tokoh dan peristiwa. Masih menggunakan gambar namun disertai narasi singkat dengan kata-kata yang mudah dipahami anak. Mereka mulai tahu, gambar malaikat dan gadis itu adalah Malaikat Gabriel dan Maria. Maria menerima kabar gembira dari Allah yang disampaikan Malaikat Gabriel. Dia akan mengandung dan melahirkan Yesus.
Ketika anak saya mulai masuk SD, sayapun mulai bertanya, “Dari tokoh Alkitab itu, apa yang bisa kita contoh, atau apa yang tidak boleh kita tiru?” Alkitab menguak kebenaran dan tidak menutupi kesalahan. Sangat jujur dan berimbang. Misalnya tentang Kain dan Habel. Yang layak ditiru adalah ketulusan Habel dalam memberikan persembahan pada Tuhan. Yang tidak boleh ditiru adalah sifat iri Kain pada adiknya.
Ketika anak saya mulai lancar membaca dan bisa paham apa yang dibaca, diapun membaca buku Alkitab untuk anak-anak. Kadang dia dengan bangga mengatakan,”Bu, aku udah sampai di Zakeus!” Lalu kamipun menggosipkan Zakeus. Misalnya, “Kok Zakeus mau ya memberikan hartanya buat orang miskin?” Anak sayapun nyeletuk,”Kan udah tobat.” O, iya, ya. Lalu lagu Zakeus Orang Pendek pun kami dendangkan. Lagu ini memudahkannya untuk mengenang peristiwa Zakeus.
Ketika anak saya makin besar, diapun mulai berkenalan dengan Alkitab yang diterjemahkan langsung dari aslinya. Alkitab dengan tanda panduan untuk tiap kitab adalah pilihan saya. Sehingga mudah mencari posisi suatu kitab. Anak sayapun mulai belajar cara membuka Alkitab. Misalnya mencari Injil Matius 5: 13-16. “Cari tanda MAT, buka, setelah itu temukan angka besar 5, baru kemudian angka kecil 13 sampaidengan 16.” Setelah ketemu, saya akan bertanya,”Apa judulnya?” Diapun menjawab,”Garam dunia dan terang dunia.” Hebat! Puji saya.
Lomba baca Alkitab BIA dan BIR, yang diadakan di Kapel Asri tanggal 6 dan 13 September 2009, oleh ibu-ibu WP, dalam rangka HUT Klara ke-11, juga bisa menambah rasa cinta anak-anak pada Sabda Tuhan. Merekapun punya pengalaman tampil di depan umat. Apalagi setelah selesai, ada tambahan dari Dewan Juri (Pak Ernest Maryanto) tentang tips menjadi lektor yang baik. Anak saya jadi ketagihan. “Adain lomba baca Alkitab di lingkungan dong, Bu.” Puji Tuhan.
Oleh Rini Giri
Ayah dan Ibu saya dulu bukan Katolik. Suatu berkah istimewa jika akhirnya mereka menikah di Gereja Katolik. Tapi, kekatolikan yang diturunkan pada saya sangat minim. Bahkan saya baru mulai sering mendengar sabda Tuhan setelah SMA dan kuliah, dari para pembimbing retret. Dan setelah dewasa, barulah saya tergerak untuk lebih banyak belajar. Seperti rusa di padang tandus yang rindu akan air.
Mengenal dan mencintai sabda-Nya sangat penting. Sebab sabda Tuhan adalah kebenaran dan hidup. Pegangan kita. Maka saya sebagai seorang ibu, tidak ingin anak-anak saya memiliki nasib serupa dengan saya. Menjadi Katolik sejak lahir bahkan dibabtis ketika umur baru beberapa bulan, namun malang, hanya sedikit sabda Tuhan yang sampai ke telinga saya.
“Ibu, tadi di sekolah, Bu Guru Agama nanyain : Nabi Musa waktu bayi dibuang ke sungai mana? Nggak ada satupun temanku yang tau! Lalu aku bilang : Sungai Nil. Bu Guru nanya : kok kamu tau? Lalu aku bilang : kan Ibu saya udah ceritain ke saya.” Tutur anakku saat kelas 1 SD. Puji Tuhan. Saya memang menceritakan tokoh-tokoh Alkitab sebelum mereka tidur.
Ketika anak saya batita, di bawah tiga tahun, saya hanya memperlihatkan gambar-gambar sambil menceritakan sedikit intinya dengan kata-kata sendiri. Lalu mereka jadi mengenal tokoh hanya dengan melihat gambar. Kalau melihat orang dengan kapal besar dan banyak binatang, mereka jadi tahu,”Itu Nabi Nuh!”
Ketia anak saya balita, saat TK, saya mulai memperkenalkan tokoh dan peristiwa. Masih menggunakan gambar namun disertai narasi singkat dengan kata-kata yang mudah dipahami anak. Mereka mulai tahu, gambar malaikat dan gadis itu adalah Malaikat Gabriel dan Maria. Maria menerima kabar gembira dari Allah yang disampaikan Malaikat Gabriel. Dia akan mengandung dan melahirkan Yesus.
Ketika anak saya mulai masuk SD, sayapun mulai bertanya, “Dari tokoh Alkitab itu, apa yang bisa kita contoh, atau apa yang tidak boleh kita tiru?” Alkitab menguak kebenaran dan tidak menutupi kesalahan. Sangat jujur dan berimbang. Misalnya tentang Kain dan Habel. Yang layak ditiru adalah ketulusan Habel dalam memberikan persembahan pada Tuhan. Yang tidak boleh ditiru adalah sifat iri Kain pada adiknya.
Ketika anak saya mulai lancar membaca dan bisa paham apa yang dibaca, diapun membaca buku Alkitab untuk anak-anak. Kadang dia dengan bangga mengatakan,”Bu, aku udah sampai di Zakeus!” Lalu kamipun menggosipkan Zakeus. Misalnya, “Kok Zakeus mau ya memberikan hartanya buat orang miskin?” Anak sayapun nyeletuk,”Kan udah tobat.” O, iya, ya. Lalu lagu Zakeus Orang Pendek pun kami dendangkan. Lagu ini memudahkannya untuk mengenang peristiwa Zakeus.
Ketika anak saya makin besar, diapun mulai berkenalan dengan Alkitab yang diterjemahkan langsung dari aslinya. Alkitab dengan tanda panduan untuk tiap kitab adalah pilihan saya. Sehingga mudah mencari posisi suatu kitab. Anak sayapun mulai belajar cara membuka Alkitab. Misalnya mencari Injil Matius 5: 13-16. “Cari tanda MAT, buka, setelah itu temukan angka besar 5, baru kemudian angka kecil 13 sampaidengan 16.” Setelah ketemu, saya akan bertanya,”Apa judulnya?” Diapun menjawab,”Garam dunia dan terang dunia.” Hebat! Puji saya.
Lomba baca Alkitab BIA dan BIR, yang diadakan di Kapel Asri tanggal 6 dan 13 September 2009, oleh ibu-ibu WP, dalam rangka HUT Klara ke-11, juga bisa menambah rasa cinta anak-anak pada Sabda Tuhan. Merekapun punya pengalaman tampil di depan umat. Apalagi setelah selesai, ada tambahan dari Dewan Juri (Pak Ernest Maryanto) tentang tips menjadi lektor yang baik. Anak saya jadi ketagihan. “Adain lomba baca Alkitab di lingkungan dong, Bu.” Puji Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)
