<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205</id><updated>2011-08-02T05:37:28.679-07:00</updated><title type='text'>SHARING RINI GIRI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-2743120383911429490</id><published>2010-11-04T06:53:00.000-07:00</published><updated>2010-11-04T06:54:58.239-07:00</updated><title type='text'>Surat dari Sr Benedicte CB untukku, keluargaku dan SURAT CINTA BUAT GEMBALA</title><content type='html'>Yogyakarta, 29 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rini dan Mas Giri yang baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak terimakasih atas SURAT CINTA buat GEMBALA.&lt;br /&gt;Maafkan aku, bahwa baru sekarang menulis padamu. Keterbatasan&lt;br /&gt;“melihat/membaca” membuatku mampu membaca 1 tulisan setiap hari.&lt;br /&gt;Setelah membaca lebih dari separuh buku ini, ternyata ada&lt;br /&gt;3 TULISANMU.&lt;br /&gt;                                    ROMO MANGUN KAU CINTAKU&lt;br /&gt;                                    ROMO PERTAMA DALAM KENANGAN&lt;br /&gt;                                    MENERIMA IMAM APA ADANYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga tulisanmu, bukan saja bafus, tetapi juga “DALAM”,&lt;br /&gt;Rin, kamu memang dianugerahi Tuhan dengan banyak talenta.&lt;br /&gt;Aku juga yakin, bahwa anak-anak kalian dianugerahi Tuhan de-&lt;br /&gt;ngan banyak talenta, yang diterima mereka leawt kamu dan lewat&lt;br /&gt;Mas Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih sewaktu membaca ROMO PERTAMA DALAM KENANGAN, ter-&lt;br /&gt;bayang dan teringat Rini. Kini aku semakin mengenal Rini.&lt;br /&gt;Teringat juga Mas Giri yang dengan setia, jujur, sabar dan sopan&lt;br /&gt;Menunggumu di parkitran setiap kali mau menjemputmu. Teringat&lt;br /&gt;Juga, waktu aku mendapat kesempatan hadir dalam perayaan Eka-&lt;br /&gt;risti dan dalam penerimaan Sakramen Pernikahan kalian di Bo-&lt;br /&gt;yolali. Benar, letak Gereja dan rumah kalian tinggi sekali.&lt;br /&gt;Rini dan Mas Giri, aku senang, keluarga kalian adalah keluarga&lt;br /&gt;yang bahagia. Semoga keluarga kalian boleh menjadi saluran&lt;br /&gt;berkat Tuhan untuk lingkungan dimana kalian tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didiklah anak-anak dengan baik. Semoga mereka tumbuh dan berkem-&lt;br /&gt;bang seperti bapak=ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                Banyak salam untuk kalian sekeluarga dan&lt;br /&gt;                                                berkat Tuhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                        (tanda tangan Sr. Benedicte, CB)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-2743120383911429490?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/2743120383911429490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/11/surat-dari-sr-benedicte-cb-untukku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2743120383911429490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2743120383911429490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/11/surat-dari-sr-benedicte-cb-untukku.html' title='Surat dari Sr Benedicte CB untukku, keluargaku dan SURAT CINTA BUAT GEMBALA'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-297678771469007020</id><published>2010-11-02T19:11:00.000-07:00</published><updated>2010-11-02T19:12:43.333-07:00</updated><title type='text'>Naskah Drama Natal (Kisah Kelahiran Yesus)</title><content type='html'>NASKAH DRAMA NATAL&lt;br /&gt;ANTONIUS TIGA 2008&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;Yang akan dieksekusi oleh Tim Pembina BIA Antonius 3 Santa Klara Bekasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN I&lt;br /&gt;Narator 1 :&lt;br /&gt;Inilah kisah kelahiran Yesus Kristus menurut Injil. (Maria naik ke panggung dan duduk berlutut di tengah, tangannya mengatup)&lt;br /&gt;Kala itu bangsa Yahudi sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Orang-orang Yahudi percaya bahwa Allah akan memberikan seorang penolong yang disebut Mesias. Mesias inilah yang nantinya akan membebaskan mereka dari penjajahan. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa Mesias itu akan lahir dari seorang gadis sederhana bernama Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Malaikat Gabriel  naik panggung, mengitari Maria sekali, lalu berdiri di samping maria seolah bicara padanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 2 :&lt;br /&gt;Pada bulan yang keenam, Maria dikunjungi oleh seorang malaikat bernama Gabriel. Kata Gabriel, “Salam untukmu, Maria.” Maria sangat terkejut dan takut. “Jangan takut, Maria,” kata Gabriel. “Ketahuilah, Allah telah memilihmu. Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Hendaklah engkau menamai dia Yesus. Dialah yang akan menjadi Mesias.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 1 :&lt;br /&gt;Maria bingung karena ia belum menikah. Bagaimana mungkin orang yang belum menikah akan melahirkan anak? Tetapi Maria sangat percaya kepada Allah. Maka ia menjawab,”Kalau Allah menghendakinya, aku bersedia.” Setelah itu malaikat Gabriel pun pergi. (Gabriel pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin lagu :&lt;br /&gt;Marilah kita nyanyikan lagu Dengarkanlah Maria Puji Syukur 632&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah Maria, terima salamku&lt;br /&gt;Dengan pujian syukur serta nyanyianku&lt;br /&gt;Terpilihlah engkau&lt;br /&gt;Terpanggilah engkau&lt;br /&gt;Menjadi bunda Yesus, Sang juru slamatku (maria turun panggung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN II&lt;br /&gt;Narator 2 : (Yusuf naik panggung dengan cara jalan yang santun, berdiri di tengah)&lt;br /&gt;Di kota Nazaret ada seorang tukang kayu bernama Yusuf. Ia berasal dari keturunan Raja Daud. Yusuf seorang laki-laki yang jujur, baik, dan tulus hatinya. Ia mencintai Maria dan Mariapun mencintainya. Namun, pada suatu ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria mengandung. Yusuf menjadi ragu-ragu dan bimbang. (Yusuf lalu tidur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 1 : (Gabriel datang mengelilingi Yusuf sekali lalu berdiri di samping Yusuf seolah bicara padanya)&lt;br /&gt;Pada suatu malam, ketika sedang tidur, Yusuf bermimpi didatangi seorang malaikat. Dalam mimpi itu sang malaikat berkata,”Yusuf, janganlah kamu ragu-ragu dan bimbang. Ambilah Maria sebagai istrimu. Ia sedang mengandung atas kehendak Allah. Ia akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Berilah dia nama Yesus. Ia akan menyelamatkan manusia dari dosa.” (Malaikat pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 2 :&lt;br /&gt;Setelah itu, Yusuf tidak ragu-ragu lagi. Ia segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah melalui malaikat-Nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin lagu :&lt;br /&gt;Marilah kita nyanyikan lagu Santo Yusuf Yang Menjaga Puji Syukur 644&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Yusuf yang menjaga keluarga Nazaret&lt;br /&gt;Kau menjaga bunda kudus, juga Yesus penebus (Yusuf turun panggung)&lt;br /&gt;Sudilah doakan kami pada Yesus, anakmu&lt;br /&gt;Dan lindungilah selalu kami sekeluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN III&lt;br /&gt;Narator 1 :  (Yusuf dan maria naik panggung berjalan keliling 2 kali)&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Yusuf  membawa Maria pergi ke Betlehem. Sebab Kaisar Agustus penguasa kerajaan Romawi mengadakan sensus penduduk. Ia memerintahkan orang Yahudi mendaftarkan diri di kota asal masing-masing. Yusuf berasal dari Betlehem, maka ia harus kembali ke kota itu bersama istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 2 :  (Yusuf dan maria duduk berlutut, di tengah panggung ada palungan dan bayi Yesus)&lt;br /&gt;Sesampai di Betlehem, Maria akan melahirkan. Yusuf segera mencari tempat untuk menginap. Sayang sekali, tidak ada tempat penginapan bagi Yusuf dan Maria. Untunglah ada seseorang yang menawarkan tempat pada mereka. Namun, tempat itu bukan sebuah kamar melainkan sebuah kandang ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 1 : (maria mengambil bayi Yesus dan menggendongnya)&lt;br /&gt;Malam itu, terdengar jeritan tangis seorang bayi. Maria telah melahirkan. Betapa gembiranya Yusuf dan Maria menyambut anak mereka. Yusufpun memberi bayi itu sebuah nama yang bagus, yaitu Yesus. Ya, Yesus telah lahir. Tubuhnya yang mungil dibalut kain lampin dan diletakkan di palungan supaya tetap hangat. Malam itu adalah malam kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin lagu:&lt;br /&gt;Marilah kita nyanyikan lagu  Malam Kudus Puji Syukur 452&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kudus, sunyi senyap&lt;br /&gt;Dunia terlelap&lt;br /&gt;Hanya dua berjaga terus&lt;br /&gt;Ayah bunda mesra dan kudus (Yusuf dan Maria turun)&lt;br /&gt;Anak tidur tenang&lt;br /&gt;Anak tidur tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN IV&lt;br /&gt;Narator 2 : (Para gembala naik panggung berjalan keliling satu kali lalu duduk) Di tengah kegelapan malam ada sekelompok gembala di padag. Mereka menjaga kawanan domba agar tidak dicuri orang. (Gabriel naik bersama bala tentara surga) Ketika malam kian larut, seorang malaikat berdiri di tengah-tengah mereka. Para gembala itupun ketakutan. Kata malaikat itu,”Jangan takut, hai gembala! Ada berita gembira. Sang penyelamat dunia telah lahir malam ini. Carilah dan temui Dia yang terbungkus kain lampin dalam sebuah palungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 1 :&lt;br /&gt;Setelah itu tampaklah sepasukan malaikat  menyanyikan    puji-pujian bagi Allah,”Kemuliaan bagi Allah di surga, Damai bagi orang yang berkenan kepada-Nya.” Nyanyian mereka terdengar sangat indah dan merdu. Para gembala takjub. Mereka berlutut dan memuji Allah. Lalu mereka segera berangkat menuju Betlehem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin lagu:&lt;br /&gt;Marilah kita nyanyikan lagu Hai Dengarkan kau Gembala Puji Syukur 454&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai dengarkan kau gembala, kabar indah bagimu&lt;br /&gt;Datanglah menuju gua dan menghadap Tuhanmu (Gembala dan Gabriel turun)&lt;br /&gt;Damai, damai, damailah senantiasa&lt;br /&gt;Bagi umat pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN V&lt;br /&gt;Narator 2 : (Keluarga Kudus naik ke tengah panggung berlutut, gembala datang mengelilingi satu kali lalu duduk bersimpuh dekat keluarga kudus memberi hormat)&lt;br /&gt;Sampailah para gembala  di kandang yang berbentuk gua. Di sana mereka melihat bayi mungil sedang tidur lelap di palungan. Itu adalah bayi Yesus. Di samping-Nya ada kedua orang tuanya. Para gembala itu segera berdoa dan mengucap syukur kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 1: (gabriel membawa bintang besar diikuti bala tentara surga naik panggung, kelilingi keluarga kudus dan gembala sekali lalu berdiri di belakang keluarga kudus)&lt;br /&gt;Pada waktu Yesus lahir, ada sebuah bintang yang bersinar terang. Cahaya bintang itu sampai ke Persia yang letaknya jauh di sebelah timur Betlehem. (Tiga majus naik ke panggung mengelilingi yang ada di panggung sekali lalu berlutut menyembah bayi Yesus di sebelah kanan keluarga kudus dan menyampaikan persembahan) Tiga orang sarjana yang pandai dan bijaksana melihat bintang itu. Mereka adalah orang-orang majus. Pergilah mereka mengikuti arah bintang itu sebab mereka percaya bahwa bintang itu merupakan tanda kelahiran seorang raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 2 :&lt;br /&gt;Setelah menemui Raja Herodes yang berkuasa atas bangsa Israel di Yesrusalem, mereka pergi ke Betlehem mengikuti arah bintang itu. Waktu itu Herodes ingin sekali membunuh bayi Yesus. Dia takut Yesus akan menjadi raja bangsa Yahudi yang dapat meruntuhkan kekuasaannya. Tapi Allah selalu melindungi bayi Yesus sehingga luput dari niat jahat Herodes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 1 :&lt;br /&gt;Di Betlehem, ketiga orang majus itu bertemu bayi Yesus. Sambil berlutut, mereka mempersembahkan hadiah untuk bayi Yesus. Orang pertama memberikan emas yang indah. Yang kedua memberikan wewangian. Dan yang ketiga memberikan dupa yang harum. Mereka sangat bahagia karena bias berjumpa dengan bayi Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin lagu :&lt;br /&gt;Marilah kita menyanyikan lagu Gita Surga Bergema Puji Syukur 457&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gita Surga bergema, Lahir Raja mulia&lt;br /&gt;Damai dan sejahtera, Turun dalam dunia&lt;br /&gt;Bangsa-bangsa bangkitlah&lt;br /&gt;Permaklumkan segera&lt;br /&gt;Kabar baik cemerlang&lt;br /&gt;Lahir Kristus sang terang&lt;br /&gt;Gita Surga bergema&lt;br /&gt;Lahir Raja mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narator 2 :&lt;br /&gt;Demikianlah Kisah Kelahiran Yesus Kristus yang telah dipersembahkan anak-anak Antonius Tiga. Semoga damai dan terang natal selalu bersama kita semua. Terimakasih. (Semua pemain berdiri, hormat pada penonton)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;1. Disusun oleh Rini Giri dan dilatihkan oleh Tim Sekolah Minggu Antonius 3&lt;br /&gt;   bersumber dari Alkitab Untuk Anak-anak terbitan kanisius.&lt;br /&gt;2. Akan dimainkan anak-anak BIA Antonius 3 pada perayaan natal lingkungan 9&lt;br /&gt;    Januari 2010.&lt;br /&gt;3. Penyanyi dalam paduan suara adalah umat&lt;br /&gt;4. Pemain : narator 2 orang, pemimpin lagu 1 orang, Maria, Yusuf, malaikat&lt;br /&gt;    Gabriel, bala tentara surga 5-10 anak, gembala 4 anak, orang majus 3 anak&lt;br /&gt;5. Boleh dipakai untuk naskah pementasan drama di lingkungan manapun. Boleh&lt;br /&gt;    digunakan untuk tujuan pewartaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai dalam kasih Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rini Giri dan Tim Pembiana BIA Antonius 3 Santa Klara Bekasi Utara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-297678771469007020?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/297678771469007020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/11/naskah-drama-natal-kisah-kelahiran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/297678771469007020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/297678771469007020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/11/naskah-drama-natal-kisah-kelahiran.html' title='Naskah Drama Natal (Kisah Kelahiran Yesus)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-5369290259577494855</id><published>2010-10-14T19:43:00.000-07:00</published><updated>2010-10-14T19:44:24.292-07:00</updated><title type='text'>RESENSI BUKU SURAT CINTA BUAT GEMBALA di Majalah HIDUP 3 Okt 2010</title><content type='html'>Category: Books&lt;br /&gt;Genre: Religion &amp;amp; Spirituality&lt;br /&gt;Author: POLAR&lt;br /&gt;Menjadi imam berarti siap menjadi publik figur. Figur yang segala tutur kata dan polah tingkahnya menjadi perhatian umat yang digembalakannya. Menjadi imam juga harus siap mendapat pujian, tapi juga harus siap menerima kritikan, celaan, bahkan caci maki dari para dombanya. Jika imam membuat prestasi, ia akan disanjung. Tapi,bila imam dekat dengan seorang perempuan, gosip-gosip miring pun mengikutinya. Kadang kata-kata dan perbuatan seorang imam membuat sejuk di hati. Namun tak jarang, kata-kata dan perbuatan seorang imam justru membuat marah domba-dombanya. Ini sangat manusiawi, karena imam juga manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Buku Surat Cinta Buat Gembala ini mengungkapkan beragam pengalaman penulis dengan imamnya. Tak hanya pengalaman dalam pelayanan pastoral, tapi juga pengalaman jatuh cinta pada sosok imam. Ada bangga, suka, kagum, cinta, marah, dan jengkel saat berelasi dengan imam. Ini pengalaman nyata dan sangat manusiawi. Aneka kisah itu pun diungkapkan dengan beragam cara, disajikan dengan berbagai rasa, dan menjelma dalam tulisan-tulisan di buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Buku bersampul kotak surat ini memuat 22 pengalaman berelasi dengan sosok imam. Buku ini ditulis oleh POLAR yang merupakan singkatan dari nama-nama penulisnya. Lantaran ditulis oleh beberapa orang, buku ini menyajikan beragam gaya tulisan sesuai dengan karakter penulisnya. Buku ini juga memuat dua lagu dan doa dari domba untuk para gembala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Uskup Bandung Mgr Johannes Pujasumarta Pr, memberikan kata pengantar buku ini&lt;br /&gt; "... para imam telah dikuduskan bagi Allah, namun tetap manusia juga dengan segala kelemahan dan kekurangannya," tulis Mgr Pujasumarta. Menurutnya, buku ini dapat menjadi bahan permenungan mengenai Kristus yang diimani, dihayati, dan Gereja yang dicintai. "Surat cinta ini kita tulis untuk memncintai para imam, gembala-gembala yang diberikan oleh Allah kepada umat-Nya. Surat cinta ini juga membuka hati kita untuk berdoa bagi para imam," lanjut Mgr Pujasumarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kisah gembala dan domba memang tak pernah habis. Tentu masih banyak kisah dan pengalaman yang belum dituliis. Tapi, buku ini telah mengundang kita untuk selalu mendoakan para gembala agar tetap setia pada jalan panggilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Resensi buku "Surat Cinta buat Gembala" yang ditulis Y. Prayogo ini dapat dijumpai di Majalah HIDUP edisi terbaru&lt;br /&gt; yang terbit pada tanggal 3 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tags: gembala, polar&lt;br /&gt;Prev: Surat Cinta Buat Gembala (R1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-5369290259577494855?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/5369290259577494855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/10/resensi-buku-surat-cinta-buat-gembala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/5369290259577494855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/5369290259577494855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/10/resensi-buku-surat-cinta-buat-gembala.html' title='RESENSI BUKU SURAT CINTA BUAT GEMBALA di Majalah HIDUP 3 Okt 2010'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-8841632590924095352</id><published>2010-09-15T11:06:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T11:07:54.246-07:00</updated><title type='text'>APAKAH YESUS GEMBALA YANG LEBAI?</title><content type='html'>YESUS GEMBALA YANG LEBAI?&lt;br /&gt;Oleh ini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Apa tidak berlebihan jika satu domba kecil saja hilang, lantas sang gembala akan meninggalkan sembilanpuluh sembilan lainnya untuk mencari yang satu dan tak berguna itu? Sungguh kurang kerjaan si gembala ini.&lt;br /&gt;Bukankah seharusnya dia tak perlu menempuh bahaya naik turun bukit dan jurang hanya untuk menemukan seekor domba yang lemah? Kalau dia domba yang kuat, sehat dan lincah, pastilah tidak akan tertinggal oleh kawanannya sampai-sampai tersesat.&lt;br /&gt;Domba yang tersesat pastilah domba yang bandel dan kurang mau mendengar baik aba-aba dari sang gembala maupun embikan domba-domba lainnya. Pasti dia sangat nakal dan badung, sampai-sampai dia nekat menjauh terlalu lama dari kawanan sampai-sampai tidak tahu kalau kawanannya sudah lama berlalu dari tempat semula mereka berkumpul. Sungguh keterlaluan domba semacam itu! Buat apa dicari? Apa untungnya?&lt;br /&gt;Bukankah sebaiknya sang gembala tetap saja tinggal di kandang menunggui domba-domba lain yang jauh lebih loyal padanya? Domba-domba ini toh kelak juga akan beranak pinak dan jumlahnya bisa lebih banyak lagi dari semula. Sehingga domba kecil yang hilang itu sudah tak ada artinya lagi! Lupakan saja! Dia pantas dilupakan karena ulahnya sendiri.&lt;br /&gt;Tapi nyatanya si gembala lebih memilih mengambil resiko untuk meninggalkan kawanan untuk menemukan kembali domba yang hilang itu. Dia tahu konsekuensi bakal dipecat dari pekerjaannya karena telah lalai meninggalkan sejumlah besar domba yang mahal harganya itu.&lt;br /&gt;Dia tahu bakalan kena marah majikan karena telah membahayakan kumpulan domba yang siap dipanen bulu, susu, daging, dan kulitnya itu. Bukankah pencuri bisa saja masuk ke kandang dan melarikan domba-domba itu ketika tanpa ada penjagaan? Bener-bener sudah nggak nalar si gembala ini. Dia bisa kehilangan mata pencaharian dan nafkahnya hanya demi mencari seekor domba kecil yang nggak jelas!&lt;br /&gt;Tapi rupanya si gembala sudah punya perhitungan tersendiri. Sembilan puluh sembilan domba yang ditinggalkannya di kandang itu adalah domba-domba pilihan yang setia. Mereka tahu membedakan mana suara gembala dan mana suara orang lain, sehingga tak mungkin domba-domba itu menurut saja ketika akan digiring pencuri. Gembala juga sudah memastikan bahwa pintu kandang terkunci rapat ketika dia pergi. Hanya melalui dia sajalah domba-domba itu bisa keluar masuk. Jadi, menurut perhitungannya kondisi kandang seratus persen aman.&lt;br /&gt;Maka diapun akan menempuh perjalanan yang tidak mudah untuk mencari si domba yang tersesat. Naik turun bukit dan lembah pun akan dia lakukan asalkan dombanya bisa ditemukan kembali. Semua celah bukit diperiksa, semua lekuk jurang diintai, semua lobang goa digeledah, dan semua semak belukar disibakkan. Demi si domba kecil. Dengan sekuat tenaga dia berteriak memanggil si domba karena dia berharap domba itu masih mengenali suaranya.&lt;br /&gt;Ketika didengarnya suara embikan lemah seekor domba, diapun buru-buru berlari menuju sumber suara. Mengangkat domba kecil itu, mengelusnya dengan kasih, dan dengan sukacita memanggulnya untuk dibawa pulang. Betapa girang hati sang gembala. Ternyata dombanya bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Coba kalau dia terlambat, bukankah harimau dan serigala selalu siap memangsanya?&lt;br /&gt;Terkadang ajaran Yesus tentang domba yang hilang ini memang tampak berlebihan. Tapi memang itulah yang dikehendaki-Nya. Untuk apa terus mengelus-elus orang-orang yang sehat jasmani dan rohani serta sudah memiliki kematangan iman? Bukankah yang butuh obat itu orang sakit bukan orang sehat? Mereka yang terlupakan dan jauh dari persekutan lah yang Dia ingin kita dekati dan ajak untuk kembali pada-Nya.&lt;br /&gt;Apriori selalu terselip di hati, domba hilang itu kan tersesat karena ulahnya sendiri, karena kemalasannya sendiri, karena kelakuannya sendiri. Jadi ya harus tanggung resiko sendiri. Tapi rupanya Yesus tidak menginginkah hal seperti itu menjangkiti pengikut-Nya. Dia justru ingin umat-Nya mau merendahkan hati untuk menggandeng mereka yang selama ini menjauh dari komunitas kudus karena berbagai alasan. Yesus tak ingin umat-Nya selalu diselipi apriori dan sikap menghakimi orang lain. Yesus ingin umat-Nya menjadi gembala yang baik, yang mau mengorbankan kepentingan dirinya demi menemukan kembali saudaranya yang hilang. Sebab Dia bersabda bahwa seluruh isi surga akan bersukacita ketika satu saja umat-Nya di dunia ini mau bertobat.&lt;br /&gt;Sudahkah aku mau merangkul saudaraku yang menjauh? Sudahkah aku bersedia menggandeng kembali saudaraku yang tersisihkan? Sudahkah aku mau menerima kembali saudaraku yang meminta maaf dan ingin bertobat? Sungguh, ajaran Yesus terdengar amat lebai dan sangat berat untuk diterapkan. Ajaran-Nya memang berat, namun hanya dengan merendahkan hati kita sedikit saja, maka ajaran itu akan terasa ringan untuk dilakoni. Dan dunia pun menjadi indah bersama-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis dalam sebuah permenungan pribadi,&lt;br /&gt;Dikembangkan dari kotbah Romo Justinus OFM Cap.&lt;br /&gt;Pada Minggu sore 18.00, 15 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dan doa, Rini Giri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-8841632590924095352?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/8841632590924095352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/09/apakah-yesus-gembala-yang-lebai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8841632590924095352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8841632590924095352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/09/apakah-yesus-gembala-yang-lebai.html' title='APAKAH YESUS GEMBALA YANG LEBAI?'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-6669724809075754755</id><published>2010-09-05T09:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T09:36:12.033-07:00</updated><title type='text'>MASIH JADI SINGLE FIGHTER? (pernah ada di Warta Klara)</title><content type='html'>MASIH JADI SINGLE FIGHTER?Oleh Rini Giri/ Antonius 3Sudah membaca SANDAL JEPIT GEREJA karya Anang YB, yang pernah dibuatkan resensi oleh saudara Panjikristo dan dimuat di Warta Klara beberapa minggu lalu? Saya sudah. Sangat terasa, saya menemukan teman seperjalanan setelah membacanya. Kebetulan suami saya juga ketua lingkungan. Seorang Anang YB yang masih sangat muda, siap melabeli diri sebagai sandal jepit kala menjabat sebagai ketua lingkungan di Paroki Arnoldus Bekasi..Menjadi ketua, dimanapun, bukankah harus menjadi yang paling siap untuk diinjak, agar yang lain tetap bisa berjalan. Begitu kira-kira pelajaran yang saya petik dari buku yang sangat laris itu. Tepat seperti ajaran Yesus. Yang terbesar adalah yang melayani. “Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu membesarkan orang-orang yang dipimpinnya!” Tulis Anang YB di akhir buku. Jadi bukan yang malah jadi besar sendirian diantara yang dipimpinnya ya?Ini mengingatkan saya pada dua peristiwa. Sejak dulu saya memang paling senang jadi seksi acara dalam suatu pagelaran atau perayaan. Meskipun baru di lingkup sekolah saat perpisahan, kampus saat malam inagurasi, RT saat HUT RI, dan lingkungan saat natalan. Peristiwa pertama, saat saya dipercaya menjadi koordinator seksi acara natalan di lingkungan. Saya menganggap anggota seksi hanya berfungsi membantu saja, maka susunan acara, materi acara, berikut pengisinya saya tentukan semua sendirian. Yang lain hanya saya mintai tolong untuk menyiapkan properti. Itupun saya yang merancang dan yang lain tinggal melaksanakan.Semua berjalan baik, meriah, dan semua orang tampak senang. “Siapa yang menyiapkan tari anak-anak dan dramanya?” Saya dengar seorang ibu bicara pada salah satu anggota seksi acara. “Bu Giri.” Jawab anggota seksi acara itu. Serta merta sang ibu mendekati saya dan mengucapkan selamat serta pujian. Wah, bangga luar biasa. Saya jadi terkenal. Namun sesampai di rumah, saya merasakan kekosongan luar biasa. Semua pujian dilontarkan pada saya, padahal sebenarnya tanpa bantuan ibu-ibu anggota seksi acara, anak-anak yang turut pentas, orangtua anak-anak yang pentas, dan hadirin yang apresiatif, acara itu tak akan berjalan.“Kamu over acting! Kamu sombong sekali! Kamu lupa pada dukungan ibu-ibu yang lain! Kamu jadi gede rasa atas segala pujian itu! Tanpa mereka kamu nol sama sekali!” Nurani saya terus-menerus menuduh dan membuat hati gelisah. Saya jadi kapok dipuji dan jadi pusat perhatian. Saya disanjung tapi merasa gagal!Peristiwa kedua, kala menjadi koordinator seksi acara dalam HUT RI tingkat RT. Saya berusaha memperbaiki diri di sini. Anggota seksi acara yang lain saya libatkan dalam menentukan susunan, materi, dan pengisi acara. Masing-masing punya tanggungjawab untuk melatih anak-anak. Saya mengkoordinir anak-anak, Bu A melatih baca puisi, Bu B melatih tari, Bu C melatih fashion show, dst. Pokoknya bagi-bagi tugas. Acara lancar dan meriah. Semua yang hadir juga tampak senang. Dengan sangat bangga saya katakan pada ibu-ibu yang menanyakan siapa yang melatih tari, “Oh, Bu B yang melatih.” Merekapun berbondong-bondong menyalami Bu B. Entahlah, saya tidak cemburu meskipun tak ada yang memuji saya. Saya malah merasa sangat lega, lengkap, dan penuh. Ini kerja tim dan kebanggaan yang diperoleh adalah milik bersama. Lebih berbobot dan berisi.Sungguh, ternyata sebagai seorang pemimpin, sekecil apapun kelompok yang dipimpin, lebih baik untuk memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya daripada menjadi single fighter. Bekerja sendiri berarti belum bisa menjalin komunikasi dan kepercayaan pada yang dipimpin. Bisa bekerjasama dan membesarkan orang lain berarti orang-orang yang dipimpin benar-benar menaruh respek, kepercayaan, dan kepatuhan pada orang yang memimpinnya.Saya bisa dan berani menuliskan ini bukan karena saya sudah mahir soal kepemimpinan lho. Saya malah baru belajar. Justru ketika saya mengalami sebagai pemimpin kecil dan mendapatkan sentuhan dari buku Anang YB. Buku ini benar-benar inspiratif untuk dijadikan bahan referensi bagi para ketua lingkungan, calon ketua lingkungan, dan semua umat agar tidak keder untuk jadi ketua lingkungan. Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-6669724809075754755?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/6669724809075754755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/09/masih-jadi-single-fighter-pernah-ada-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6669724809075754755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6669724809075754755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/09/masih-jadi-single-fighter-pernah-ada-di.html' title='MASIH JADI SINGLE FIGHTER? (pernah ada di Warta Klara)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-4402794756364348831</id><published>2010-09-01T08:31:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:33:24.406-07:00</updated><title type='text'>Anak-Anak pun Senang Mengenal Dia</title><content type='html'>ANAK-ANAK PUN SENANG MENGENAL DIA&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Malam itu Pastur akan mengunjungi umat. Anak-anak disuruh duduk bersila di depan altar. Katanya,  agar lebih banyak mendapat berkat Tuhan. Orang-orang dewasa duduk di belakang. Rita kecil berdebar-debar hatinya. Itu adalah kesempatan pertamanya melihat Pastur dari jarak dekat. Ibunya selalu mengajak duduk di teras gereja jika misa, karena takut membuat kegaduhan kecil yang bisa mengganggu konsentrasi umat lain.&lt;br /&gt;            “Duduk yang manis ya, Anak-anak. Sebentar lagi Pastur datang. Selama misa, anak-anak harus tenang ya. Jangan ngobrol sendiri. Sebab saat berdoa, kita sedang bicara pada Tuhan. Jadi harus sungguh-sungguh.” Nasihat Bapak Ketua Lingkungan. Dengan masih sedikit bersuara, anak-anak mengangguk.&lt;br /&gt;            Tubuh Rita mungil, sehingga dia beberapa kali berdiri dan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Pastur sudah datang atau belum. Di belakangnya, duduk sederet anak lelaki bertubuh bongsor. Dia penasaran dengan warna kasula Pastur yang berubah-ubah itu. Hari ini Pastur pakai warna putih, merah, atau hijau ya?&lt;br /&gt;            “Rita, duduk! Nanti Pastur marah!” Hardik ibunya dari belakang. Rita mendengus kesal lantas duduk kembali. Ah, nyatanya Pastur itu tidak pemarah kok. Buktinya begitu datang, anak-anak disalami satu-persatu dengan senyum ramah.&lt;br /&gt;Ketika Pastur sedang berkotbah, Rita tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Pastur. Dia lebih tertarik untuk membahas warna jubah pastur dengan Andin yang duduk di sebelahnya. Pastur di sekolahnya memakai jubah putih tapi kenapa yang datang ini pakai jubah coklat? Lagi-lagi ibunya menghardik,” Rita! Diam! Nanti Tuhan marah! Tidak diberkati kamu nanti!” Hardikan ini membuat Rita terdiam. Lantas melirik gambar Yesus yang terpasang  di dinding. Tangan kanan Yesus yang sedikit terangkat seolah menegurnya agar tidak berisik. Sejak saat itu, Rita tidak mau lagi duduk di depan dalam kegiatan lingkungan. Dia takut Tuhan marah dan tidak mau memberkatinya lagi. Lebih baik dia duduk di belakang, sehingga jika berisik, Tuhan tidak mendengar.&lt;br /&gt;            Setelah beranjak dewasa dan mengenal Kitab Suci, barulah Rita mendapat jawaban pasti. Tuhan itu Maha Baik. Dia menjadikan bumi seisinya dalam keadaan prima hanya untuk diberikan gratis pada manusia. Apa ada kerelaan cuma-cuma sebesar itu kalau bukan dari Tuhan? Diapun selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat jika melakukan kesalahan. Meskipun bangsa Israel berkali-kali berpaling pada allah lain, namun dengan sabar Tuhan membimbing mereka sampai ke tanah terjanji. Bahkan dikirim-Nya nabi-nabi untuk memperingatkan mereka. Dan yang paling hebat lagi, Dia mengutus Putra-Nya Yang Tunggal untuk menderita sengsara demi penebusan dosa manusia. Ada cinta yang rela mengorbankan nyawanya demi sahabatnya, tapi apakah ada cinta lain yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk manusia yang pendosa dan tidak setia? Sungguh Tuhan itu baik, tidak menakutkan seperti yang selama ini dikenalnya.&lt;br /&gt;            “Sudah, Bu. Jangan dimarahi, nanti dia malah tidak mau ikut sekolah minggu lagi.” Tutur Rita pada seorang ibu yang menegur keras anaknya karena sedari tadi tidak mau duduk seperti teman yang lain. Gadis itu segera mengambil gambar Yesus yang sedang memberi makan limaribu orang dan memberikan pada anak itu supaya diwarnai. Tak apalah hari ini anak itu tidak mengikuti dinamika kelompok, yang penting dia tetap senang berada di tempat Bina Iman Anak itu.&lt;br /&gt;            Sungguh, Rita tidak ingin anak-anak mendapatkan gambaran yang menakutkan tentang Tuhan. Apalagi kalau hanya dipakai orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar menurut. Tuhan itu baik, sampai kapanpun sifat itu tidak akan berubah, dan Rita merasa punya hutang untuk mewartakan kabar gembira itu kepada anak-anak. Masa kecilnya  dihantui gambaran Tuhan yang akan marah jika dia berisik dalam misa, tidak mau memberikan berkat jika dia ngobrol selama rosario, atau memotong lidah-tangan-kaki jika dia bicara buruk atau berbuat kenakalan. Dia tidak ingin anak-anak ketakutan seperti dirinya.&lt;br /&gt;            Rasa takut itu telah membuat imannya tidak bisa berkembang dengan baik. Dia melakukan segala kegiatan doa hanya karena takut. Bukan karena cinta-Nya pada Tuhan yang telah lebih dahulu mencintai dirinya. Bukankah hamba dengan satu talenta itu hanya menanam talentanya dalam tanah karena punya rasa takut luar biasa pada tuannya? Dia takut talentanya akan hilang dan akhirnya mendapat hukuman dari tuannya. Seandainya dia punya relasi yang baik dengan tuannya, pastilah dia akan lebih berani dan terbuka untuk melipatgandakan talentanya itu.&lt;br /&gt;            “Bang, Kitab Suci Untuk Anak-anak yang diceritakan kembali oleh Anne de Graaf itu harganya berapa ya?” Tanya Rita pada kakaknya yang menjadi staff marketing sebuah toko buku besar. Kakaknya hanya tersenyum. Mungkin perlu waktu dua bulan untuk menyisihkan uang jajan guna mendapatkan buku itu.&lt;br /&gt;Menurut Rita, anak-anak juga harus mengenal kebaikan Tuhan secara benar sedari kecil. Satu-satunya cara adalah mendengarkan Sabda Tuhan supaya lebih mengenal Yesus. Sebab Yesus bersabda, barangsiapa mengenal Aku maka dia menganal Bapa yang mengutus Aku. Mereka akan kesulitan jika harus membaca Alkitab atau mendengar kotbah pastur di gereja. Satu-satunya sarana adalah cerita-cerita Kitab Suci dengan bahasa dan visualisasi yang mudah dimengerti anak-anak.&lt;br /&gt;            “Nih, bukunya.” Ujar kakaknya sambil menyerahkan sebuah buku tebal bersampul biru kelabu dengan gambar Yesus sedang memberkati anak-anak.&lt;br /&gt;            “Aku harus bayar berapa, Bang?” tanya Rita. Betapa gembira hati Rita menerima buku impiannya itu.&lt;br /&gt;            “Udah, nggak usah. Aku senang kok. Cuma itu yang bisa kuberikan. Aku salut pada  orang-orang muda sepertimu yang peduli pada perkembangan iman anak-anak.” Rita tersipu.&lt;br /&gt;            Dalam pertemuan BIA, Rita menunjukkan buku baru itu pada anak-anak. Mereka sangat antusias ketika gadis itu mulai membuka halaman pertama dan mengisahkan Allah Menciptakan Semuanya Baik.&lt;br /&gt;            “Lihatlah gambar pohon-pohon, rumput, bunga, binatang di darat, ikan di laut, burung di udara, dan air jernih ini. Semua diciptakan untuk kita. Betapa baik Tuhan pada kita. Kitapun harus merawat dan memelihara ciptaan Tuhan ini sebagai tanda syukur kita.”&lt;br /&gt;            Rita berjanji akan menceritakan halaman berikutnya dalam pertemuan mendatang. Halaman demi halaman, hingga yang terakhir Dunia Baru Milik Allah. Dia bersyukur, dengan membacakan Sabda Tuhan berarti dia lebih mendengar-Nya. Mengajar mereka, berarti juga mengajar diri-sendiri. Dengan mengajarkan kebaikan Allah, kebaikan-Nya itu semakin nyata. Anak-anakpun senang mengenal Dia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-4402794756364348831?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/4402794756364348831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/09/anak-anak-pun-senang-mengenal-dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/4402794756364348831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/4402794756364348831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/09/anak-anak-pun-senang-mengenal-dia.html' title='Anak-Anak pun Senang Mengenal Dia'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7964072467564532028</id><published>2010-08-29T17:53:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T17:58:14.679-07:00</updated><title type='text'>MENGENAL KITAB SUCI SEJAK DINI (pernah ada di Warta Klara)</title><content type='html'>MENCINTAI SABDA-NYA SEJAK KECIL&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ayah dan Ibu saya dulu bukan Katolik. Suatu berkah istimewa jika akhirnya mereka menikah di Gereja Katolik. Tapi, kekatolikan yang diturunkan pada saya sangat minim. Bahkan saya baru mulai sering mendengar sabda Tuhan setelah SMA dan kuliah, dari para pembimbing retret. Dan setelah dewasa, barulah saya tergerak untuk lebih banyak belajar. Seperti rusa di padang tandus yang rindu akan air.&lt;br /&gt;            Mengenal dan mencintai sabda-Nya sangat penting. Sebab sabda Tuhan adalah kebenaran dan hidup. Pegangan kita. Maka saya sebagai seorang ibu, tidak ingin anak-anak saya memiliki nasib serupa dengan saya. Menjadi Katolik sejak lahir bahkan dibabtis ketika umur baru beberapa bulan, namun malang, hanya sedikit sabda Tuhan yang sampai ke telinga saya.&lt;br /&gt;            “Ibu, tadi di sekolah, Bu Guru Agama nanyain : Nabi Musa waktu bayi dibuang ke sungai mana? Nggak ada satupun temanku yang tau! Lalu aku bilang : Sungai Nil. Bu Guru nanya : kok kamu tau? Lalu aku bilang : kan Ibu saya udah ceritain ke saya.” Tutur anakku saat kelas 1 SD. Puji Tuhan. Saya memang menceritakan tokoh-tokoh Alkitab sebelum mereka tidur.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya batita, di bawah tiga tahun, saya hanya memperlihatkan gambar-gambar sambil menceritakan sedikit intinya dengan kata-kata sendiri. Lalu mereka jadi mengenal tokoh hanya dengan melihat gambar. Kalau melihat orang dengan kapal besar dan banyak binatang, mereka jadi tahu,”Itu Nabi Nuh!”&lt;br /&gt;            Ketia anak saya balita, saat TK, saya mulai memperkenalkan tokoh dan peristiwa. Masih menggunakan gambar namun disertai narasi singkat dengan kata-kata yang mudah dipahami anak. Mereka mulai tahu, gambar malaikat dan gadis itu adalah Malaikat Gabriel dan Maria. Maria menerima kabar gembira dari Allah yang disampaikan Malaikat Gabriel. Dia akan mengandung dan melahirkan Yesus.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya mulai masuk SD, sayapun mulai bertanya, “Dari tokoh Alkitab itu, apa yang bisa kita contoh, atau apa yang tidak boleh kita tiru?” Alkitab menguak kebenaran dan tidak menutupi kesalahan. Sangat jujur dan berimbang. Misalnya tentang Kain dan Habel. Yang layak ditiru adalah ketulusan Habel dalam memberikan persembahan pada Tuhan. Yang tidak boleh ditiru adalah sifat iri Kain pada adiknya.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya mulai lancar membaca dan bisa paham apa yang dibaca, diapun membaca buku Alkitab untuk anak-anak. Kadang dia dengan bangga mengatakan,”Bu, aku udah sampai di Zakeus!” Lalu kamipun menggosipkan Zakeus. Misalnya, “Kok Zakeus mau ya memberikan hartanya buat orang miskin?” Anak sayapun nyeletuk,”Kan udah tobat.” O, iya, ya. Lalu lagu Zakeus Orang Pendek pun kami dendangkan. Lagu ini memudahkannya untuk mengenang peristiwa Zakeus.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya makin besar, diapun mulai berkenalan  dengan Alkitab yang diterjemahkan langsung dari aslinya. Alkitab dengan tanda panduan untuk tiap kitab adalah pilihan saya. Sehingga mudah mencari posisi suatu kitab. Anak sayapun mulai belajar cara membuka Alkitab. Misalnya mencari Injil Matius 5: 13-16. “Cari tanda MAT, buka, setelah itu temukan angka besar 5, baru kemudian angka kecil 13 sampaidengan 16.” Setelah ketemu, saya akan bertanya,”Apa judulnya?” Diapun menjawab,”Garam dunia dan terang dunia.” Hebat! Puji saya.&lt;br /&gt;            Lomba baca Alkitab BIA dan BIR, yang diadakan di Kapel Asri tanggal 6 dan 13 September 2009, oleh ibu-ibu WP, dalam rangka HUT Klara ke-11, juga bisa menambah rasa cinta anak-anak pada Sabda Tuhan. Merekapun punya pengalaman tampil di depan umat. Apalagi setelah selesai, ada tambahan dari Dewan Juri (Pak Ernest Maryanto) tentang tips menjadi lektor yang baik. Anak saya jadi ketagihan. “Adain lomba baca Alkitab di lingkungan dong, Bu.” Puji Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7964072467564532028?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7964072467564532028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/08/mengenal-kitab-suci-sejak-dini-pernah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7964072467564532028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7964072467564532028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/08/mengenal-kitab-suci-sejak-dini-pernah.html' title='MENGENAL KITAB SUCI SEJAK DINI (pernah ada di Warta Klara)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-8784758978272506382</id><published>2010-08-27T09:39:00.000-07:00</published><updated>2010-08-27T09:41:46.096-07:00</updated><title type='text'>O, SANTA KLARA YANG PERKASA (pernah ada di Warta Klara)</title><content type='html'>O SANTA KLARA YANG PERKASA&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Nama putri ketiga kami KLARA. Nama itu pemberian kakaknya. “Kalau adikku lahir perempuan, kita beri dia nama Klara ya, Bu.” Begitu pintanya.”Kenapa Klara?” tanya saya. “Soalnya di gereja ada lagunya dan lagunya bagus.” Ujar sang kakak. Saya sungguh salut kepada Bapak Ernest Maryanto yang pada tahun 2000 telah menciptakan lagu Himne Santa Klara yang indah itu. Santa Klara sungguh mulia namamu. Hanya Tuhan kauluhurkan di sepanjang hayatmu…&lt;br /&gt;            Saya juga sangat suka pada nama itu. Menurut Romo Alex dalam sebuah homili, nama itu berarti bersih, cemerlang, jelas, terang dan cerah. Nama yang indah. Saya pun bersyukur telah memberikan nama itu pada anak saya. Sebab, beberapa tahun terakhir ini, di sekitar kediaman kami….nama itu mendapat cercaan dan penolakan, sehubungan dengan perijinan pembangunan gereja yang sedang diusahakan. Tapi dua bulan terakhir sejak kelahiran putri kami, hampir semua orang di gang tempat kami tinggal mengucapkan nama itu ketika berpapasan dengan saya dan putri kecil kami…”Klara! Klara! Klara!” Oh, seandainya saja setiap orang juga mau membuka pintu hati dan rasa toleransinya kepada gereja kita seperti menerima kehadiran bayi mungil kami di tengah-tengah mereka.&lt;br /&gt;            “Klara? Kok Klara?” Tanya neneknya. Sebab menurutnya, dalam Bahasa Jawa, Klara itu artinya keloro-loro atau terlunta-lunta. “Klara itu nama seorang santa yang luar biasa, Bu. Dia itu perempuan yang sangat perkasa.” Jawab saya. Memang, gereja kita saat ini sedang keloro-loro, menjalani suatu perjalanan yang menyakitkan seperti yang dialami Santa Klara sendiri ketika memilih untuk keluar dari istana ayahnya dan pergi kepada Pastur Fransiskus di gereja tepi hutan Kota Azizi. Di sana dia harus mengenakan jubah kasar dan bermati raga. Namun ketika dia dengan rela melakoni itu dan menjadikannya sebagai sarana untuk mengabdi pada Tuhan, dia diberikan suatu rahmat menjadikan doa sebagai suatu kekuatan.&lt;br /&gt;            Santa Klara adalah sosok yang pemberani dan perkasa. Keberanian dan keperkasaannya itu tidak didasarkannya pada kemampuannya sendiri, namun semua beralaskan kekuatan Tuhan. Melalui kekuatan doa lah dia dengan gagah perkasa bangkit mengangkat sibori, yang didalamnya bersemayam Sakramen Mahakudus, untuk menghadapi tentara Kaisar Frederick II yang akan menyerang biaranya. Pasukan pimpinan Jenderal Vitale de Aversa yang akan menggempur Kota Azizi pun dihadapinya dengan menghimpun para suster untuk bersujud dan berdoa. Keberanian Santa Klara ditunjukkan dengan mengambil suatu sikap untuk melawan ketidakadilan dan penindasan. Mengajak para suster untuk berhimpun dalam doa menandakan bahwa keberaniannya sungguh dilandasi kecintaan dan kepercayaannya kepada ajaran Yesus sendiri.”Barangsiapa  dua orang atau lebih berdoa dalam nama Yesus, maka Yesus akan sungguh hadir di tengah mereka.” Dan nyatanya demikian lah yang terjadi.&lt;br /&gt;            Sungguh sebuah anugerah ketika gereja kita menjadikan Santa Klara sebagai santa pelindung, sebab umatnya, termasuk saya, diperkenalkan kepada spiritualitas Santa Klara yang selalu hidup dalam kesederhanaan dan pengabdian penuh pada Tuhan. Juga keberanian untuk hidup tidak enak, termasuk ketika mendapatkan penolakan bertubi-tubi saat mengajukan perijinan pembangunan gereja. Namun, jika kita tekun berusaha dan mengandalkan Tuhan sebagai kekuatan, saya percaya suatu saat nanti wajah Gereja Santa Klara dalam wujud fisik dapat terwujud.&lt;br /&gt;Berakit-rakit ke hulu itu memang tidak mudah, karena kita harus mendayung sekuat tenaga untuk melawan arus. Berenang-renang ketepian pun rasanya masih jauh untuk dicapai. Namun sikap optimis, semangat merasa memiliki dan mencintai gereja kita, keberanian untuk keloro-loro seperti yang dijalani Santa Klara, dan semangat persatuan di antara umat, harus  selalu kita miliki agar mimpi berwujud menjadi nyata. Suatu hari nanti. Sebab gereja sebagai kesatuan umat Allah tetap jauh lebih penting artinya dibanding gereja secara fisik.&lt;br /&gt;Sebagai seorang umat yang tak pernah pergi ke gereja paroki lain karena gedungnya yang sudah mapan, tapi tetap memilih ke paroki sendiri  karena rasa memiliki dan dimiliki, saya hanya  bisa mempersembahkan tulisan ini sebagai ucapan SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-12 Paroki Santa Klara tercinta.&lt;br /&gt;Semoga sebagai umat yang hanyalah domba kecil, saya bisa semakin mencintai paroki ini sesuai kesanggupan dan talenta saya. Semoga saya semakin rukun dalam menjalin silaturahmi dengan umat lain di paroki ini, semoga saya semakin tergerak untuk terlibat dalam kegiatan di lingkungan dan wilayah, semoga saya semakin giat mendukung usaha-usaha yang dilakukan panitia pembangunan termasuk dalam hal pengumpulan dana di lingkungan-lingkungan, semoga saya tak lupa untuk selalu menyisipkan doa untuk usaha pembangunan, dan semoga saya di dalam masyarakat selalu menunjukkan Kasih Kristus pada sesama sehingga Santa Klara dihormati dan pada akhirnya diterima di tengah-tengah kehidupan yang sebenarnya plural namun mengenal mayoritas dan minoritas ini.&lt;br /&gt;Semoga permohonan kita dalam doa Novena Santa Klara yang kita doakan baik sendiri-sendiri di rumah maupun berkelompok dalam lingkungan pada tanggal 2 – 10 Agustus 2010 ini dikabulkan Tuhan. Sehingga impian dan kerinduan kita bersama selama 12 tahun ini dapat terwujud dan kita semakin meneladani hidup suci santa yang perkasa ini. O Santa Klara yang perkasa, doakanlah kami. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-8784758978272506382?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/8784758978272506382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/08/o-santa-klara-yang-perkasa-pernah-ada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8784758978272506382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8784758978272506382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/08/o-santa-klara-yang-perkasa-pernah-ada.html' title='O, SANTA KLARA YANG PERKASA (pernah ada di Warta Klara)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-3944630873232054337</id><published>2010-07-14T20:30:00.000-07:00</published><updated>2010-07-14T20:31:29.817-07:00</updated><title type='text'>UNTUKMU PARA GEMBALA (pernah ada di Warta Klara)</title><content type='html'>UNTUKMU PARA GEMBALA&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam pesta penerimaan komuni pertama di paroki Santa Klara, Minggu, 6 Juni 2010, Romo Yustinus OFM, Cap. bertanya kepada 106 tunas gereja yang tengah menanti-nantikan tubuh dan darah Kristus dengan amat rindu untuk pertama kalinya. “Di antara sekian anak laki-laki, siapa yang ingin menjadi pastor? Ayo tunjuk jari!” Tak ada seorangpun yang tunjuk jari. Umat tertawa kecil dan Romo Yus pun tersenyum. “Kok nggak ada yang mau jadi pastor? Kenapa? Jadi pastor itu susah ya?” komentar Romo Yus dalam canda.&lt;br /&gt;            Saat Romo Alex dirawat di RS Elisabeth karena kena DBD, beberapa anak sekolah minggu kami ajak untuk menjenguk. Saat itu ada seorang suster biarawati yang kebetulan bertugas pula di rumah sakit itu. “Siapa yang mau jadi pastor atau suster? Nah, kamu yang senyum-senyum itu, pasti mau kan?” Tanya Romo sambil menunjuk seorang anak perempuan yang berdiri di samping ranjang rumah sakit bersama ayahnya. Anak kecil itu tersenyum malu merasa tersanjung, tapi ayahnya malah geleng-geleng. “Loh kenapa, Pak? Jadi romo atau suster itu susah ya, Pak?” Sang bapak hanya mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;            Sepulang dari pesta penerimaan komuni pertama itu, anak saya langsung mengapresiasi pertanyaan Romo Yustinus seperti ini,”Misalkan aku laki-laki, aku juga nggak mau jadi romo.” Sayapun bertanya,”Loh kenapa? Bukannya jadi romo itu enak? Tinggal di pastoran yang bagus, disediakan mobil, fasilitasnya komplit?” Diapun segera menjawab,”Kan itu semua bukan punya dia sendiri, Bu. Lagipula apa enaknya mimpin misa tiap hari? Capek deh!” Dia memang pernah melihat jadwal kunjungan pastoral dimana tiap hari romo mempersembahkan misa di lingkungan-lingkungan.&lt;br /&gt;            Bahkan ketika saya menulis status di facebook, bahwa ketiga anak saya perempuan semua dan saya berdoa semoga ada yang jadi biarawati, salah seorang teman langsung kasih komentar,”Wah, jaman sekarang kalau mau jadi biarawati kayaknya tantangannya berat banget. Udah deh, doain aja anak-anakmu jadi orang-orang yang berguna. Itu sudah lebih dari cukup.”&lt;br /&gt;Wah, di mata kami yang merupakan kaum awam ini, profesi sebagai biarawan atau biarawati ternyata kurang populer dan tampak begitu berat bila dijalani. Bahkan anak-anak pun jarang yang punya cita-cita jadi imam. Mungkin orangtuanya kurang restu atau kurang memperkenalkan profesi ini. Sebab di mata kami, ada anak yang jadi imam berarti keluarga itu harus siap kehilangan anak.&lt;br /&gt;Lantas apa ya yang bisa kami lakukan untuk mendukung para gembala? Di sekolah minggu, saya selalu mempromosikan profesi ini kepada anak-anak. Lewat cerita dan lewat pujian. Jika ada anak yang mau suka rela memimpin doa, saya katakan,”Kamu memang pintar. Pasti kelak jadi pastor!” Tapi celakanya anak itu malah menjawab,”Saya nggak mau jadi pastor!” Loh? Lha mau jadi apa? “Mau jadi anggota legislatip!” Waduh! Rupanya anak-anak lebih banyak mengidolakan profesi-profesi yang bisa mendatangkan banyak penghasilan.&lt;br /&gt;Kitapun tentunya memiliki talenta masing-masing yang unik. Ada baiknya talenta itu kita gunakan untuk berkarya di ladang Tuhan. Bukankah itu juga cara untuk mendukung para gembala dalam mewartakan Kerajaan Allah? Ada yang aktif dengan menjadi pengurus lingkungan, wilayah, dan paroki. Ada yang aktif dalam koor, prodiakon, lektor, komentator, dan putra-putri altar. Ada yang aktif dalam kelompok-kelompok kategorial. Semua tetap dalam satu Roh meski beda kemampuan. Termasuk mewarta lewat tulisan seperti ini. Semula saya tertarik untuk menulis di Warta Klara karena terinspirasi tulisan-tulisan Mbah Jito. Tulisanpun bisa bicara tentang iman dan mensharingkan pengalaman iman. Bukankah itu cara untuk mendukung para gembala dalam mewarta?&lt;br /&gt;Sayapun termasuk orang yang beruntung sebab pernah berkesempatan memasak untuk makan siang dan malam para romo di paroki kita, meski hanya beberapa kali dan masakannya pun ala kadarnya. Maklum saya ini anak udik pegunungan yang hanya tahu bikin kluban (sayuran rebus) dan memasak tahu-tempe. Tapi saya yakin para romo menikmati buah tangan saya dengan suka-cita. Jadi, jika ibu-ibu mendapatkan kesempatan seperti saya, pakailah kesempatan itu sebagai cara untuk mendukung para gembala kita. Jangan pernah merasa direpotkan ya, Bu. Tapi kalau repot betulan ya jangan memaksakan diri. Lakukan dengan sukacita.&lt;br /&gt;Untuk bapak-ibu di rumah, ceritakalah kisah-kisah orang kudus pada putra-putri kita. Sebagian besar dari mereka adalah para imam dan biarawati yang memberikan teladan iman begitu baik dan suci. Semoga lewat cerita-cerita itu, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang selalu rindu untuk melayani Tuhan dan sesama. Syukur-syukur ada yang tertarik untuk jadi imam.&lt;br /&gt;Seorang teman pernah menulis di blog-nya,”Siapakah yang paling butuh untuk kita doakan? Jawabannya adalah: para imam.” Marilah, kita senantiasa menyisipkan sepenggal doa untuk para gembala kita agar mereka selalu setia dalam panggilan dan menjadikan panggilannya sebagai perpanjangan tongkat penggembalaan Yesus di dunia ini. Dan selalu berdoa, semoga benih-benih panggilan tidak pernah kering di dunia ini. Sebab sampai kapanpun kita tetap butuh para imam untuk mempersatukan kita dengan kehadiran Yesus Kristus dalam sakramen-sakramen kudus.&lt;br /&gt;Dan bagaimana jika dukungan itu diwujudkan dalam sebuah buku berisi surat-surat cinta untuk para gembala? Sepertinya buku berisi kisah-kisah nyata seputar hubungan umat dengan imamnya itu akan segera terbit. Berisi kritikan, saran, dukungan, masukan, doa, lagu, dan kenangan bagi para gembala dari domba-domba yang digembalakannya. Mari kita terus dukung para gembala kita! Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-3944630873232054337?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/3944630873232054337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/07/untukmu-para-gembala-pernah-ada-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/3944630873232054337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/3944630873232054337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/07/untukmu-para-gembala-pernah-ada-di.html' title='UNTUKMU PARA GEMBALA (pernah ada di Warta Klara)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-3773056332942175763</id><published>2010-06-29T23:43:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T23:44:01.513-07:00</updated><title type='text'>ASRAMA MEMBUATKU GILA!! (ada di www.YukNulis.com)</title><content type='html'>Tanggal 23 September  1994, asrama resmi jadi rumahku. “Jangan lupa ember, gayung, piring, gelas, sendok-garpu, speri, sarung bantal, dan gembok.” Kata Suster Kepala ketika aku mendaftar seminggu sebelumnya. Wah, aku datang seperti orang pindah rumah. “Sil, antar adikmu ini ke kamarnya. Kasih tahu barang-barang apa aja yang jadi haknya!” Kakak angkatan yang dipanggil suster langsung menghampiriku dan membantu membawa barang-barangku.&lt;br /&gt;            “Namaku Silvi. Kamu pasti Rini ya. Kami sudah menunggu kedatanganmu. Aku pikir akan datang pagi. Ternyata baru sampai sore-sore begini.” Aku tersenyum. Hangat rasanya mendapat sambutan seperti itu. Setiap melewati warga lain di lorong-lorong, mereka selalu tersenyum. “Adik gua ni, baru datang.” Begitu Silvi memperkenalkanku. “Oya, kebetulan tadi aku ambil makan siang untukmu. Kamu pasti capek dan belum makan. Makan dulu aja ya, baru bebenah.” Ujarnya lagi. Oh, alangkah nikmatnya punya kakak angkatan seperti dia. Seramah dan seperhatian itu meskipun sama sekali belum pernah jumpa denganku.&lt;br /&gt;            Aku tinggal di sebuah unit yang terdiri dari dua kamar tidur dengan empat ranjang susun, dua kamar belajar dengan delapan meja kayu, dua ruang ganti dengan delapan almari kecil, dan sebuah teras dengan empat kursi santai dan bak cuci piring. “Kita di sini ada delapan orang, Rin. Yang seangkatan denganmu ada tiga orang. Tapi mereka belum datang. Mungkin besok” Kamipun meletakkan barang-barang bawaan di dekat meja belajarku. Wah, meja belajarku dekat jendela kaca sehingga bisa melihat kembang-kembang di taman. “O ya, nanti jam lima ada pertemuan anak-anak Fisipol di aula asrama. Mereka lagi open house. Ikutan aja biar kenal sama orang-orang sefakultasmu.” Bahkan dia bersedia mengantar jika aku masih malu.&lt;br /&gt;            Uh, aku memang sangat pemalu. Bagaimana Silvi bisa punya rasa percaya diri sebagus itu? Apa karena dia anak Jakarta? Atau karena sudah banyak menghirup hawa positif di asrama ini? Alangkah enaknya punya senyum dan gerak-gerik bersahabat seperti dirinya. Dan kulihat, anak-anak lain juga memiliki perangai sejenis. Ketika ada anak dari unit lain masuk ke unitku mencari Silvi, dia ketuk pintu dulu dan bilang permisi. Bahkan menyapaku dan mengajak berkenalan lebih dulu. Dia tampak menghormatiku meski aku anak baru. Kayaknya aku bakal krasan di tempat ini.&lt;br /&gt;            Usai mengikuti open house Fakultas-ku di aula, Silvi lagi-lagi memperkenalkan aturan-aturan yang telah disepakati di asrama. Harus selalu bilang terimakasih dan permisi, sekecil apapun yang telah diterima atau bantuan apapun yang ingin diminta. Pintu asrama tutup jam 22.00 sehingga kalau ada kegiatan melampaui jam malam itu harus ijin langsung ke suster piket. Jadwal kuliah dan kegiatan kampus harus diberikan pada suster piket. Jika akan pulang ke rumah harus lapor. Menggunakan fasilitas bersama seperti kamar mandi, bak cuci, dan seterika harus memperhatikan kepentingan orang lain.  Jadwal bersih-bersih dan tugas doa di kapel tidak boleh terlewatkan. Jam makan dibatasi satu jam saja dan jika pulang melampaui jam makan harus titip pada teman seunit. Jika keluar kamar harus memakai baju yang sopan. Dan sederet aturan lainnya.&lt;br /&gt;            “Aturan ini tidak tertulis. Kau tak mungkin menghapalnya. Tapi aku dan kakak-kakak yang lain akan membantumu melaksanakannya. Setelah berada di sini sebulan saja, kamu pasti akan hapal sampai luar kepala.” Katanya. Suster Kepala memang pernah bilang bahwa selama satu bulan penuh aku tidak boleh pulang. Mungkin untuk penyesuaian.&lt;br /&gt;            Sehari, dua hari, hingga seminggu, rasanya aku betah. Apalagi menu asrama selalu berganti-ganti meski sederhana. Tumis toge, oblok daun singkong, bakso soon, telur sembunyi, rolade tahu, kering kentang, dan menu malam mingguannya ayam goreng. Buah seminggu dua kali. Pisang, semangka, nenas, atau pepaya. Kami dibiasakan minum air putih. Teh manis hanya ada di malam minggu. Wuah, bener-bener diet. “Pokoknya kalau udah enam bulan di sini, kita bisa jadi langsing dengan sendirinya. Kalau ada kiriman lauk dari rumah, kamupun musti bagi-bagi ke teman seunit.” Kata Silvi.&lt;br /&gt;            Semester ganjil akan segera dimulai, kakak-kakak yang lain serta kedua teman seangkatanku segera berdatangan. Ramai sekali unitku. Semua suka bercerita, kecuali aku. Tapi kakak tertua selalu bilang.”Hei, diam dulu! Ayo kita dengarkan cerita Rini!” Begitu dia memancingku agar mau ngomong. Yang lainpun penuh perhatian mengikuti apa yang kukisahkan. Dan ketika aku kebingungan memasang sprei, kakak tertua ini yang mengajariku. “Seorang kakak di sini punya kewajiban untuk membantu adiknya. Tahun depan kalau kau sudah jadi kakak, kamupun harus bantu adik kamu meskipun dia tidak meminta.” Ujarnya.&lt;br /&gt;            Minggu kedua, OPSPEK di Fakultas mulai digelar. Rambut musti dikuncir tujuh dengan pita tujuh rupa. Pakai topi kertas bekas dan tas kantong gandum. Kaus kakipun harus dua warna. Kakak-kakakku selalu siap membantu. “Kau tak perlu cemas hadapi ini. Santai saja. Anggap aja kau sedang mengikuti suatu permainan. Supaya kamu tidak tertekan. Kalau ada Raka yang ganteng, kecengi aja biar semangat! Kalau ada Rakanita yang mulutnya seperti cabe, cuekin aja. Belum tentu IP-nya kelak lebih bagus dari punyamu. Jadi santai saja. OK?” Kakak tertua menyemangatiku di hari pertama sambil mengulurkan bekal buatku. Jam lima aku harus sudah jalan supaya tidak terlambat. Sebab tidak terlambat aja diomelin, apalagi yang datang telat. Disuruh push up lah, lari jongkok,  lompat-lompat. Huh, sok banget deh para Raka dan rakanita itu. Kuikuti saja nasihat kakak tertua dan enjoy the game. Untung ada beberapa Raka yang ganteng. Bisa menghilangkan dahaga sedikit.&lt;br /&gt;            Ketika OPSPEK Kampus baru berjalan tiga hari dan aku barus aja selesai mengerjakan tugas-tugas yang aneh-aneh. Tiba-tiba aku dikejutkan suara itu.  Alarm asrama. Temanku yang tidur di dipan atas sampai loncat. Hampir semua anak baru kaget dan ketakutan dengan suara itu. Kami kira kebakaran. Tiba-tiba dari arah bak cuci kakak-kakak yang sudah KKN dan skripsi bermunculan sambil teriak-teriak menyuruh semua anak baru keluar dan berlari ke aula. Mereka berdandan sangat rapi lengkap dengan sepatu berhak tinggi yang suara ketukannya bikin pekak telinga.&lt;br /&gt;            “Tenang aja. Ini POSMA Asrama. Ikuti saja apa yang mereka bilang.” Ujar Silvi ketika aku bingung. Malam itu, pukul 03.00 dini hari, semua anak baru dalam baju tidur masing-masing digiring ke aula. Semua disuruh berbaris, berdiri tegab dan menunduk. Malam itu juga diumumkan bahwa sejenis OPSPEK di asrama akan digelar. What? Aku harus menghadapi dua OPSPEK sekaligus? Mendingan di kampus ada Raka-Raka ganteng yang sedikit melipur. Lha di sini? Yang ada tampang-tampang jutek kakak-kakak sesama jenis yang udah mau lulus ini?&lt;br /&gt;            Semua anak diberi sekantung plastik harta dan papan nama yang disebut nyawa. Dalam kantong harta terdapat benang dan jarum untuk menambal kasur, buku harian untuk daftar kesalahan, dan bolpen. Papan namaku bertuliskan COMOT. Itu namaku selama POSMA. RINI COMOT!!! Ketika aku bertanya pada kakak-kakak unit, kenapa aku dinamai seperti itu, Jawabannya : “Karena elo suka pinjam barang orang tanpa bilang permisi. Alias Comat-Comot!” Gila! Jadi mereka pun terlibat jadi mata-mata dalam gojlokan asrama ini? OPSPEK Kampus siang hari, POSMA Asrama malam hari. Lengkap sudah penderitaanku sebagai anak baru.&lt;br /&gt;            Hari pertamapun aku sudah kena tergur. “Comot! Tahu apa kesalahanmu pagi tadi?” Tanya kakak-kakak panitia khusus yang mukanya asem-asem itu. Aku mengingat-ingat lantas menggeleng. “Ini punya siapa?” Dia menyodorkan kantung plastik berisi pakaian dalam yang basah. Loh, itu punyaku. Kenapa bisa ada di tangannya? “Ingatkah kamu, dimana kamu menaruhnya sehabis mandi tadi?” Wah, aku sedang stress berat menghadapi dua penggojlokan sekaligus, jadi gak bisa berpikir apalagi mengingat. Aku menggeleng aja biar aman. “Kami menemukan ini di pinggir bak mandi!” Suaranya keras sampai2 yang lainpun mendengar. Bahkan ada yang terkikik-kikik. “Diam semua! Dengarkan kakak! Apa yang telah dilakukan Comot benar-benar memalukan! Tidak boleh terulang oleh siapapun! Kebiasaan buruk di rumah jangan dibawa ke asrama ini! Kita harus memulai suatu kehidupan bersama yang lebih baik! Dengar tidak? Bagaimana jika pakaian dalam ini terjatuh dan masuk ke dalam bak mandi? Padahal bak mandi dipakai bersama? Bagaimana Comot?”&lt;br /&gt;            “Menjijikkan. Kak.” Jawabku.&lt;br /&gt;            “Nah, udah tau kalo menjijikkan. Air seluruh bak bisa jadi asin semua! Tau! Ingat baik-baik peristiwa memalukan ini. Jangan sampai terulang lagi! Yang lainpun harus belajar dari kejadian ini! Paham?!” Oh, my God. Badanku jadi lemes. Belum pernah Aku dipermalukan seperti itu. Akupun dihukum menguras bak mandi esok hari. Malam itu juga, ada seorang anak yang nekat mau keluar saja dari asrama gara-gara tidak tahan. Suster sudah mencegah, bahkan telpon keluarganya, karena sudah larut malam. Tapi anak itu malah teriak-teriak dan memaksa untuk keluar. Akhirnya suster memperbolehkan keluar tapi esok hari setelah dia mendapatkan tempat kost yang jelas.&lt;br /&gt;            Hari kedua, aku ditegur lagi. Tak ada satu haripun tanpa teguran. Kali ini kakak yang lain lagi. “Comot! Lihat wajah saya baik-baik. Apakah kamu tadi pagi merasa bertemu dengan wajah ini?” Waduh, aku lupa. Lantas menggeleng. “Wajah ini adalah wajah kakak angkatan di Fakultasmu. Tadi pagi kita papasan di kampus. Kenapa ketika saya tersenyum padamu, kamu tidak menanggapinya?”&lt;br /&gt;            “Aduh, saya lupa-lupa ingat sama wajah kakak. Rasanya pernah ketemu di mana gitu, tapi ragu-ragu. Sorry ya , Kak.”&lt;br /&gt;            “Lain kali, jika bertemu orang yang wajahnya kau sebut lupa-lupa ingat itu, jangan ragu untuk melempar senyum dan sapaan. Senyum dan sapaan bisa mendatangkan banyak teman. Kita sama-sama orang rantau dan Cuma numpang belajar di sini, jadi butuh banyak teman agar bisa bertahan hidup. Mengerti?”&lt;br /&gt;            “Ya, Kak. Terimakasih.” Jawabku. Akhirnya aku disuruh berkenalan dengan kakak-kakak angkatan sebanyak duapuluh orang dan harus ingat namanya.Benar-benar keterlaluan!&lt;br /&gt;            Hari ketiga, orangtuaku datang menjenguk. Aku hanya diberi waktu lima menit untuk bertemu. Yang benar saja! Ayah dan ibuku datang jauh-jauh menempuh perjalanan 3 jam dengan berganti bus kota tiga kali dan aku hanya boleh menemui mereka lima menit? Aku ingin marah, tapi yang ada malah nangis.&lt;br /&gt;            “Sudah jangan cemen.” Komentar ibuku. Ibu membawakanku lebih banyak baju karena ketika aku datang hanya membawa beberapa stel. “Ini semua kan supaya kamu jadi anak yang kuat seperti kakak-kakak yang lain. Ikuti saja nasihat suster dan para kakak. Mereka pasti merancang ini sema dengan tujuan baik. Biar kamu tidak lamban lagi. Biar kamu tanggung jawab. Nggak kayak di rumah.” Ujar ibuku lagi. Tamu-tamu lain selain keluarga inti ditolak semua selama POSMA. Hanya diminta meninggalkan pesan dan boleh datang lagi setelah POSMA usai.&lt;br /&gt;            Hari keempat kami harus mengikuti retret yang dibawakan oleh seorang pastur. Aku ngantuk berat selama kegiatan itu sehingga apa yang diucapkan pastur itu hanya lewat saja. Untung teman di sebelahku baik hati. Setiap kepalaku terantuk, dia segera mencubit lenganku agar segera bangun dan tidak menuai masalah.&lt;br /&gt;            Hari kelima kami mengikuti misa. Sepanjang misa kudus, aku hanya melelehkan air mata saja. Teristimewa teringat bapak dan ibu yang hanya kutemui lima menit itu. Kejam banget! Sebuah tangan baik menyentuh pundakku, lantas menyodorkan tisyu untukku. Hingga kinipun peristiwa itu tidak pernah kulupa . Akupun selalu mengenang pemilik tangan baik itu. Sesama peserta POSMA yang penat namun masih sempat memperhatikan teman yang menangis di sebelahnya.&lt;br /&gt;            Hari keenam kami harus mengikuti jalan salib. Setelah itu renungan. Kakak-kakak itu memang keterlaluan. Masa yang distel kaset Ayah-nya Ebie GE-AD dan Ibu-nya Iwan Fals. Tentu saja mataku sampai bengap, pipiku bengkak, dan hidungku merah gara-gara menangis terus sepanjang renungan! Aku belum pernah pergi jauh dari bapak ibuku. Sekali pergi jauh, lah kok nelangsa begini! Gimana hatiku nggak tambah pilu mendengar lagu-lagu itu! Sungguh terlalu!&lt;br /&gt;            Hari ketujuh, pemeriksaan kelengkapan barang-barang pribadi. Apa pada bawa ember, gayung, piring, gelas, sendok garpu, sprei, sarung bantal, selimut, dan gembok? Jangan sampai pinjam-pinjam milik orang lain melulu. Kalau orang lain lagi makai, msosok gak nyuci, mosok gak makan, mosok gak tidur pakai sprei? Untung barangku lengkap! Yang gak lengkap dikerjain kakak-kakak, suruh nari, suruh deklamasi, suruh njoget! Tapi sayangnya belum kuberi nama. Akhirnya dapat hukuman juga.&lt;br /&gt;            “Kamu mau menampilkan kebolehan apa?” Tanya kakak.&lt;br /&gt;            “Acting, kak!” Semua terhenyak. Karena sejak tadi yang ada nyanyi, nari, dan deklamasi aja. Akupun maju ke tengah ruangan. Berdiri menatap langit-langit, lalu menunduk dan menjatuhkan badan. Lantas menangis keras-keras. Kuakui, itu bukan acting, tapi nangis beneran karena aku hampir gila menghadapi dua gojlokan sekaligus! Semua orang malah terkesima. Habis itu pada tepuk tangan! Huah!!! Bahkan seorang kakak bilang, kalau aku berbakat dan ikut UKM teater aja.&lt;br /&gt;            Hari kedelapan kami retret lagi. Itupun hanya lewat lagi. Gara-gara aku terkantuk-kantuk. Rasanya capek banget. Mata ini rasanya berat banget. Badan ini ngilu semua. Tuhan, kenapa aku tidak bisa pingsan seperti teman-teman yang lain, sehingga bisa digotong dan disuruh istirahat di ruang P3K? Dipijiti para kakak lagi! Kenapa aku malah waras terus begini menghadapi jalan sempit? Oh, Tuhan, kau benar-benar mengabulkan doaku agar kuat melampaui ini.&lt;br /&gt;            Hari kesembilan, kami dimarah-marahi habis sama kakak-kakak. Mosok daftar kesalahanku ada limabelas biji dan aku merasa tidak melakukan pelanggaran itu. Teman-temanku yang lain juga begitu lantas semua protes pada kakak-kakak itu.&lt;br /&gt;            “Daftar ini dibuat atas laporan kakak-kakak seunit kalian! Kalau kalian keberatan, tanyakan langsung pada mereka! Mereka semua sedang berdoa di halaman kapel!” Maka serentak kamipun berlari ke sana. Dan ternyata, di sana para kakak menyambut kami dengan lilin di tangan dan menyanyikan sebuah lagu dari kaset Civita “I will never forget you my people….I will carft you on the palm of my hand….I will never forget you…I will never leave you orphant…I will neve forget my own….” Mereka memeluki kami satu per satu dalam keharuan. Aku nangis lagi di pelukan kakak tertua. Selesai sudah penggojlokan ini. Hilang penatku. Terbang rasa benciku pada kakak-kakak yang selama ini kuanggap sebagai mata-mata dan pencari kesalahan.&lt;br /&gt;            Benar kata Silvi, belum ada sebulan aku sudah hapal peraturan asrama di luar kepala. Dan mereka benar-benar membantuku meskipun dengan cara yang mampu menguras tenaga dan air mataku. Aku nyaris gila dengan POSMA di asrama. Tapi paling tidak aku belajar sesuatu, yaitu mengungkapkan apa yang jadi perasaanku. Tidak memendamnya sendiri dan menjadi beban hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-3773056332942175763?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/3773056332942175763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/06/asrama-membuatku-gila-ada-di.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/3773056332942175763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/3773056332942175763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/06/asrama-membuatku-gila-ada-di.html' title='ASRAMA MEMBUATKU GILA!! (ada di www.YukNulis.com)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-2937903910820287179</id><published>2010-06-29T23:23:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T23:25:53.367-07:00</updated><title type='text'>KISAH SEDIH HARI MINGGU (Janan Lupakan Lingkungan, pernah dimuat di Warta Klara Bekasi Utara)</title><content type='html'>JANGAN LUPAKAN LINGKUNGAN!&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dulu waktu masih jadi Mudika dan tinggal di kaki Merbabu, Jawa Tengah, para remaja biasanya dikirim ke Boyolali, Salatiga, Solo, Semarang, atau Yogyakarta untuk bersekolah. Sebab di kota kecil kami belum ada sekolah yang bermutu. Di kota-kota tempat kami menimba ilmu itu, sebagian besar diantara kami aktif dalam kegiatan kelompok orang muda berbendera Katolik. Menjadi anggota koor di lingkungan tempat kami kost, mengikuti misa mahasiswa di kampus, menjadi petugas Misa Jumat pertama di sekolah, menjadi volunteer LSM berbendera Katolik, bahkan ada juga yang menjadi pengurus PMKRI dan menjadi ketua KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) di lingkungan kampusnya.&lt;br /&gt;            Namun setiap hari Sabtu dan Minggu kami selalu pulang kampung. Memang ada juga yang hanya pulang dua minggu atau sebulan sekali karena kesibukan tertentu di tempatnya bersekolah. Kami selalu berkumpul di kapel kota kecil kami mulai pukul 17.00.  Kadang kami latihan koor, membantu merangkai bunga dan membersihkan kapel, mendampingi sekolah minggu, mendiskusikan kegiatan Mudika yang akan datang, memperbincangkan kondisi terbaru kapel berikut umatnya, menengok saudara seiman yang sakit, melakukan kunjungan anjangsana, mengikuti kegiatan doa di suatu lingkungan, atau bahkan kadang hanya duduk di teras kapel sambil gitaran.&lt;br /&gt;            Sabtu dan Minggu adalah waktu istimewa bagi kami untuk bertemu kembali setelah hari-hari biasa kami lewatkan di kota lain. Sabtu dan Minggu juga menjadi saat yang spesial sebab kami bisa kembali melayani lingkungan kami yang telah beberapa hari kami tinggalkan. Sampai-sampai setelah beberapa anggota senior bekerja di kota yang lebih jauh seperti Jakarta atau Surabaya atau sudah menikah, dan jumlah kami berkurang, sebuah lagu sendu dari Koes Plus sering didendangkan sambil duduk-duduk di teras kapel, “Sabtu malam kusendiri….tiada yang menemani….di sekitar kulihat diam…tiada seindah dulu…” Setelah kami semua pergi, kini kapel kami hanya dihadiri kaum sepuh. Benar-benar Kisah Sedih Di Hari Minggu! Bahkan yang dulu statusnya stasi kini turun menjadi wilayah karena jumlah umatnya menyusut. Mudikanyapun habis.&lt;br /&gt;            Tapi suatu semangat yang bisa kami pelajari dari masa-masa Mudika kami adalah : janganlah pernah melupakan lingkungan! Sejauh apapun kita sudah mengikuti kegiatan gerejawi, tetap perhatikanlah lingkungan kita. Selalu kembalilah kepada lingkungan. Sebab di sanalah kehidupan umat basis berakar dan bertumbuh. Saudara seiman selingkungan adalah saudara terdekat kita. Kalau kita sedang sakit, berduka karena ada anggota keluarga yang meninggal, butuh bantuan karena mau menikahkan anak, atau butuh dukungan doa, siapa yang akan kita datangi pertama kali kalau bukan orang-orang di lingkungan?&lt;br /&gt;            Lingkungan pula yang telah membesarkan dan menginspirasi kita. Bukankah kita bisa aktif berkiprah di tingkat wilayah, paroki, keuskupan, dan kelompok-kelompok kategorial lainnya juga karena berangkat dari kegiatan kita di lingkungan? Di lingkunganlah kaki kita berpijak. Jika  kita bisa berkarya di mana-mana tetapi melupakan lingkungan kita sendiri, bukankah seperti kacang lupa kulit? Atau berkiprah di mana-mana tapi tidak dikenal saudara selingkungan, bukankah bagaikan kecambah tanpa menyentuh tanah? Tumbuh sih tumbuh, tapi apakah akan sempurna?&lt;br /&gt;            Seorang saudara, aktivis perhimpunan karyawan Katolik di suatu kawasan industri, pernah mengeluh, merasa kesepian di gereja Katolik. Sebab setiap kali ke gereja, tak ada orang yang dikenalnya. Kasihan dia, aktif menggereja di tempatnya bekerja tapi tak dikenal oleh saudara selingkungannya sendiri. “Daftarkanlah dirimu di lingkungan tempat kamu tinggal. Ikuti kegiatannya dan kenali orang-orangnya. Pasti deh kamu bakalan menemukan sebuah keluarga dan tidak akan kesepian lagi jika pergi ke gereja parokimu. Namanya juga keluarga, pasti ada lebih dan kurangnya. Ada suka dan dukanya. Tapi nikmati aja demi pertumbuhan iman kita.” Usul saya. Diapun membuktikannya.&lt;br /&gt;            “Pak, setelah aktif di tingkat wilayah nanti, semoga  semangat menggerejamu di tingkat lingkungan tidak mengendur ya.” Saya mengingatkan suami yang kebetulan dipercaya menjadi Ketua Wilayah baru. “Bukankah jika kita berani merantau biasanya juga tidak lupa kirim uang ke kampung? Jadi semakin kita banyak berkiprah di luar lingkungan, semakin banyak pula kontribusi yang kita berikan pada lingkungan. Bukan malah lupa-lupa lali. Saudara-saudara selingkungan pasti kangen. Gitu, Pak’e!” Lanjut saya. Selamat atas dilantiknya para pengurus wilayah dan lingkungan di Paroki St. Klara. Semoga Tuhan kan selalu memberkati tugas pelayanan Bapak dan Ibu sekalian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-2937903910820287179?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/2937903910820287179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/06/kisah-sedih-hari-minggu-janan-lupakan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2937903910820287179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2937903910820287179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/06/kisah-sedih-hari-minggu-janan-lupakan.html' title='KISAH SEDIH HARI MINGGU (Janan Lupakan Lingkungan, pernah dimuat di Warta Klara Bekasi Utara)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-760819210130850348</id><published>2010-03-25T10:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T10:04:20.867-07:00</updated><title type='text'>IMAN YANG MANDIRI (Warta Klara, Minggu 21 maret 2010)</title><content type='html'>IMAN YANG MANDIRI&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Beberapa waktu lalu seorang saudari datang ke rumah. Dulu dia seiman dengan kita, namun belakangan dia berubah keyakinan. Kalau membenci dan menjauhinya, apa bedanya saya dengan Saulus yang begitu geram pada orang-orang yang berkeyakinan lain? Saya dituntut untuk seperti Paulus, yang menghargai pengajaran yang berbeda dari yang diyakininya. Baiklah, saya terima dia tetap sebagai saudara dan saya hargai pilihan hidupnya. Supaya dia tahu bahwa sebenarnya yang ditinggalkannya adalah orang-orang yang tak pernah punya dendam dan kebencian, termasuk pada mereka yang berpaling.&lt;br /&gt;            “Sebenarnya aku berubah keyakinan bukan karena tidak suka atau tidak srek pada ajaran yang pernah kuterima. Apalagi membenci Yesus. Bukan. Bukan karena itu. Aku hanya kecewa pada orang-orangnya.” Begitu dia mulai curhat. “Dulu, waktu kapel di dusun itu mulai dibangun, aku yang menyumbangkan kursi-kursinya. Kupilih dari kayu jati yang paling baik. Tapi apa balasan umat padaku? Hanya karena suatu kesalahan kecil, mereka menjauhiku, tidak menghormati dan menghargaiku lagi. Orang Katolik kok kayak gitu.” Air matanyapun mulai menggenang.&lt;br /&gt;            Sungguh kasihan saudariku ini. Dia membangun imannya di atas pasir. Sehingga ketika hujan turun dan terjadi banjir, hancurlah rumahnya. “Jadi sebenarnya anda masih mencintai Yesus? Seharusnya Yesus saja yang anda pegang dan bukan petingkah orang-orang itu. Masih jauh lebih banyak orang Katolik yang benar-benar Katolik,” kilahku. Tapi dia sudah terlanjur tidak mau kembali. Lagi-lagi karena khawatir pada apa kata orang. Saya sedih tidak bisa membantunya.&lt;br /&gt;            Suatu ketika anak sulung saya yang sudah kelas 4 SD juga tidak mau ikut sekolah minggu lagi. “Di sekolah minggu sudah tidak ada si A, si B , dan si C sih. Aku kan cocoknya sama mereka.” Begitu alasannya. Rupanya teman-teman dekatnya itu sudah ikut latihan putra-putri altar di kapel. “Bukankah ikut kegiatan gereja dan memuliakan Tuhan itu tidak tergantung pada ada atau tidak adanya teman yang cocok? Tapi karena kita bersyukur dan cinta sama Yesus?” Tanya saya.  Untunglah di paroki ada pelajaran komuni pertama, sehingga dia segera menemukan kawan yang cocok kembali di sana.&lt;br /&gt;            Begitu pentingnya kah penghormatan dan penghargaan dari umat lain, kawan yang cocok, pastor yang ideal, ketua lingkungan atau wilayah yang diidamkan, bangunan gereja yang megah, dalam pemantapan dan ketahanan iman kita? Mungkin penting. Tapi lebih penting mana ya dibanding dengan kasih dan pengorbanan yang telah diberikan Yesus? Bukankah seharusnya hanya cinta kita pada Yesus saja yang membuat iman kita layak untuk dipertahankan? Bukankah hanya persahabatan kita dengan Yesus saja yang membuat kita bersemangat untuk hidup menggereja dan menunjukkan buah-buah iman?&lt;br /&gt;            Ya, Yesus…tolonglah kami untuk membangun rumah di atas batu penjuru, yaitu diri-Mu sendiri. Sehingga ketika hujan datang dan air bah menerjang, bangunan kami tetap kokoh. Karena hanya tangan-Mu saja yang menyangganya. Bukan disangga oleh apa kata orang lain, komentar orang lain, sikap orang lain, dan ada atau tidak adanya kawan yang sesuai dengan keinginan hati kami.&lt;br /&gt;            Semoga ketika kami mengikuti-Mu, hidup menggereja, dan melakukan apa yang Kauajarkan, hanya wajah-Mu lah yang kami pandang. Hanya tergantung pada-Mu. Bukan tergantung pada siapa ketua lingkungannya, siapa ketua wilayahnya, siapa romonya, siapa kawan cocok yang hadir, seperti apa bangunan gerejanya, dan sebagainya. Jadikanlah iman kami, iman yang mandiri di atas pondasi-Mu ya Yesus.&lt;br /&gt;Dan semoga kamipun bisa menjadi kawan yang cocok, orang yang menghargai dan menghormati, orang yang selalu memberikan komentar dan masukan yang positif, dan pelayan yang budiman bagi sesama. Sehingga  kami pun bisa bersama-sama turut membantu-Mu saling menyangga bangunan-bangunan iman kami. Amin. Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-760819210130850348?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/760819210130850348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/03/iman-yang-mandiri-warta-klara-minggu-21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/760819210130850348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/760819210130850348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/03/iman-yang-mandiri-warta-klara-minggu-21.html' title='IMAN YANG MANDIRI (Warta Klara, Minggu 21 maret 2010)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-6450615553584945370</id><published>2010-02-24T23:25:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T23:26:24.695-08:00</updated><title type='text'>SUSTER ROSITA KAMI</title><content type='html'>Suster Rosita Kami&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dia adalah gadis paling menakjubkan di asrama kami. Bukan karena paling modis. Tapi, paling alami, trengginas, dan cerdas. Gadis lain tidak akan percaya diri jika ke kampus tanpa bedak, lipstik, dan parfum. Dia cukup menyisir rambut dan merapikan alisnya yang tebal itu. Kecantikannya sudah terpancar sempurna. Rambut hitam panjangnya, bulu mata lentiknya, bibir ungunya, dan kulitnya yang bersih. Benar-banar anugerah Surga yang jarang dimiliki sekaligus oleh seorang gadis.&lt;br /&gt;            Aku menjadi dekat dengannya karena tinggal dalam satu unit. Bersamanya terasa nyaman dan percaya. Mungkin karena dialah yang pertama kali menyambutku saat aku datang ke asrama. Dia yang membawakan rantang makan siangku.&lt;br /&gt;            “Aku dengar dari Suster Kepala siang ini akan datang warga baru, jadi tadi kuambilkan makan siang. Pastilah kamu belum sempat makan. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Tapi sayangnya siang ini aku ada kuliah, jadi harus buru-buru ke kampus. Maaf ya, tidak bisa menemanimu makan. Sampai nanti, Nania.” Tutur katanya bersahabat dan gerak tubuhnya seperti malaikat. Dia begitu baik, bahkan mau mengambilkan jatah makan siang untuk seseorang yang belum dikenalnya.&lt;br /&gt;            Dia memang berbeda. Setiap gadis akan merasa geer jika diperhatikan lawan jenisnya. Dia tidak. Bahkan sering menjodohkan teman-teman di asrama dengan pemuda yang sedang mendekatinya. Padahal pemuda-pemuda itu ganteng, berotak cemerlang, berhati berlian, kuliah di fakultas favorit, dan berkecukupan materi. Lantas apa yang dia cari? Atau jangan-jangan dia penyuka sesama jenis? Hi!&lt;br /&gt;            “Kalau aku lesbian, tentunya sudah sejak dulu aku naksir kamu, Nania!” Jawabnya gemas sambil menarik hidungku hingga pedas. Dia sebenarnya mau berteman dengan siapa saja tanpa pilih kasih. Bahkan teman yang sering datang menemuinya di asrama kebanyakan laki-laki. Begitu banyak sahabatnya, sampai-sampai banyak yang iri padanya. Tapi tak ada seorangpun yang berhasil jadi pacarnya. Katanya, kalau lebih tua dianggap kakak. Sedangkan yang sepantaran dianggap adik. Dia pernah cerita sudah terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang menjadi pegangan hidupnya selama ini. Siapa?&lt;br /&gt;            Tidak berbedakpun seperti bidadari. Lantas dia terpikir untuk memotong rambutnya supaya terlihat jelek. Tapi yang ada justru dia semakin menawan karena kulit bersihnya kian memancar. Dan suatu malam aku berhasil mencegahnya merusak wajah dengan silet.&lt;br /&gt;“Kenapa, Ros?” tanyaku sambil memeluknya erat. Rosita menangis, seolah menyesali keelokan jasmaninya. “Cerita, Ros. Cerita!” Bujukku.&lt;br /&gt;“Nan, aku ingin sekali masuk biara.” Jawabnya dengan bibir bergetar.&lt;br /&gt;“Kalau mau masuk biara gampang, Ros, tinggal daftar saja. Tapi nggak perlu membenci diri-sendiri. Yang barusan kaulakukan itu dosa, Ros. Kau sudah diberi keindahan oleh Tuhan, kenapa justru tidak bersyukur?” Aku hampir marah.&lt;br /&gt;“Kecantikan ini menghalangiku, Nan.” Dia menangis sejadi-jadinya. Lantas setelah reda, dia mulai bercerita. Dulu, waktu masih SMU dia terkesan pada kata-kata seorang biarawati. Katanya, jika ingin menjadi orang berguna, bersiap-siaplah untuk bersedia bekerja bagi orang lain tanpa bayaran. Rosita gundah dengan ucapan itu.&lt;br /&gt;Di sekitarnya, semua profesi dihargai dengan gaji bulanan atau honor. Satu-satunya profesi tanpa bayaran yang dikenalnya adalah menjadi rohaniwan atau rohaniwati. Mereka mengabdi sepenuh hati dalam kaul kemiskinan dan tulus bekerja agar orang lain merasa bahagia. Tanpa bayaran.&lt;br /&gt;“Aku berfikir, hanya dengan menjadi seorang biarawati aku akan menemukan hidupku, Nan. Aku akan menemukan Tuhan. Tapi orangtuaku menentangnya. Aku ini anak perempuan satu-satunya. Semua yang dimiliki orangtuaku akan diwariskan padaku. Bahkan ayahku dengan keras mengatakan, buat apa aku jadi suster. Tidak punya keturunan, tidak punya harta, tidak punya kedudukan dalam masyarakat. Pekerjaannya berat tapi tetap saja dicela umat. Lagipula, siapa yang akan mengurus perusahaan dan ayah-ibu jika sudah tua. Semua dibebankan padaku. Toh jika ingin berguna, katanya, aku bisa jadi pengusaha yang gemar berderma. Tapi bukan itu maksudku, Nan. Lalu ayahku mengirimku ke sini, agar masuk ke Fakultas Ekonomi. Dia berharap, kelak aku menjadi pengusaha sukses. Apalagi wajahku menarik, tidak sulit untuk menjerat anak pejabat.”&lt;br /&gt;“Oh, My God.” Mulutku hanya bolong melompong mendengar kisahnya. Kini aku jadi paham, kenapa dia jarang pulang ke rumahnya. Kami boleh pulang dua minggu sekali. Tapi Rosita bahkan tiga atau empat bulan baru pulang, itupun setelah dijemput oleh seseorang. Sepupu yang diutus ayahnya.&lt;br /&gt;Sore itu saat aku akan pulang ke rumah dan melewati ruang tamu asrama, seorang pemuda yang biasa menjemput Rosita berdiri di pintu. Sepertinya, Rosita tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Mungkin pemuda itu belum janjian. Dengan sopan pemuda itu tersenyum padaku. Kuminta dia menunggu dan aku kembali ke kamar memanggil Rosita.&lt;br /&gt;“Ros, sepupumu datang.” Tapi Rosita tidak mau menemui, bahkan menyuruhku untuk mengatakan kalau dia sedang istirahat tak bisa diganggu. “Ros, dia datang dari jauh membawa mandat ayahmu. Tolong hargai dia dong, Ros!” Bujukku. Rosita menggeleng. “Kamu boleh menolak tidak mau pulang, tapi paling tidak temui dia!” Rosita tetap membatu. Aku jadi hilang kesabaran. “Ros, dengar ya, percuma saja kamu ingin menjadi orang berguna bagi sesama tapi kamu tidak peduli pada keluargamu sendiri. Kamu tidak tahu kan sepupumu itu datang membawa berita apa? Bagaimana kalau ternyata ayah atau ibumu sakit? Kau tetap tidak peduli?” Akhirnya sahabatku itu luluh dan minta ditemani untuk bertemu sepupunya.&lt;br /&gt;Ternyata benar, ayahnya sakit keras. Suster Kepala dan beberapa teman turut menjenguk. Rupanya ayahnya itu terhibur dengan kedatangan kami. Terlebih karena tersentuh oleh doa yang dipanjatkan Suster Kepala bagi kesembuhannya. Dengan suara lirih ayahnya ingin Rosita mendekat. Lantas membisikkan sesuatu ke telinganya. Senyum pun merekah di bibir ungu sahabatku itu dan cepat-cepat dipeluknya ayahnya.&lt;br /&gt;Sebulan kemudian, Rosita sudah tidak tinggal di asrama lagi. Tapi saudara sepupunya itu masih sering datang untuk menemuiku. Dan pagi ini, adik iparku Suster Rosita, baru saja selesai mengucapkan kaul kekalnya. Nanti sore, dia akan berangkat ke Papua untuk melayani pendidikan anak-anak suku Amungme.&lt;br /&gt;“Nan, titip ayah dan ibuku ya.” Ucapnya. Aku mengangguk pasti. Ayah dan ibu nya tampak haru dan merasa menjadi yang paling berbahagia atas peristiwa penuh berkat-Nya ini.&lt;br /&gt;“Itu Suster Rosita kami!” Teriak anak-anakku sambil memeluk buliknya.&lt;br /&gt;“Bukan. Sekarang sudah menjadi Suster Rosita milik semua orang.” Kami tertawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-6450615553584945370?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/6450615553584945370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/suster-rosita-kami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6450615553584945370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6450615553584945370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/suster-rosita-kami.html' title='SUSTER ROSITA KAMI'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7994409853859111982</id><published>2010-02-24T23:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T23:02:46.920-08:00</updated><title type='text'>Jangan Lupakan Lingkungan! (Warta Klara 21 Februari 20010)</title><content type='html'>JANGAN LUPAKAN LINGKUNGAN!&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dulu waktu masih jadi Mudika dan tinggal di kaki Merbabu, Jawa Tengah, para remaja biasanya dikirim ke Boyolali, Salatiga, Solo, Semarang, atau Yogyakarta untuk bersekolah. Sebab di kota kecil kami belum ada sekolah yang bermutu. Di kota-kota tempat kami menimba ilmu itu, sebagian besar diantara kami aktif dalam kegiatan kelompok orang muda berbendera Katolik. Menjadi anggota koor di lingkungan tempat kami kost, mengikuti misa mahasiswa di kampus, menjadi petugas Misa Jumat pertama di sekolah, menjadi volunteer LSM berbendera Katolik, bahkan ada juga yang menjadi pengurus PMKRI dan menjadi ketua KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) di lingkungan kampusnya.&lt;br /&gt;            Namun setiap hari Sabtu dan Minggu kami selalu pulang kampung. Memang ada juga yang hanya pulang dua minggu atau sebulan sekali karena kesibukan tertentu di tempatnya bersekolah. Kami selalu berkumpul di kapel kota kecil kami mulai pukul 17.00.  Kadang kami latihan koor, membantu merangkai bunga dan membersihkan kapel, mendampingi sekolah minggu, mendiskusikan kegiatan Mudika yang akan datang, memperbincangkan kondisi terbaru kapel berikut umatnya, menengok saudara seiman yang sakit, melakukan kunjungan anjangsana, mengikuti kegiatan doa di suatu lingkungan, atau bahkan kadang hanya duduk di teras kapel sambil gitaran.&lt;br /&gt;            Sabtu dan Minggu adalah waktu istimewa bagi kami untuk bertemu kembali setelah hari-hari biasa kami lewatkan di kota lain. Sabtu dan Minggu juga menjadi saat yang spesial sebab kami bisa kembali melayani lingkungan kami yang telah beberapa hari kami tinggalkan. Sampai-sampai setelah beberapa anggota senior bekerja di kota yang lebih jauh seperti Jakarta atau Surabaya atau sudah menikah, dan jumlah kami berkurang, sebuah lagu sendu dari Koes Plus sering didendangkan sambil duduk-duduk di teras kapel, “Sabtu malam kusendiri….tiada yang menemani….di sekitar kulihat diam…tiada seindah dulu…” Setelah kami semua pergi, kini kapel kami hanya dihadiri kaum sepuh. Benar-benar Kisah Sedih Di Hari Minggu! Bahkan yang dulu statusnya stasi kini turun menjadi wilayah karena jumlah umatnya menyusut. Mudikanyapun habis.&lt;br /&gt;            Tapi suatu semangat yang bisa kami pelajari dari masa-masa Mudika kami adalah : janganlah pernah melupakan lingkungan! Sejauh apapun kita sudah mengikuti kegiatan gerejawi, tetap perhatikanlah lingkungan kita. Selalu kembalilah kepada lingkungan. Sebab di sanalah kehidupan umat basis berakar dan bertumbuh. Saudara seiman selingkungan adalah saudara terdekat kita. Kalau kita sedang sakit, berduka karena ada anggota keluarga yang meninggal, butuh bantuan karena mau menikahkan anak, atau butuh dukungan doa, siapa yang akan kita datangi pertama kali kalau bukan orang-orang di lingkungan?&lt;br /&gt;            Lingkungan pula yang telah membesarkan dan menginspirasi kita. Bukankah kita bisa aktif berkiprah di tingkat wilayah, paroki, keuskupan, dan kelompok-kelompok kategorial lainnya juga karena berangkat dari kegiatan kita di lingkungan? Di lingkunganlah kaki kita berpijak. Jika  kita bisa berkarya di mana-mana tetapi melupakan lingkungan kita sendiri, bukankah seperti kacang lupa kulit? Atau berkiprah di mana-mana tapi tidak dikenal saudara selingkungan, bukankah bagaikan kecambah tanpa menyentuh tanah? Tumbuh sih tumbuh, tapi apakah akan sempurna?&lt;br /&gt;            Seorang saudara, aktivis perhimpunan karyawan Katolik di suatu kawasan industri, pernah mengeluh, merasa kesepian di gereja Katolik. Sebab setiap kali ke gereja, tak ada orang yang dikenalnya. Kasihan dia, aktif menggereja di tempatnya bekerja tapi tak dikenal oleh saudara selingkungannya sendiri. “Daftarkanlah dirimu di lingkungan tempat kamu tinggal. Ikuti kegiatannya dan kenali orang-orangnya. Pasti deh kamu bakalan menemukan sebuah keluarga dan tidak akan kesepian lagi jika pergi ke gereja parokimu. Namanya juga keluarga, pasti ada lebih dan kurangnya. Ada suka dan dukanya. Tapi nikmati aja demi pertumbuhan iman kita.” Usul saya. Diapun membuktikannya.&lt;br /&gt;            “Pak, setelah aktif di tingkat wilayah nanti, semoga  semangat menggerejamu di tingkat lingkungan tidak mengendur ya.” Saya mengingatkan suami yang kebetulan dipercaya menjadi Ketua Wilayah baru. “Bukankah jika kita berani merantau biasanya juga tidak lupa kirim uang ke kampung? Jadi semakin kita banyak berkiprah di luar lingkungan, semakin banyak pula kontribusi yang kita berikan pada lingkungan. Bukan malah lupa-lupa lali. Saudara-saudara selingkungan pasti kangen. Gitu, Pak’e!” Lanjut saya. Selamat atas dilantiknya para pengurus wilayah dan lingkungan di Paroki St. Klara. Semoga Tuhan kan selalu memberkati tugas pelayanan Bapak dan Ibu sekalian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7994409853859111982?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7994409853859111982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/jangan-lupakan-lingkungan-warta-klara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7994409853859111982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7994409853859111982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/jangan-lupakan-lingkungan-warta-klara.html' title='Jangan Lupakan Lingkungan! (Warta Klara 21 Februari 20010)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-5390487966901137062</id><published>2010-02-24T22:57:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T23:01:04.934-08:00</updated><title type='text'>MASIH JADI SINGLE FIGHTER? (Warta Klara 31 januari 2010)</title><content type='html'>MASIH JADI SINGLE FIGHTER?&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri/ Antonius 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sudah membaca SANDAL JEPIT GEREJA karya Anang YB, yang pernah dibuatkan resensi oleh saudara Panjikristo dan dimuat di Warta Klara beberapa minggu lalu? Saya sudah. Sangat terasa, saya menemukan teman seperjalanan setelah membacanya. Kebetulan suami saya juga ketua lingkungan. Seorang Anang YB yang masih sangat muda, siap melabeli diri sebagai sandal jepit kala menjabat sebagai ketua lingkungan di Paroki Arnoldus Bekasi..&lt;br /&gt;            Menjadi ketua, dimanapun, bukankah harus menjadi yang paling siap untuk diinjak, agar yang lain tetap bisa berjalan. Begitu kira-kira pelajaran yang saya petik dari buku yang sangat laris itu. Tepat seperti ajaran Yesus. Yang terbesar adalah yang melayani. “Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu membesarkan orang-orang yang dipimpinnya!” Tulis Anang YB di akhir buku. Jadi bukan yang malah jadi besar sendirian diantara yang dipimpinnya ya?&lt;br /&gt;            Ini mengingatkan saya pada dua peristiwa. Sejak dulu saya memang paling senang jadi seksi acara dalam suatu pagelaran atau perayaan. Meskipun baru di lingkup sekolah saat perpisahan, kampus saat malam inagurasi, RT saat HUT RI, dan lingkungan saat natalan. Peristiwa pertama, saat saya dipercaya menjadi koordinator seksi acara natalan di lingkungan. Saya menganggap anggota seksi hanya berfungsi membantu saja, maka susunan acara,  materi acara, berikut pengisinya saya tentukan semua sendirian. Yang lain hanya saya mintai tolong untuk menyiapkan properti. Itupun saya yang merancang dan yang lain tinggal melaksanakan.&lt;br /&gt;            Semua berjalan baik, meriah, dan semua orang tampak senang. “Siapa yang menyiapkan tari anak-anak dan dramanya?” Saya dengar seorang ibu bicara pada salah satu anggota seksi acara. “Bu Giri.” Jawab anggota seksi acara itu. Serta merta sang ibu mendekati saya dan mengucapkan selamat serta pujian. Wah, bangga luar biasa. Saya jadi terkenal. Namun sesampai di rumah, saya merasakan kekosongan luar biasa. Semua pujian dilontarkan pada saya, padahal sebenarnya tanpa bantuan ibu-ibu anggota seksi acara, anak-anak yang turut pentas,  orangtua anak-anak yang pentas, dan hadirin yang apresiatif,  acara itu tak akan berjalan.&lt;br /&gt;            “Kamu over acting! Kamu sombong sekali! Kamu lupa pada dukungan ibu-ibu yang lain! Kamu jadi gede rasa atas segala pujian itu! Tanpa mereka kamu nol sama sekali!” Nurani saya terus-menerus menuduh dan membuat hati gelisah. Saya jadi kapok dipuji dan jadi pusat perhatian. Saya disanjung tapi merasa gagal!&lt;br /&gt;            Peristiwa kedua, kala menjadi koordinator seksi acara dalam HUT RI tingkat RT. Saya berusaha memperbaiki diri di sini. Anggota seksi acara yang lain saya libatkan dalam menentukan susunan, materi, dan pengisi acara. Masing-masing punya tanggungjawab untuk melatih anak-anak. Saya mengkoordinir anak-anak, Bu A melatih baca puisi, Bu B melatih tari, Bu C melatih fashion show, dst. Pokoknya bagi-bagi tugas. Acara lancar dan meriah. Semua yang hadir juga tampak senang. Dengan sangat bangga saya katakan pada ibu-ibu yang menanyakan siapa yang melatih tari, “Oh, Bu B yang melatih.” Merekapun berbondong-bondong menyalami Bu B.  Entahlah, saya tidak cemburu meskipun tak ada yang memuji saya. Saya malah merasa sangat lega, lengkap, dan penuh. Ini kerja tim dan kebanggaan yang diperoleh adalah milik bersama. Lebih berbobot dan berisi.&lt;br /&gt;            Sungguh, ternyata sebagai seorang pemimpin, sekecil apapun kelompok yang dipimpin, lebih baik untuk memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya daripada menjadi single fighter. Bekerja sendiri berarti belum bisa menjalin komunikasi dan kepercayaan pada yang dipimpin. Bisa bekerjasama dan membesarkan orang lain berarti orang-orang yang dipimpin benar-benar menaruh respek, kepercayaan, dan kepatuhan pada orang yang memimpinnya.&lt;br /&gt;            Saya bisa dan berani menuliskan ini bukan karena saya sudah mahir soal kepemimpinan lho. Saya malah baru belajar. Justru ketika saya mengalami sebagai pemimpin kecil dan mendapatkan sentuhan dari buku Anang YB. Buku ini benar-benar inspiratif untuk dijadikan bahan referensi bagi para ketua lingkungan, calon ketua lingkungan, dan semua umat agar tidak keder untuk jadi ketua lingkungan. Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-5390487966901137062?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/5390487966901137062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/masih-jadi-single-fighter-warta-klara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/5390487966901137062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/5390487966901137062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/masih-jadi-single-fighter-warta-klara.html' title='MASIH JADI SINGLE FIGHTER? (Warta Klara 31 januari 2010)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-2628594034355470682</id><published>2010-02-24T22:56:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T22:57:49.313-08:00</updated><title type='text'>SALDO KEBAIKAN (Warta Klara 8 November 2009)</title><content type='html'>SALDO KEBAIKAN&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ibu saya sudah berusia 62 tahun, tapi masih sangat enerjik. Bahkan saya yang 29 tahun lebih muda, kalah lincahnya. Waktu datang ke Bekasi dan mengajak jalan-jalan ke sebuah mal di Bekasi Barat, dengan cekatan dia menggandeng anak-anak saya untuk naik-turun jembatan penyeberangan. Sementara saya ditinggal begitu saja agak di belakang karena ngos-ngosan.&lt;br /&gt;            Puji Tuhan kesehatan ibu saya begitu baik. Bahkan ketika teman-teman dekat seangkatannya mulai kurang aktif karena terserang diabetes atau kolesterol, ibu masih gesit berorganisasi dan menggereja. Dasawisma, PKK, posyandu, senam jantung sehat, WK, paguyuban lansia, ziarah, retret…wah seabrek kegiatannya. Itulah cara ibu menikmati masa pensiun.&lt;br /&gt;Tante saya, adik ibu yang berusia beberapa tahun lebih muda, bahkan mulai keluar-masuk rumah sakit. Ibu juga yang mengantar dan menjaganya. Sampai-sampai saya dan adik-adik protes. Takut ibu kelelahan dan malah gantian jatuh sakit.&lt;br /&gt;“Aku malah akan sakit kalau melihat saudariku menderita sementara aku diam saja. Saudara bulikmu yang paling dekat kan hanya aku. Sudahlah, kamu tidak perlu khawatir. Kalau kita melakukan sesuatu yang baik, percayalah Tuhan pasti memberi kekuatan.” Begitu kilah ibu. Bahkan dia sempat menggalang dana dari saudara-saudara lain untuk biaya kemoterapi bulik. Ibu memang merasa tidak mampu memberi bantuan uang. Setiap ada saudara dan tetangga yang sakit atau sedang kesusahan dia lebih banyak memberikan tenaga dan perhatiannya.&lt;br /&gt;Saya jadi mengerti kenapa Yesus saat mengutus para murid pergi berdua-dua, tidak memperbolehkan mereka membawa bekal apapun selain tongkat. Juga seorang pemuda kaya yang ingin mengikuti Yesus harus menjual dulu hartanya dan membagikannya pada orang miskin. Kalau mereka punya uang, punya banyak perbekalan, punya barang bawaan banyak, maka dalam melayani harta benda itulah yang akan mereka berikan. Tapi ketika mereka tak punya apa-apa, mereka malah memberikan lebih dari itu. Yaitu tenaga, pikiran, waktu, bahkan nyawa. Yesus berharap para murid, pemuda kaya itu, dan kita memberikan diri. Seperti Dia. Menyerahkan seluruh dirinya demi cinta-Nya pada kita.&lt;br /&gt;Lantas kalau sudah begitu, nyambung juga nalar kita pada sabda bahagia Yesus. “Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah.” Yaitu yang tidak menaruh harapan pada harta duniawi tetapi lebih mengandalkan karunia surgawi. Ya, sabda Tuhan kadang baru bisa dipahami betul jika kita melihat atau mengalami suatu pengalaman iman.&lt;br /&gt;“Ibu tidak capek?” tanya saya suatu ketika.&lt;br /&gt;“Apa kamu pernah capek menabung? Bisa menabung dan punya uang simpanan rasanya senang kan? Hati tentram. Hidup terasa terjamin.”&lt;br /&gt;“Lho?”&lt;br /&gt;“Bukan hanya tabungan uang yang kita butuhkan dalam hidup ini. Kita juga perlu tabungan kebaikan. Berbuat baik itu seperti menabung. Mungkin bukan kita yang mengunduh hasilnya. Tapi orang lain dan anak-cucu kita. Berbuat baik ya berbuat baik saja, tidak perlu berpamprih. Namun bagaimanapun juga setiap kali kita berbuat baik, apapun bentuknya, kita sudah memiliki saldo untuk kehidupan.” Wah, hebat dia. Saya tak menyangka, dibalik kesederhanaan dan bibirnya yang mudah tersenyum itu tersimpan sesuatu yang berharga.&lt;br /&gt;Mungkin kesehatan, kegesitan, dan kelincahan yang dimilikinya di usia senja ini juga berkah Tuhan atas saldo-saldo kebaikan yang pernah ditabungnya sedari muda dulu. Semakin banyak menabung, semakin banyak saldonya. Semakin banyak melakukan penarikan tunai, semakin susutlah saldonya. Makin banyak berbuat baik, saldo kebaikan bertambah. Makin tegar tengkuk dan kerasan melakukan dosa, makin habislah saldo kebaikan itu. Saya pun disadarkan untuk mulai giat mengumpulkan saldo kebaikan itu. Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-2628594034355470682?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/2628594034355470682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/saldo-kebaikan-warta-klara-8-november.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2628594034355470682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2628594034355470682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2010/02/saldo-kebaikan-warta-klara-8-november.html' title='SALDO KEBAIKAN (Warta Klara 8 November 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-420726183713489745</id><published>2009-11-03T19:50:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T19:59:11.357-08:00</updated><title type='text'>Puisi-puisi Lintang (Beberapa pernah dimuat di MOLI, Majalah Mingguan Hidup)</title><content type='html'>YESUS      YANG    BAIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    YAYESUS    TERIMAKASIH     KARENA     ENGKAU    TELAH   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     MEMBERIKU   TUBUH   YANG   SEHAT   INI   KADANG  AKU  LUPA&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;                     BERTERIMAKASIH   PADAMU   DAN   LUPA  BERDOA  PADAMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     HINGGA  SAAT  INI    AKU  BERTUMBUH   BESAR   DAN   DEWASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    TERIMA   KASIH   TUHAN   I   LOVE   YOU   AKU   SAYANG   PADAMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     YESUS . &lt;br /&gt;                    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      THANK YOU    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                            BUNGAKU&lt;br /&gt;                                        Oleh    Skolastika   Lintang   Dianwidhi&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            BUNGAKU&lt;br /&gt;            BETAPA    KAU   SANGAT   HARUM  DAN   CANTIK&lt;br /&gt;            KUPU   KUPU    MENGHISAP  MADUMU  SAAT  PAGI&lt;br /&gt;            KU   SIRAMI     ENGKAU  SETIAP   HARI   DAN   KUBERI   PUPUK&lt;br /&gt;            AGAR     ENGKAU   SUBUR   DAN   TIDAK  LAYU  &lt;br /&gt;            PADA   MUSIM    HUJAN ATAU KEMARAU  KAU  TETAP SUBUR          &lt;br /&gt;            BETAPA ELOKNYA   ENGKAU   BUNGAKU&lt;br /&gt;            MEKAR DI  HALAMAN RUMAHKU    &lt;br /&gt;            DENGAN   BERBAGAI   MACAM    WARNA  &lt;br /&gt;            ENGKAULAH LUKISAN TUHAN&lt;br /&gt;            YANG SANGAT MENGAGUMKAN                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                    ADIK  KU&lt;br /&gt;                               Oleh   Skolastika    Lintang   Dianwidhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      &lt;br /&gt;           ADIKKU    ENGKAU     LUCU     DAN   MENGGEMASKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           SAAT ENGKAU    MENANGIS   KUAJAK  KAU  BERMAIN    BERSAMA&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;           ENGKAU    CERIA   KAKAK  PUN    GEMBIRA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           SAYANGKU  HANYA   UNTUK   DIRIMU  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           OH  ADIKKU   YANG  KUSAYANGI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           SEMOGA   KAU    CEPAT   BESAR    &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           SEHINGGA KAMU  BISA   BERMAIN   DENGAN  TEMAN  TEMANMU  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           BISA   SEKOLAH   DAN   BELAJAR  BERSAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           KAKAK  TETAP SAYANG  PADAMU    HINGGA KAU BESAR  NANTI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           ADIKKU KAULAH MALAIKAT KECILKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           DARI TUHAN YANG DIKIRIM UNTUKKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           UNTUK MENEMANIKU DI DUNIA INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG TUAKU&lt;br /&gt;Oleh Skolastika Lintang Dianwidhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                &lt;br /&gt;                           ORANG    TUAKU&lt;br /&gt;                           BETAPA   KASIH MU  SANGAT   DALAM&lt;br /&gt;                           ENGKAU   TELAH    MERAWATKU   DARI   KECIL&lt;br /&gt;                           HINGGA   SEKARANG   INI&lt;br /&gt;                           ENGKAU       MEMBESARKANKU&lt;br /&gt;                           DENGAN   KASIH   SAYANG&lt;br /&gt;                           TERIMAKASIH    MAMA  &lt;br /&gt;                           TERIMAKASIH   PAPA&lt;br /&gt;                           AKU  SAYANG  PADAMU  &lt;br /&gt;                           DAN  SETELAH AKU BESAR   NANTI&lt;br /&gt;                           AKU  AKAN   MEMBALAS   JASA  JASA  MU&lt;br /&gt;                           YESUS TERIMAKASIH&lt;br /&gt;                          KAUBERI AKU ORANGTUA YANG BAIK&lt;br /&gt;                          LINDUNGILAH MAMA DAN PAPA SELALU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus engkaulah&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Engkau yang &lt;br /&gt;Membuat tubuhku&lt;br /&gt;Dengan sempurna&lt;br /&gt;Aku berutang&lt;br /&gt;Budi padamu&lt;br /&gt;Tuhan&lt;br /&gt;Sbab engkau Raja&lt;br /&gt;Sgala bangsa&lt;br /&gt;Dan engkau baik&lt;br /&gt;Padaku&lt;br /&gt;Engkau menghapus&lt;br /&gt;Dosa-dosa manusia&lt;br /&gt;Tiada manusia&lt;br /&gt;Sepertimu&lt;br /&gt;Oh---Yesus&lt;br /&gt;Betapa baiknya&lt;br /&gt;Engkau Yesus&lt;br /&gt;                                      &lt;br /&gt;                                      Yesus engkau lahir&lt;br /&gt;                                       Di Betlehem&lt;br /&gt;                                       Di dalam&lt;br /&gt;                                       Palungan glap&lt;br /&gt;                                       Bunda Maria&lt;br /&gt;                                      Yang melahirkanmu                               &lt;br /&gt;                                       Dan  Bapak Yusuf                        &lt;br /&gt;                                       Para Gembala&lt;br /&gt;                                       Menemanimu saat&lt;br /&gt;                                       Engkau lahir&lt;br /&gt;                                       Tuhan Engkau lahir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-420726183713489745?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/420726183713489745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/11/puisi-puisi-lintang-beberapa-pernah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/420726183713489745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/420726183713489745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/11/puisi-puisi-lintang-beberapa-pernah.html' title='Puisi-puisi Lintang (Beberapa pernah dimuat di MOLI, Majalah Mingguan Hidup)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-8202100678289067857</id><published>2009-11-03T18:57:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T19:00:31.024-08:00</updated><title type='text'>YESUS SAHABAT TERBAIKKU (Lintang, Warta Klara 25 Oktober 2009) Juara 1 Lomba menulis HUT Paroki Klara ke-11</title><content type='html'>YESUS SAHABAT TERBAIKKU&lt;br /&gt;Oleh Skolastika Lintang Dianwhidi&lt;br /&gt;Kelas 4 SD (9,5 tahun)&lt;br /&gt;Lingkungan Antonius 3 Santa Klara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Yesus orang yang sangat sayang kepadaku dan para pengikut-Nya. Yesus sejak balita  tinggal di Nazaret. Orang tua Yesus bernama Maria dan Yusuf. Yusuf seorang tukang kayu. Dari kecil Yesus anak seorang tukang kayu, tetapi Yesus menerima apa adanya. Apa yang telah dilakukan dalam pekerjaan orang tua-Nya itu baik. Yesus ikut membantu. Walau hasil kayu yang telah dijual hanya sedikit tetapi mereka tetap bekerja keras. Tahun demi tahun berlalu, Yesus telah tumbuh besar. Ia mengetahui dan mencintai Allah Bapa seperti ayah-Nya sendiri. Akupun ingin sederhana seperti Yesus dan sayang pada orangtuaku.&lt;br /&gt;            Yesus juga mempelajari perintah-perintah Bapa dari Ibu Maria dan pemimpin agama. Setelah belajar Yesus jadi tahu betapa besar cinta Bapa kepada umat-Nya. Setiap hari Yesus menyampaikan kabar gembira itu kepada orang lain. Di gunung dan di pantai. Ia pergi mengelilingi negeri-Nya untuk menyampaikan firman Tuhan. Walau panas, hujan dan dingin Yesus tetap mewartakan injil Tuhan. Orang-orang mendengar-Nya dengan sungguh-sungguh.  Yesus berkata, “Cintailah musuh-musuhmu dan doakanlah orang-orang yang benci padamu, sehingga engkau menjadi anak-anak Tuhan yang baik.” Ajaran-ajaran Yesus baik dan benar. Akupun ingin mempelajari dan melaksanakan ajaran itu.&lt;br /&gt;Yesus juga sering menghibur anak-anak. Bagiku Yesus adalah pencinta damai. Yesus juga mengajari saling memaafkan, saling menolong dan saling mengasihi. Yesus adalah guru agama, Ia mengajar dua belas murid-murid-Nya. Dia tidak pernah lelah untuk mengajar. Tapi ada juga orang yang benci pada Yesus. Mereka tidak mau mendengarkan ajaran Yesus dan mukjijat yang Ia lakukan.  Tetapi Yesus terus semangat..       &lt;br /&gt;            Yesus sahabatku yang paling baik. Saat aku sakit Yesus menemanikku, saat aku sedih Yesus menghiburku, saat aku ulangan Yesus menemaniku, dan saat aku belajar Yesus memberi kemudahan saat mengerjakan soal ujian. Dan mengingatkanku untuk terus belajar. Aku ingin seperti Yesus yang baik, lemah lembut dan penyayang. Bagiku Yesus teman yang  paling baik di dunia ini.&lt;br /&gt;Walau aku kadang lupa bedoa mengucapkan syukur kepadaYesus, tapi Yesus tetap sayang kepadaku dan mengingatkanku slalu. Yesus memberikan tubuh untukku dengan sempurna, dan memberikanku orang tua yang sayang kepadaku dan menyayangiku.Yesus teman baikku yang slalu menemaniku setiap waktu. Yesus tidak pernah tidur, ia tetap menemaniku tidur malam dan mengingatkanku untuk berdoa sebelum tidur.Ya Tuhan Yesus ketika aku sendirian dan ada masalah menimpaku seperti beban yang sangat berat, bantulah aku untuk menyadari bahwa Engkau selalu menyertaiku.         &lt;br /&gt;            Yesus juga dapat menyembuhkan orang sakit hanya dengan menyentuh bagian tubuh yang sakit, seperti seorang anak perempuan Bapak Yairus. Dia mempunyai seorang anak perempuan  yang sakit parah. Lalu sang ayah  menemui Yesus untuk menyembuhkan seorang anak perempuan itu. Sesampai di rumah Bapak Yairus, anak itu sudah meninggal. Orang tua anak itu menangis karena anak itu anak satu-satunya. Akhirnya Yesus hanya memegang badannya saja dan anak itu bangun. Orang tua anak itu sangat berterima kasih sekali kepada Yesus, karena Yesus telah membangkitkan anaknya yang sudah meninggal. Yesus memberi penyembuhan kepada umat-Nya dan sayang pada anak-anak.     &lt;br /&gt;            Terima kasih atas yang Engkau berikan kepada keluarga kami, Yesus. Engkau memberikan rumah yang cukup untuk kami tinggal. Engkau juga memberikan makanan untuk kami makan setiap hari. Tuhan Yesus, Engkau juga menyayangi aku dan teman-temanku. Tuhan aku kadang lupa sekolah minggu tetapi Engkau mengingatkanku untuk terus memuliakan nama-Mu. Terimakasih ya Yesus karena sudah menjadi sahabat terbaikku.Aku janji akan menyayangi teman-temanku seperti engkau mengasihiku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-8202100678289067857?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/8202100678289067857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/11/yesus-sahabat-terbaikku-lintang-warta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8202100678289067857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8202100678289067857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/11/yesus-sahabat-terbaikku-lintang-warta.html' title='YESUS SAHABAT TERBAIKKU (Lintang, Warta Klara 25 Oktober 2009) Juara 1 Lomba menulis HUT Paroki Klara ke-11'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-3637155444443438178</id><published>2009-10-25T22:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T22:37:33.931-07:00</updated><title type='text'>JANGAN PERNAH MENOLAK (Warta Klara, 25 Okt 2009)</title><content type='html'>JANGAN PERNAH MENOLAK!&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut surat edaran Dewan Paroki Santa Klara, proses peremajaan pengurus lingkungan/wilayah dimulai bulan Oktober ini. Kepengurusan baru periode 2010-2013 akan dilantik Ketua Dewan Paroki akhir Februari 2010. Puji Tuhan, tugas keluarga kami untuk memimpin lingkungan pun akan segera berakhir dan digantikan keluarga yang lain. Lega rasanya.&lt;br /&gt;            “Kenapa kok belakangan suamimu tampak kurus?” Tanya ibu mertua suatu kali.&lt;br /&gt;            “Oh, dia sekarang jadi ketua lingkungan, Bu.” Jawab saya jujur. Sejujur-jujurnya. Ibu mertua sampai mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;            Nah, adik ipar lah yang akhirnya menemukan relasi kedua variabel di atas. Dia datang ke rumah karena kangen pada abangnya dan ingin ngobrol. Jauh-jauh, kok cuma dapat jatah waktu beberapa menit untuk ketemu. Padahal hari Minggu. Pagi jam 09.00, suami saya ke lahan gereja mengikuti suatu rapat. Pulang, makan sebentar, lalu ke rumah sakit menengok umat yang sedang dirawat. Hingga sore. Habis mandi, pergi lagi ke doa lingkungan. Waduh ! &lt;br /&gt;            “Mau-maunya jadi ketua lingkungan. Dapet apa coba?” Komentar kakak ipar. Mungkin adik ipar berkeluh kesah padanya tentang pertemuan yang kurang memuaskan itu.&lt;br /&gt;            “Secara materi aku gak dapet apa-apa. Tapi secara rohani, hidup keluarga kami terasa lebih kaya akhir-akhir ini. Aku agak kurus tapi imanku tambah gemuk rasanya.“ Itu jawaban suami saya. Dan saya amini. Amin. Amin. Amin.&lt;br /&gt;            Memang benar. Selama tiga tahun terakhir ini, kami semakin menemukan Cinta Yesus. Mungkin Tuhan ingin menjadikan keterlibatan kami dalam kepengurusan ini untuk semakin dekat pada-Nya. Menjadi lebih sering hadir dalam kegiatan lingkungan dan lebih banyak mengenal umat lain. Cinta tidak selalu mulus, termasuk dalam menemukan Cinta Yesus. Banyak suka-duka keluarga kami dalam menjalankan tanggung-jawab dan kepercayaan ini. Waktu, tenaga, dan pikiran lebih banyak tercurah ke sana. Puji Tuhan, kami bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Apalagi untuk melayani Tuhan dan sesama. Semuanya kami anggap sebagai proses pendewasaan kami sebagai salah satu umat Allah.&lt;br /&gt;            Dengan menjadi ketua lingkungan, ada suatu keuntungan tersendiri. Kami bisa mengenal puluhan KK dengan lebih baik, karena mereka selalu datang ke rumah untuk lapor dan minta tanda tangan. Kami jadi semakin sering berinteraksi dengan umat lain. Makin belajar untuk sabar dan menjadi pendengar yang baik akan segala curhat maupun masukan umat. Makin sadar akan peranan kerjasama umat basis dalam menumbuhkan iman bersama. Kegiatan di wilayah maupun paroki juga dapat menambah pertemanan kami dalam nama Yesus.  Ya, jadi ketua lingkungan bukan hanya memperkaya rohani kami, tapi juga memperkaya jalinan silaturahmi. Juga menjadi suatu tantangan untuk selalu berlaku dan bersikap baik dan benar. Bukan sekedar “ja-im” lho! Soalnya yang namanya ketua dimana-mana kan harus bisa jadi panutan dan andalan.&lt;br /&gt;            “Lha, tapi kok badanmu kian makmur saja? Apa gak bantu suamimu dalam melaksanakan tugasnya?” tanya ibu mertua lagi. Saya hanya tersenyum.&lt;br /&gt;            “Putra ibu yang menabur, saya yang memanen berkah-Nya.” Jawab saya dalam hati. Soalnya, ssstttt ini rahasia, umat lebih cinta pada istri ketua lingkungan dibanding pada ketua lingkungannya. Kalau ada doa syukur di rumah umat, yang dikasih buah tangan bukan ketua lingkungannya tapi istrinya. Hehehehe.&lt;br /&gt;            Suatu harapan, jangan pernah menolak berkah Tuhan untuk menjadi pengurus lingkungan/wilayah. Sebab berkah Tuhan hadir saat kita mau diutus. Duabelas rasul tak pernah keberatan diutus Yesus. Bahkan Saulus yang kejipun tak kuasa menerima perutusan-Nya. Padahal tugas mereka tidak ringan. Namun nyatanya kita bisa melihat perubahan hidup rohani setelah para rasul dan Paulus rela bekerja untuk Yesus. Suatu pertobatan. Dan itu indah. Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-3637155444443438178?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/3637155444443438178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/jangan-pernah-menolak-warta-klara-25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/3637155444443438178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/3637155444443438178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/jangan-pernah-menolak-warta-klara-25.html' title='JANGAN PERNAH MENOLAK (Warta Klara, 25 Okt 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-8853997713831098120</id><published>2009-10-25T22:33:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T22:36:29.732-07:00</updated><title type='text'>TUHAN MENJADIKAN SEMUA BAIK (Warta Klara, 25 Okt 2009)</title><content type='html'>TUHAN JADIKAN SEGALANYA BAIK&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Aku senang sekali, ketika membuka facebook dan mendapatkan permintaan pertemanan dari seseorang yang istimewa. Kawan dari masa lalu yang sangat berarti bagiku. Mungkin sudah 15 tahun kami tidak berkomunikasi. Dia yang mengajarkan lagu berbahasa Inggris pertamaku. Saat itu umurku 11 tahun. Lagu milik John Lennon…Oh, my love for the first time in my life…my eyes are wide open...Oh, my love for the first time in my life…my eyes can see…Dengan gitar dia mengiringiku menyanyi dalam suatu acara muda-mudi. Pengalaman ini membuatku membuka mata untuk pertama kalinya pada kemurahan karunia Tuhan padaku.&lt;br /&gt;“Suaramu keren. Kamu pasti bisa. Menyanyi itu bisa jadi pintu untuk mendapatkan banyak teman lho.” Ujarnya menyemangatiku. Itu adalah penampilan pertamaku menyanyi solo di depan umum, sehingga aku masih malu dan ragu. Dia benar. Puji Tuhan, aku mendapat banyak teman ketika terlibat dalam beberapa kelompok koor.&lt;br /&gt;Kawanku ini tidak pernah sekolah. Dia belajar segala sesuatu secara otodidak. Panas tinggi waktu kecil, membuat kakinya lumpuh dan kursi roda menjadi kepanjangan langkahnya. Namun kekurangan fisiknya tertutupi kelebihan iner-nya. Dia jago main gitar, cas-cis-cus bahasa Inggrisnya, pinter nulis, pinter ngomong, wawasannya luas, jadi penyemangat banyak teman, rendah hati, dan dalam usia muda sudah mampu memimpin doa di lingkungan. Temannya banyak. Usianya yang sepuluh tahun lebih tua, membuatku menghormatinya sebagai kakak.&lt;br /&gt;Dulu, di mata kanak-kanakku, aku sangat kasihan padanya. Kenapa Tuhan memberikan tubuh yang tidak sempurna pada orang sebaik itu. Apa dosanya? Apa Tuhan yang Maha Adil juga Maha Tidak Adil sekaligus? Ketika guru SD-ku tidak jadi melibatkanku dalam lomba koor gara-gara aku tidak jitu baca not, dia malah mendukungku untuk menyanyi solo di depan banyak tamu. Bahkan dia juga mengajakku mendiskusikan lagu berbahasa Inggris itu agar aku lebih menghayatinya. Dia begitu peduli pada anak baru gede yang masih minder dan gampang patah sepertiku. Dan membantuku menemukan rasa percaya diri.&lt;br /&gt;Dengan keterbatasan fisik dan talenta yang dimilikinya, dia melayani gereja maupun komunitas kaum muda di tempat tinggal kami. Dia selalu penuh senyum dan binar ceria terus memancar dari balik kaca mata minusnya. Apa dia tidak kecewa pada Tuhan? Apa dia tidak protes pada-Nya? Jika kulihat dari apa yang dikerjakannya dengan sepenuh hati, aku bisa melihat rasa syukur selalu mengalun dari hatinya. Kekurangannya justru menjadi kelebihannya dalam memuliakan nama Tuhan. Dia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah kecil hati. Merasa dirinya tidak beda dengan kawan yang lain.&lt;br /&gt;“Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama  suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” Roma 9: 21. Dari kutipan itu, kusadari, Tuhan menciptakan setiap insan secara unik. Masing-masing dengan lebih dan kurangnya. Semua untuk tujuan mulia. Agar kemuliaan nama-Nya semakin dinyatakan. Meskipun tugas dan peranannya berbeda-beda.&lt;br /&gt;Kadang, dengan segala lebih yang ada padaku, akupun masih mengeluh dan merasa kurang berguna. Apalagi jika melihat kawan-kawan lain sangat sukses dalam kariernya. Aduh, rasanya aku ini seperti katak dalam batok kelapa. Kuper banget. Kegiatanku cuma muter-muter di situ-situ saja. Di rumah, RT, sekolah anak-anak, dan paling pol lingkungan gereja. Seandainya dulu aku terus bekerja, tentu akupun tak jauh dari apa yang mereka capai. Begitu pikirku.&lt;br /&gt;Tapi begitu melihat kawan lamaku nongol lagi di facebook dan kabarnya dia masih giat melayani Tuhan sesuai panggilan-Nya, cara pandangku begeser. Tuhan menjadikan segalanya baik. Tidak satupun hal diciptakan untuk tujuan hina apalagi jahat. Rencana dan rancangan-Nya untuk kita adalah sesuatu yang indah. Bahkan segala kekurangan pun mampu dijadikan-Nya kelebihan untuk berkarya. Dan segala keterbatasan lingkup bergaulku, mungkin memang harus kukelola untuk lebih maksimal dalam melayani sesama di lingkup itu. Terimakasih Tuhan. Tuhan kan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-8853997713831098120?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/8853997713831098120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/tuhan-menjadikan-semua-baik-warta-klara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8853997713831098120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8853997713831098120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/tuhan-menjadikan-semua-baik-warta-klara.html' title='TUHAN MENJADIKAN SEMUA BAIK (Warta Klara, 25 Okt 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-5933347164347686892</id><published>2009-10-12T20:02:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T20:04:17.112-07:00</updated><title type='text'>MENERIMA IMAM APA ADANYA (Warta Klara, 4 Oktober 2009)</title><content type='html'>MENERIMA IMAM APA ADANYA&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Buletin Refleksi Tahun Imam Keuskupan Agung Jakarta, membuat hati saya tergetar. Menjadi seorang imam itu ternyata tidak semudah yang saya lihat. Tinggal di pastoran yang bersih dan rapi, segala keperluan sudah dilengkapi, dan semua umat siap menghormati. Wah! Ternyata seorang imam harus selalu siap untuk melayani, mendampingi, berkolaborasi, menjalani hidup suci, tidak tergoda pada hal duniawi, domba yang hilang harus dicari, siap diomongi, bahkan juga harus siap mati. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi seorang imam. Belum lagi menghadapi umat yang aneka-ragam latar belakang, pandangan, dan keinginannya.&lt;br /&gt;            Umat dengan gampang mengajukan kriteria imam ideal. Antara lain: yang mengerti umatnya, yang membaur, yang gampang dihubungi, yang bisa jadi teladan, yang sederhana, yang komunikatif, yang setia pada janji Imamatnya, yang ngemong umat, yang selalu siap melayani, yang tidak galak, yang kotbahnya menggugah, yang memimpin misa-nya tidak bikin ngantuk, yang ramah, yang mudah bergaul, yang rendah hati, yang tidak gila hormat….walah, banyak banget!!! Biasanya umat akan ngedumel kalau ternyata imamnya tidak sesuai dengan gambaran ideal mereka.&lt;br /&gt;Apakah para imam juga pernah melemparkan kriteria umat ideal baginya? Yang aktif, yang gampang diajak kerjasama, yang tidak ngumpet kalau dimintai iuran, yang punya inisiatif, yang kreatif, dll. Tidak! Imam yang datang ke dalam suatu paroki, selalu menerima begitu saja umat yang ada. Dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka. Kekurangan umatnya biasanya akan dijadikan tantangan untuk menemukan format penggembalaan yang lebih tepat. Sedangkan kelebihan umat akan dijadikan sarana untuk semakin memajukan paroki yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;Sebagai umat, kitapun perlu menerima imam apa adanya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang terpilih dan terpanggil. Sudah dipersiapkan dengan baik untuk melayani gereja Allah. Menerima kekurangan mereka secara manusiawi dan memberikan kelebihan umat untuk bersama-sama membangun paroki. Mensyukuri kelebihan mereka supaya dengan anugerah itu, kekurangan-kekurangan dalam diri umat dapat diolah untuk menjadi lebih baik. Intinya, tidak ada imam yang ideal. Hanya Yesus imam yang ideal. Tak ada pula umat yang ideal. Jemaat perdana adalah komunitas kristen yang paling ideal. Yang bisa kita lakukan bersama hanyalah meneladan imam dan jemaat ideal itu. Jadi, kerjasama antara gembala dan umatnya lah yang akan mengantar kita pada kondisi yang mendekati ideal. Para imam meneladan Yesus dalam melayani dan umat pun bahu-membahu meneladan jemaat perdana dalam membangun komunitas. Saling melayani. Bekerjasama.&lt;br /&gt;Dalam Novel Pohon-Pohon Sesawi, karya Romo Mangunwijaya, bab Pohon-Pohon Di Pekarangan Paroki, diceritakan bahwa jika paroki itu diandaikan sebuah kebun maka di dalamnya ada pohon kelapa, sawo, sukun, durian, pisang, pepaya, bahkan berbagai jenis bunga. Begitu banyak dan berbeda-beda, namun toh semuanya anggota kebun dan punya kontribusi masing-masing pada si empunya kebun (Yesus). Si tukang kebun (imam) harus menerima dan merawat semuanya dengan baik. Sebab dia dipilih dan dipercaya oleh TUAN-nya. Meskipun si durian berduri, meski si pisang banyak getah, si sawo banyak ulat bulunya, dll. Tak boleh pilih kasih.&lt;br /&gt;Dan para penghuni kebun itu tentunya akan tetap berbuah limpah pada musimnya, tanpa memandang siapa yang jadi tukang kebun kala itu bukan? Yang menjadi alasan bagi para pohon untuk selalu berbuah bukan tukang kebunnya tapi TUAN si empunya kebun. Jadi, dalam sebuah paroki, siapapun imam-nya, seyogyanya tidak jadi soal. Sebab umat berkarya bukan dalam nama imam tapi dalam nama IMAM AGUNG yaitu Yesus sendiri. Bekerjasama, saling melayani, dan saling mendukung antara imam dan umat adalah suatu relasi ideal demi kemajuan suatu paroki. Tentu saja tidak menutup kemungkinan untuk saling mengkritik dan memberi masukan. Selamat Tahun Imam. Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-5933347164347686892?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/5933347164347686892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/menerima-imam-apa-adanya-warta-klara-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/5933347164347686892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/5933347164347686892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/menerima-imam-apa-adanya-warta-klara-4.html' title='MENERIMA IMAM APA ADANYA (Warta Klara, 4 Oktober 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-2893495851644786436</id><published>2009-10-12T19:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T20:02:05.742-07:00</updated><title type='text'>SEMUA JADI JUARA (Warta Klara, 11 Oktober 2009)</title><content type='html'>SEMUA JADI JUARA&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Hai, kamu nomor undian berapa? Doain aku ya! Kelompokku sebentar lagi maju nih!” Ujar seorang anak pada teman di depannya. “Habis kamu, baru kelompokku. Deg-degan nih. Doain aku juga ya.” Jawab kawan di depannya. Tapi MC segera memberi aba-aba pada hadirin untuk mengucapkan kata “Bayem!” Supaya mulut terkunci dan ruangan menjadi tenang. Acara akan segera dimulai. Pukul 09.00 thet! Obrolan kedua anak beda lingkungan itupun terputus. Tapi toh ada anak lain yang usil dan malah mengucapkan kata ”Kangkung!” atau “Buncis!”sehingga ruangan tak kunjung reda dari gemuruh obrolan setengah berbisik.&lt;br /&gt;            Itulah sekelumit perbincangan anak-anak yang sempat terdengar dalam Festival Koor Anak dalam memeriahkan HUT Paroki Santa Klara ke-11. Ada 15 kelompok paduan suara anak yang hadir dalam perhelatan tanggal 27 September 2009, di Gedung Serba Guna Seroja itu. Masing-masing dengan kekhasan-nya sendiri, baik pakaian, suara, maupun geraknya. Semua ingin menampilkan yang terbaik. Nyatanya, kelimabelas kontingen pun menjadi yang terbaik, sebab tak ada pujian dan nyanyian yang cela di hadapan Tuhan. Apalagi jika dilantunkan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Meskipun di akhir acara, juri memberikan banyak koreksi tehnis, tapi kan kesungguhan dan semangat untuk memuliakan Tuhan tak bisa dikoreksi.&lt;br /&gt;            Panitia rupanya berhasil menjadikan festival koor ini sebagai ajang pesta, bukan perlombaan yang penuh persaingan. Sukses buat panitia. Apalagi dekorasi balon dan bingkisannya, meski sederhana, cukup mendukung. Terdengar seorang anak berujar,”Wah, gerakan dan kanon kelompok Si Anu kompak banget ya. Latihannya pasti lama tuh.” Temannya nimbrung, ”Kelompok kita cuma latihan empat kali, mana bisa begitu.” Sebuah pujian tulus bagi kelompok lain yang tampil lebih OK dan pengakuan sportif atas kekurangan diri.&lt;br /&gt;Apalagi dalam ajang ini, anak-anak bertemu dengan teman satu sekolah yang kebetulan beda lingkungan. Atau pernah jadi sesama peserta komuni pertama. Sehingga persaingan ketat seperti pada kebanyakan lomba tidak terjadi. Mungkin mereka tahu bahwa peserta lain adalah teman seiman dan segereja, yang sama-sama ingin memuji Tuhan. “Nyanyinya yang sungguh-sungguh, tapi jangan jadi beban ya. Pokoknya kayak kalau tugas koor di gereja itu. Menyanyi untuk Tuhan Yesus. Bagi Yesus, suara nyanyian semua anak bagus kok.” Ujar seorang pembina menyemangati.&lt;br /&gt;Setelah semua peserta menampilkan yang terbaik untuk Yesus, para hadirin dihibur dengan lagu-lagu yang dilantunkan peserta KEP. “Lho, kok ibu-ibu juga ikut lomba, Bu?” tanya seorang anak. Dia mengira ibu-ibu peserta KEP dengan seragam putih dan selendang batik itu juga saingan mereka. Setelah itu, Romo Alex dan Romo Justin juga menyumbang lagu. Romo Dominikus pun hadir dan disambut meriah oleh anak-anak. Menjelang pengumuman hasil lomba, seorang pemuda bernama Doni melantunkan “Status Palsu” dan “Tak Gendong Kemana-mana”. Anak-anak sangat antusias ikut menyanyi. “Wah, ironis sekali. Coba kalau nyanyi lagu pujian sesemangat dan seheboh ini.” Komentar seorang ibu. Itulah tantangan kita, terutama para pembina BIA, untuk membuat lagu-lagu rohani jadi “hit” di telinga dan hati anak-anak. Apalagi Seksi Liturgi sudah menyumbangkan 20 lagu untuk dipelajari.&lt;br /&gt;Sepulang dari acara itu, tak tampak mendung dari wajah anak-anak yang tidak berhasil membawa piala. Bahkan di panggung, saat pengumuman pemenang dan pembagian hadiah, sempat terjadi seorang anak yang kalah menyalami temannya yang menang. Puji Tuhan. Ada 3 pemenang Lomba Baca Kitab Suci BIA, 3 pemenang Lomba Baca Kitab Suci BIR, 1 pemenang Lomba Menulis BIA, 1 pemenang Lomba Menulis BIR, 1 dirijen terbaik, dan 6 kelompok pemenang Festival Koor. Selamat untuk para pemenang.&lt;br /&gt;“Ma, kita sudah kompak banget. Bandana kita saja keren. Pakai kupu-kupu lagi. Barisnya rapi. Suaranya kenceng. Tapi kok nggak dapat piala ya, Ma?” tanya seorang anak, saat acara usai pukul 12.00. “Yang penting kamu dan teman-teman punya pengalaman. Sudah bekerjasama dengan kompak. Ketemu banyak teman dari lingkungan lain. Di mata Tuhan Yesus, semua anak jadi juara kok.” Anak itupun tersenyum. Puji Tuhan. Kami merindukan acara seperti ini lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-2893495851644786436?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/2893495851644786436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/semua-jadi-juara-warta-klara-11-oktober.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2893495851644786436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2893495851644786436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/10/semua-jadi-juara-warta-klara-11-oktober.html' title='SEMUA JADI JUARA (Warta Klara, 11 Oktober 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-2710872460916945886</id><published>2009-09-14T21:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T21:35:10.367-07:00</updated><title type='text'>MENCINTAI SABDA-NYA SEJAK KECIL (Warta Klara 13 Sept 2009)</title><content type='html'>MENCINTAI SABDA-NYA SEJAK KECIL&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ayah dan Ibu saya dulu bukan Katolik. Suatu berkah istimewa jika akhirnya mereka menikah di Gereja Katolik. Tapi, kekatolikan yang diturunkan pada saya sangat minim. Bahkan saya baru mulai sering mendengar sabda Tuhan setelah SMA dan kuliah, dari para pembimbing retret. Dan setelah dewasa, barulah saya tergerak untuk lebih banyak belajar. Seperti rusa di padang tandus yang rindu akan air.&lt;br /&gt;            Mengenal dan mencintai sabda-Nya sangat penting. Sebab sabda Tuhan adalah kebenaran dan hidup. Pegangan kita. Maka saya sebagai seorang ibu, tidak ingin anak-anak saya memiliki nasib serupa dengan saya. Menjadi Katolik sejak lahir bahkan dibabtis ketika umur baru beberapa bulan, namun malang, hanya sedikit sabda Tuhan yang sampai ke telinga saya.&lt;br /&gt;            “Ibu, tadi di sekolah, Bu Guru Agama nanyain : Nabi Musa waktu bayi dibuang ke sungai mana? Nggak ada satupun temanku yang tau! Lalu aku bilang : Sungai Nil. Bu Guru nanya : kok kamu tau? Lalu aku bilang : kan Ibu saya udah ceritain ke saya.” Tutur anakku saat kelas 1 SD. Puji Tuhan. Saya memang menceritakan tokoh-tokoh Alkitab sebelum mereka tidur.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya batita, di bawah tiga tahun, saya hanya memperlihatkan gambar-gambar sambil menceritakan sedikit intinya dengan kata-kata sendiri. Lalu mereka jadi mengenal tokoh hanya dengan melihat gambar. Kalau melihat orang dengan kapal besar dan banyak binatang, mereka jadi tahu,”Itu Nabi Nuh!”&lt;br /&gt;            Ketia anak saya balita, saat TK, saya mulai memperkenalkan tokoh dan peristiwa. Masih menggunakan gambar namun disertai narasi singkat dengan kata-kata yang mudah dipahami anak. Mereka mulai tahu, gambar malaikat dan gadis itu adalah Malaikat Gabriel dan Maria. Maria menerima kabar gembira dari Allah yang disampaikan Malaikat Gabriel. Dia akan mengandung dan melahirkan Yesus.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya mulai masuk SD, sayapun mulai bertanya, “Dari tokoh Alkitab itu, apa yang bisa kita contoh, atau apa yang tidak boleh kita tiru?” Alkitab menguak kebenaran dan tidak menutupi kesalahan. Sangat jujur dan berimbang. Misalnya tentang Kain dan Habel. Yang layak ditiru adalah ketulusan Habel dalam memberikan persembahan pada Tuhan. Yang tidak boleh ditiru adalah sifat iri Kain pada adiknya.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya mulai lancar membaca dan bisa paham apa yang dibaca, diapun membaca buku Alkitab untuk anak-anak. Kadang dia dengan bangga mengatakan,”Bu, aku udah sampai di Zakeus!” Lalu kamipun menggosipkan Zakeus. Misalnya, “Kok Zakeus mau ya memberikan hartanya buat orang miskin?” Anak sayapun nyeletuk,”Kan udah tobat.” O, iya, ya. Lalu lagu Zakeus Orang Pendek pun kami dendangkan. Lagu ini memudahkannya untuk mengenang peristiwa Zakeus.&lt;br /&gt;            Ketika anak saya makin besar, diapun mulai berkenalan  dengan Alkitab yang diterjemahkan langsung dari aslinya. Alkitab dengan tanda panduan untuk tiap kitab adalah pilihan saya. Sehingga mudah mencari posisi suatu kitab. Anak sayapun mulai belajar cara membuka Alkitab. Misalnya mencari Injil Matius 5: 13-16. “Cari tanda MAT, buka, setelah itu temukan angka besar 5, baru kemudian angka kecil 13 sampaidengan 16.” Setelah ketemu, saya akan bertanya,”Apa judulnya?” Diapun menjawab,”Garam dunia dan terang dunia.” Hebat! Puji saya.&lt;br /&gt;            Lomba baca Alkitab BIA dan BIR, yang diadakan di Kapel Asri tanggal 6 dan 13 September 2009, oleh ibu-ibu WP, dalam rangka HUT Klara ke-11, juga bisa menambah rasa cinta anak-anak pada Sabda Tuhan. Merekapun punya pengalaman tampil di depan umat. Apalagi setelah selesai, ada tambahan dari Dewan Juri (Pak Ernest Maryanto) tentang tips menjadi lektor yang baik. Anak saya jadi ketagihan. “Adain lomba baca Alkitab di lingkungan dong, Bu.” Puji Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-2710872460916945886?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/2710872460916945886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/mencintai-sabda-nya-sejak-kecil-warta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2710872460916945886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/2710872460916945886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/mencintai-sabda-nya-sejak-kecil-warta.html' title='MENCINTAI SABDA-NYA SEJAK KECIL (Warta Klara 13 Sept 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-224858098795020930</id><published>2009-09-09T10:15:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T10:16:30.661-07:00</updated><title type='text'>BLEWAH MELIMPAH!!! OLAH SECARA MURAH!!!</title><content type='html'>BLEWAH MELIMPAH&lt;br /&gt;MAU DIBIKIN APA???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bulan Ramadhan seperti ini, di Bekasi dan sekitarnya kebanjiran buah blewah. Buah dengan kandungan air dan serat yang tinggi. Rasa dan wanginyapun khas. Harganya murah. Tapi jika dimakan begitu saja rasanya kurang pas, sebab kadar rasa manisnya minim. Nah, ini dia beberapa resep yang telah dicoba BU GIRI. Mengolah BLEWAH dengan MURAH.&lt;br /&gt;            Resep-resep ini tentu sangat cocok untuk buka puasa. Dan memang dipersembahkan secara khusus bagi saudara-saudari yang tengah menjalankan ibadah puasa. Tapi yang gak puasa juga boleh mencoba. Ditanggung dapat ciuman deh setelah menyuguhkan resep ini. Soalnya saya juga dicium melulu nih sama Lintang dan Justine, anak saya. Bapaknya juga malah ikutan!!!&lt;br /&gt;            Udah murah, mudah, bergizi, tanpa zat-zat tambahan yang tidak alami, dan tentu bisa membawa berkah bagi anda sekeluarga. SELAMAT BERBUKA PUASA!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      JUICE JINGGA (Untuk 10 porsi) Hanya dengan modal -/+ Rp. 5.000,000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan : 1 buah blewah kecil Rp. 2.000,00 +      4 buah tomat yang sudah merah Rp. 2.000,00 +  3 gelas belimbing air masak +            6 sendok makan gula pasir/ selera.&lt;br /&gt;Alat      : Blender, gelas kaca transparan 10 buah, sedotan, irisan tomat&lt;br /&gt;Cara    : Blender tomat, 1,5 gelas air, dan 3 sendok makan gula pasir. Setelah halus tuang ke&lt;br /&gt;             gelas, masing2 separoh gelas saja. Blender blewah yang sudah dibuang biji dan kulitnya&lt;br /&gt;             dengan 1,5 gelas air dan 3 sendok makan gula pasir. Tuang ke atas jus tomat. Simpan di&lt;br /&gt;             lemari es paling tidak 1 jam. Hidangkan dengan sedotan dan irisan tomat di bibir gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      ES CAMPUR MERAH (untuk 6 porsi) Hanya dengan modal -/+ Rp. 7.500,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan : 1 buah blewah kecil Rp. 2.000,00 dikeruk. +  ¼ kg tape singkong, potong dadu Rp. 1.500,00 +  1 botol kecil Fanta merah Rp. 2.500,00 +  1 mangkuk es batu hancur +  2 gelas air matang +  4 sendok makan gula pasir.&lt;br /&gt;Alat      : mangkuk kaca bening besar, sendok makan untuk mengeruk, pisau untuk potong tape,&lt;br /&gt;              centong sayur, 6 gelas kaca bening dan sendok juice berwarna.&lt;br /&gt;Cara     : Masukkan fanta dan gula ke mangkuk kaca, aduk hingga gula larut. Masukkan es batu&lt;br /&gt;              hancur ke mangkuk. Lalu blewah keruk, tape potong, dan air. Aduk pelan sehingga&lt;br /&gt;              tercampur tapi tidak hancur. Siap deh jadi koktail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      YELOW LAKE (untuk 8 porsi) Hanya dengan modal -/+ Rp 9.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan : 1 buah blewah kecil Rp. 2.000,00 + 1 bungkus agar-agar jely rasa melon Rp. 2.800,00 + susu kental manis putih 2 sacet Rp. 2.600,00 + es batu hancur + 3 gelas air matang + 5 sendok makan gula pasir.&lt;br /&gt;Alat      : blender, panci, sendok sayur, sendok makan, gelas, mangkuk besar.&lt;br /&gt;Cara     : Blender separuh blewah yang dibuang isi dan kulitnya beserta 2 sendok gula dan 1 gelas&lt;br /&gt;              air. Taruh di mangkuk bersama es batu hancur dan 1 gelas air. Agar2 yang sudah&lt;br /&gt;              dimasak dengan 3 sendok gula dan 1 gelas air didinginkan lantas dipotong dadu.&lt;br /&gt;              Masukkan ke adonan. Tuang separuh blewah yang dikeruk. Tuang 2 sacet susu kental.&lt;br /&gt;  Aduk pelan hingga campur tapi tidak hancur. Siap jadi koktail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT MENCOBA. TUHAN MEMBERKATI. BOLEH DICONTEK/DIJIPLAK/DIKLAIM. Justru menguntungkan para petani dan pedagang blewah!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-224858098795020930?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/224858098795020930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/blewah-melimpah-olah-secara-murah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/224858098795020930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/224858098795020930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/blewah-melimpah-olah-secara-murah.html' title='BLEWAH MELIMPAH!!! OLAH SECARA MURAH!!!'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-936547623691944015</id><published>2009-09-03T18:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T18:39:34.396-07:00</updated><title type='text'>TERIMAKASIHKU PADA TOLE (Yang membuat hatiku tidak miskin lagi)</title><content type='html'>TERIMAKASIHKU PADA TOLE&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu aku mendapat tugas untuk melakukan observasi ke panti asuhan bersama beberapa teman. Mudika Paroki akan menyelenggarakan bakti sosial. Dikota kami ada dua buah lembaga sosial semacam itu. Keduanya dikelola oleh yayasan-yayasan yang sudah mapan. Fasilitas fisik yang mereka miliki sangat bagus dan lengkap. Para donatur yang peduli pada keduanyapun sangat banyak. Bahkan ketika aku bertanya kapan kami bisa berkunjung, para petugas menyodorkan buku daftar calon tamu dan kami harus masuk dalam antrian. Kamipun pulang dengan perasaan bimbang. Keesokan harinya kami melaporkan hasil studi kelayakan itu dalam rapat panitia.&lt;br /&gt;“Udah kaya masak masih akan disumbang? Lebih baik kita cari panti asuhan di luar kota yang benar-benar masih butuh bantuan. Jadi bantuan kita akan tepat sasaran.”&lt;br /&gt;“Tapi  ke luar kota kan biayanya juga besar? Daripada untuk ongkos transport lebih baik untuk tambahan sumbangan kan?” komentar yang lain.&lt;br /&gt;“Eh, ngomong-omong, menyumbang itu kan nggak usah melihat kaya atau tidaknya sebuah yayasan sosial? Meskipun kelihatannya mapan, tapi kan mereka tetap butuh logistik dan dana untuk kehidupan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya?” sanggah yang lain.&lt;br /&gt;“Atau kita ganti saja deh bentuk kegiatannya!” Usul yang lain lagi.&lt;br /&gt;Rapat pagi itu jadi buntu. Mau tetap menyumbang ke salah satu panti asuhan itu tapi takut tidak tepat sasaran. Mau menyumbang ke panti asuhan di luar kota tapi khawatir menghabiskan banyak biaya transportasi. Lantas bagaimana dong? Aku sebagai bendahara hanya diam saja. Tidak bisa memberi masukan maupun usulan. Ketua Mudika juga tidak bisa membuat keputusan. Bentuk kegiatan bakti sosial yang akan diadakan kembali mentah.&lt;br /&gt;“Mar, ini ada dana yang baru masuk dari Lingkungan Yohanes Pemandi. Jumlahnya satu juta tigaratus ribu rupiah. Tolong diterima ya.” Bosko, anggota Seksi Penggalangan Dana menyodorkan sebuah amplop coklat padaku. Segera kubuka dan kuhitung uang titipan umat itu. Jumlahnya pas. Segera kubuatkan tanda terima dan amploppun aku masukkan ke dalam tas.&lt;br /&gt;Siang itu aku pulang dengan menumpang mini bus. Bangku penuh dan aku terpaksa berdiri dengan beberapa penumpang lainnya. Di sebuah halte, bus berhenti dan  beberapa penumpang naik. Seorang bocah pengamen juga naik dan mulai memainkan alat musiknya…cik…icik…icik…icik…Aku merogoh kantong jeansku dan hanya kutemukan koin gopek di sana. Dia mengangguk penuh hormat ketika koin itu kumasukkan ke dalam kantung permen bekasnya. Aku tersenyum.&lt;br /&gt;“Awas, Mbak! Ada copet!” Tiba-tiba pengamen cilik itu berteriak. Aku terkejut dan segera menoleh. Tanganku sepontan meraba tas dan sebuah tangan kekar sudah memasukinya. Segera kutarik tangan itu sekuatnya. Amplop cokelat dari Bosko akhirnya jatuh ke lantai bus dan segera kuraih. Si empunya tangan sudah keburu turun ketika bus berhenti. Amplop itu kumasukkan lagi ke dalam tas dan kudekap erat.&lt;br /&gt;“Makasih ya, Dik.”&lt;br /&gt;“Sama-sama, Mbak.” Anak laki-laki itu tersenyum bangga. Kami menjadi pusat perhatian para penumpang. “Lain kali hati-hati!” ujarnya, lantas bergegas turun ketika bus berhenti lagi untuk menaikkan penumpang. Buru-buru aku mengikutinya.&lt;br /&gt;“Tunggu!” Anak itu menoleh. “Sekali lagi terimakasih ya.” Dia mengangguk. Segera kubuka dompetku dan kutemukan selembar uang ungu di dalamnya. “Ini untuk kamu. Terimalah, sebagai ucapan terimakasih.” Anak itu menatapku sejenak lantas menggeleng. Aku sedikit memaksanya untuk menerima tapi dia tetap tidak mau.&lt;br /&gt;“Emak saya bilang, kalau menolong orang harus tulus. Nggak boleh pamprih. Saya takut kena marah Emak ah.”&lt;br /&gt;“Ya sudah. Kalau begitu, mau ikut aku sebentar nggak?” Aku mengajaknya ke sebuah warung dan membeli beberapa bungkus biskuit. “Ini oleh-oleh buat Emakmu yang sangat bijaksana itu.” Kusodorkan tas plastik itu padanya. Dia menggeleng.&lt;br /&gt;“Mbak aja deh yang kasih sendiri. Nanti Emak mengira saya nyolong.” Aku tersenyum. Lantas akupun mengikuti langkahnya menuju sebuah perkampungan di bawah jembatan tidak jauh dari tempat itu. Kamipun berkenalan. Anak itu bernama Tole. Perkampungan itu terbentang di sepanjang pinggir kali. Rumah-rumah kecil terbuat dari papan-papan kayu bekas dan tambalan kardus disana-sini.&lt;br /&gt;“Kamu pemberani ya?”&lt;br /&gt;“Yang mau nyopet Mbak Maria tadi cuma mahasiswa kurang uang, jadi penakut! Kalau yang nyopet preman daerah sini, mana saya berani, Mbak. Bisa digorok saya!”&lt;br /&gt;Anak-anak telanjang dengan perut membusung berlari-larian di jalan setapak yang kami lalui. Bau kurang sedap merayapi hidungku. Beberapa perempuan duduk-duduk di depan pintu sambil mencari kutu. Seorang anak balita menangis di dekat jemuran dan lalat mengerumuninya. Aku bergidik. Tidak pernah terpikirkan olehku ternyata di salah satu sudut kota kelahiranku ini ada sebuah pemukiman seperti ini.&lt;br /&gt;Emak Si Tole menyambutku dengan ramah di rumah gubuknya. Adik-adik Tole sangat senang menerima oleh-olehku. Emak Si Tole mengasuh empat anak yang semuanya ternyata bukan anaknya sendiri. Panti asuhan mini yang menyedihkan.&lt;br /&gt;“Si Tole Ibunya sudah mati. Si Tika dulu dibuang di pinggir kali situ. Si Tini anak perempuan jalang yang nggak terawat. Si Tikno dititipkan di sini karena Ibunya masuk bui. Padahal saya ini cuma buruh cuci harian.” Tutur Sang Emak dengan air mata berlinang. Anak-anak di kampung itu kurang gizi, kurang diperhatikan kesehatan dan kebersihannya, serta tidak sekolah. Mereka sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;Akhir bulan, Mudika menggelar pasar murah di kampung itu setelah minta ijin dari pengurus RT dan RW setempat. Beras, susu, terigu, minyak goreng, gula, sabun cuci, peralatan mandi, vitamin anak-anak, dan obat-obatan, yang kami beli dengan dana yang telah terkumpulkan, kami jual dengan harga sangat murah. Sepersepuluh dari harga sesungguhnya. Dengan membeli, harga diri warga kampung itu tetap terjunjung tinggi. Mereka tidak akan merasa diperlakukan sebagai penerima barang gratisan yang harus dikasihani seperti pengemis. Mereka lebih bangga jika bisa membeli di pasar murah daripada hanya menengadahkan tangan menerima barang sumbangan. Dengan membeli, mereka merasakan kesamaan derajat dengan si penjual. Kami bisa menjalin persaudaraan.&lt;br /&gt;Mudika juga merencanakan sebuah program pendampingan belajar bagi anak-anak. Tole dan adik-adiknya tidak punya kesempatan untuk bersekolah karena tidak ada uang. Padahal mereka juga ingin bisa membaca dan berhitung seperti anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;Aku sangat bersyukur karena usulanku untuk mengadakan bakti sosial di kampung itu direalisasikan oleh Mudika. (Bekasi Utara, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-936547623691944015?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/936547623691944015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/terimakasihku-pada-tole-yang-membuat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/936547623691944015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/936547623691944015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/terimakasihku-pada-tole-yang-membuat.html' title='TERIMAKASIHKU PADA TOLE (Yang membuat hatiku tidak miskin lagi)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-906812308345493065</id><published>2009-09-02T20:16:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T20:18:11.641-07:00</updated><title type='text'>KEMBAR TAPI BEDA (Buat Ayu dan Ade juga buat Atala dan Atila)</title><content type='html'>KEMBAR TAPI BEDA&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Namaku Lintang. Aku dan Tawang anak perempuan kembar. Wajah dan gaya kami sama persis. Hanya ayah, ibu, dan pengasuh kami saja yang bisa membedakan. Orang lain sering keliru saat memanggil nama kami. Bahkan saudara dekat, guru, dan teman-teman sering keliru.&lt;br /&gt;            Sejak masih bayi hingga sekarang, ibu selalu mendandani kami seragam. Potongan rambut, baju, tas, sepatu, dan segala macam asesoris lainnya selalu sama. Warnanyapun sama. Itu membuat kami seperti pinang dibelah dua. Orang lain jadi sulit membedakan kami. Apalagi tidak ada tanda lahir, bekas luka, atau tahi lalat yang bisa dijadikan tanda.&lt;br /&gt;            Nama kami memang agak aneh. Biasanya anak kembar diberi nama hampir sama. Misalnya Dina dan Dini, Nina dan Nani, atau Rina dan Rini. Kata ayahku, nama kami diambil dari kosa kata Bahasa Jawa. Lintang artinya bintang. Tawang artinya cakrawala. Bintang selalu terlihat di cakrawala. Mereka selalu bersama dan bersatu. Bintang dan cakrawala tak akan pernah terpisahkan. Begitu juga harapan orang tuaku. Mereka ingin kami selalu rukun dan bersama dalam suka dan duka.&lt;br /&gt;            Tapi bagiku, menjadi anak kembar itu banyak dukanya. Tawang suka memanfaatkan kesamaan fisik kami. Kebetulan kami beda kelas. Tawang paling tidak suka pelajaran matematika. Setiap kali ulangan, dia selalu memintaku untuk bertukar tempat. Dia tidak ingin mendapat nilai jelek. Begitulah, aku pura-pura jadi Tawang. Tawang pura-pura jadi aku. Selama ini tidak ada yang curiga.&lt;br /&gt;            Pada lebaran tahun lalu, kami sekeluarga pulang ke rumah nenek. Nenek membagi-bagikan uang kepada cucu-cucunya. Waktu itu aku sedang bermain di kebun, sehingga tidak tahu. Nenek memberi uang lebih dulu kepada Tawang.  Tawangpun disuruh memanggil aku. Tapi rupanya Tawang hanya pura-pura memanggilku. Dia datang lagi pada nenek  dan mengaku bernama Lintang. Akhirnya dia mendapatkan dua amplop sekaligus. Aku cuma gigit jari. Aku benar-benar jengkel padanya.&lt;br /&gt;            “Aku tidak mau lagi, Ta. Kamu selalu curang! Lagipula nanti kalau Bu Guru tahu, kita bisa kena hukuman.” Aku berusaha menolak saat Tawang menyuruhku ikut ulangan matematika di kelasnya. Dulu, aku memang mau menggantikannya karena merasa kasihan. Aku tidak mau dipuji karena mendapat nilai bagus sementara saudaraku dimarahi karena nilainya jelek. Tapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa perbuatan itu salah. Aku kesal karena Tawang selalu tergantung padaku. Akupun ketinggalan banyak pelajaran di kelasku.&lt;br /&gt;            “Tolong deh, Lin. Sekali lagi saja. Besok-besok enggak lagi kok.” Tawang berusaha merayu dengan wajah memelas. “Masa sih kamu tega kalau aku dapat nilai jelek? Kan malu, Lin.” Sebenarnya aku merasa kasihan padanya. Tapi aku benar-benar sudah bosan dengan itu semua.&lt;br /&gt;            “Aku tidak mau! Titik! Kamu harus berusaha sendiri, Ta!” Bentakku keras. Muka saudaraku jadi pucat seketika. Dia menangis.&lt;br /&gt;            “Kamu jahat, Lin! Kamu Jahat!” Katanya sambil berlari meninggalkanku. Dia marah dan sakit hati. Sejak saat itu kekompakan kami sebagai saudara kembar seolah-olah hilang.&lt;br /&gt;            Aku benar-benar kesal. Ayah dan ibu selalu memperlakukan kami dengan cara yang sama. Gara-gara Tawang suka menyanyi, akupun harus ikut les vokal bersamanya. Padahal aku tidak suka menyanyi. Aku ingin punya sepeda, maka ayah membelikan dua sepeda yang sama persis untuk kami. Semua makanan dan benda-benda yang kami miliki selalu sama. Bahkan nilai ulangan matematikapun harus sama. Sungguh menyebalkan! Padahal aku punya keinginan dan selera sendiri.&lt;br /&gt;            Ayahku berkata, semua itu dilakukan supaya kami selalu kompak. Tidak saling iri. Begitulah selayaknya menjadi anak kembar. Tapi ternyata, sama rata dan sama rasa itu malah membuat kami bertengkar. Orang lain juga tidak bisa membedakan kami dengan baik. Selalu salah memanggil. Itu benar-benar menjengkelkan.&lt;br /&gt;            Minggu sore yang cerah, ayah dan ibu mengajak kami jalan-jalan ke pertokoan. Kami ingin membeli baju. Aku bersemangat sekali. Kubayangkan sebuah celana jeans dengan bordir bunga dan blus pink dengan pita-pita akan menjadi milikku.&lt;br /&gt;            “Bu, aku mau jeans dan blus pink ya.” Pintaku.&lt;br /&gt;            “Ya, lihat saja nanti. Ibu akan cari yang cocok untuk kalian.” Jawab ibuku. Ibu terus memilih baju untuk kami. Aku dan Tawang sibuk dengan pilihan masing-masing. Tak lama kemudian ibu memanggil. Dua potong baju yang sama persis diperlihatkan pada kami.&lt;br /&gt;            “Tidak mau!” Teriak kami bersamaan. Muka kami cemberut. “Aku maunya yang ini!” Kataku sambil menunjuk pilihanku. Tawang pun demikian. Ibu kebingungan dengan sikap kami.&lt;br /&gt;            “Ada apa dengan kalian? Biasanya kalian selalu memilih baju yang kembar kan?”&lt;br /&gt;            “Tapi sekarang tidak, Bu. Aku mau yang ini.” Jawabku ngotot. Ibu semakin bingung. Segala bujuk rayunya tidak mempan lagi.&lt;br /&gt;            Ibu tidak ingin kami ribut di toko baju itu. Dia mengabulkan keinginan kami  memilih baju yang beda. Setelah itu ayah dan ibu mengajak kami makan di gerai bakso agar kami bisa ngobrol.&lt;br /&gt;            “Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya kalian seperti ini?” tanya ayah. Kuceritakan semua kepada ayah dan ibu. Aku benar-benar ingin berbeda dari Tawang. Dengan begitu orang akan bisa mengenali kami satu persatu dengan baik. Tawang juga tidak akan bisa memanfaatkanku lagi demi nilai matematika yang sama. Ayah dan ibuku terkejut mendengarnya.&lt;br /&gt;            “Selama ini ayah dan ibu sama sekali tidak menyangka kalau perlakuan sama ternyata justru memecah belah kalian.” Ayah menyesal.&lt;br /&gt;            “Benar. Sekarang kalian sudah besar. Selama sepuluh tahun ini,  kalian diam saja diperlakukan secara sama, karena kalian masih kecil. Mulai sekarang kalian boleh menentukan keinginan kalian sendiri. Tidak harus selalu seragam meskipun kalian anak kembar. Kalian adalah dua orang yang berbeda.” Ibu juga menyesal.&lt;br /&gt;            “Tawang, mulai sekarang  kamu harus berusaha sendiri. Nilai matematika anak kembar kan tidak harus sama. Kemampuan kalian kan berbeda.” Nasihat ayahku. Tawang kelihatan lega.&lt;br /&gt;            “Nah, sekarang kalian harus baikan lagi. Ayo salaman!” Ibu meraih tangan kami agar bersalaman. Aku dan Tawang saling pandang dan tersenyum. Kamipun bersalaman.&lt;br /&gt;            “Ayah senang anak-anak  ayah sudah akur lagi.”&lt;br /&gt;            “Kalian harus tetap kompak sebagai anak kembar. Kompak bukan berarti harus selalu berpenampilan sama. Juga bukan berarti bisa saling tukar tempat saat ulangan. Bohong itu dosa lho.” Ibu membelai rambut kami.&lt;br /&gt;            Aku senang sekali, ayah dan ibu mau mengerti aku. Aku berjanji akan selalu membantu Tawang belajar menjelang ulangan matematika. Bukankah itu kompak yang baik? Dia juga menyesal telah berbuat curang. (Bekasi Utara, Mei 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-906812308345493065?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/906812308345493065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/kembar-tapi-beda-buat-ayu-dan-ade-juga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/906812308345493065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/906812308345493065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/kembar-tapi-beda-buat-ayu-dan-ade-juga.html' title='KEMBAR TAPI BEDA (Buat Ayu dan Ade juga buat Atala dan Atila)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-443624655331552128</id><published>2009-09-01T19:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T19:58:30.996-07:00</updated><title type='text'>KISAH PIRING DAN GELAS (Untuk Lintang dan Justine, rukun selalu)</title><content type='html'>Siang itu Gelas dan Sendok diambil dari rak. Mereka mendapat tugas untuk membuat es sirup. Gelas membuka mulutnya lebar-lebar agar es dan sirup bisa masuk ke dalam perutnya.&lt;br /&gt;            “Buka mulutmu lebar-lebar, Gelas! Aku akan menuang air ke dalam perutmu!” Teriak Pak Teko. Airpun segera mengucur dari corong Pak Teko. “Nah, sekarang giliranmu mengaduk, Sendok!” Ujar Pak Teko lagi. Dengan cekatan Si Sendok  menceburkan kepalanya ke dalam perut Si Gelas dan mengaduk ramuan minuman itu. Setelah rasa manisnya merata, diapun melompat keluar. Bu Nampan segera memanggil Gelas agar buru-buru melompat ke atas punggungnya. Bu Nampan dan Gelas pun dibawa ke ruang tamu.&lt;br /&gt;            “Silakan diminum.” Ujar Bu Sanusi kepada tamu. Tamu pun segera meneguk minuman segar itu dan tersenyum senang. Cuaca panas begini memang paling cocok minum es sirup. Bu Nampan dan Gelas tersenyum bangga, karena bisa melayani tamu dengan baik.&lt;br /&gt;            Begitulah keluarga alat-alat dapur saling bekerjasama setiap hari. Gelas, Sendok, Garpu, Pak Teko, Bu Nampan, Paman Piring, Tante Mangkuk, dan tetangga-tetangga mereka lainnya, hidup rukun dan saling membantu. Masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;            “Wuih, segarnya!” Ujar Gelas ketika mereka sedang mandi di bawah kran dapur. Wangi lemon dari sabun pencuci piring melekat di tubuh mereka. Busa yang digosokkan menghasilkan kilau yang memukau.&lt;br /&gt;            “Wah, wajahmu jadi bening sekali, Gelas.” Puji Sendok.&lt;br /&gt;            “Terimakasih. Wajahmu juga bercahaya.” Ujar Gelas. Sendok tersipu-sipu.&lt;br /&gt;            “Hai, Anak-anak! Terimakasih atas kerjasamanya ya!” Teriak Bu Nampan yang sudah tampak cantik dan bersih.&lt;br /&gt;            “Sama-sama!” Kata mereka serentak.&lt;br /&gt;            Malam Minggu ini, keluarga Bu Sanusi menyelenggarakan syukuran. Anaknya yang kuliah di luar kota sudah lulus. Maka Bu Sanusi mengadakan pesta sederhana dan mengundang kerabat dekat.&lt;br /&gt;            Gelas tampil sangat cantik. Minuman warna-warni membuat badannya terlihat menarik. Potongan buah strawberry yang ditancapkan di kepalanya sangat menawan. Belum lagi sebuah sedotan warna cerah yang disandarkan di mulutnya. Menambah keelokan wajahnya. Para tamu memuji kehebatan Bu Sanusi menghias gelas minuman. Gelas yang mendengar pujian itu, jadi besar kepala.&lt;br /&gt;            Paman Piring dan Tante Mangkuk juga tampil manis. Piring dihias dengan guntingan daun pisang sedangkan mangkuk dihias dengan selembar serbet makan yang diikat dengan pita. Wah, anggun sekali mereka.&lt;br /&gt;            Di dapur, Pak Teko dan Bu Nampan tidak kalah keren. Tangkai Pak Teko diberi pita kupu-kupu warna merah muda, sedangkan punggung Bu Nampan dihias dengan selembar kain berenda warna serupa. Mereka sangat serasi dan siap melayani para tamu.&lt;br /&gt;            Hei, dimana Sendok dan Garpu? Oh, itu dia! Mereka sudah siap di samping kanan dan kiri Paman Piring. Tapi kenapa mereka tampak murung? Bukankah ini pesta? Seharusnya mereka ikut bergembira seperti yang lain.&lt;br /&gt;            “Hei, Paman Piring! Lihatlah dandananku malam ini, hebat bukan?” Gelas memamerkan dandanannya. Dia merasa paling keren malam itu. “Akulah yang diberi hiasan paling lengkap! Lihat dirimu, masa sih cuma diberi sepotong daun pisang! Ih, kuno!Pastilah Bu Sanusi menganggap aku sebagai alat makan paling penting, sehingga aku diberi hiasan paling mewah!” Piring mencibir mendengar kesombongan Gelas.&lt;br /&gt;            “Hei, Gelas! Kamu jangan merasa paling jago deh! Tentu, akulah yang paling hebat. Sebab tamu akan menggunakanku untuk menyantap hidangan utama. Sedangkan kamu kan cuma tempat minuman! Tampilnya belakangan!” Balas Piring. Tante Mangkuk pun ikut-ikutan membela Paman Piring.&lt;br /&gt;            Sendok dan Garpu menjadi iri pada teman-temannya, karena mereka berdua tidak dihias. Mereka jadi kesal pada Bu Sanusi. “Bu Sanusi benar-benar tidak adil!” Gerutu mereka.&lt;br /&gt;            Malam itu, Sendok, Garpu, Paman Piring, Gelas, dan Tante Mangkuk tidak bisa bekerjasama dengan baik. Gelas merasa paling cantik, Piring dan Mangkuk merasa paling penting, sedangkan Sendok dan Garpu marah karena tidak diperhatikan Bu Sanusi. Akhirnya, pesta malam itu sedikit kacau. Ada minuman tumpah, nasi berhamburan, dan sendok jatuh.&lt;br /&gt;            Sejak kejadian malam itu, Gelas, Sendok, dan Piring menjadi tidak akur. Mereka saling mencurigai dan tidak mau diajak bekerjasama. Gelas bermain dengan sesama gelas saja. Piring hanya ngobrol dengan Mangkuk. Sedangkan Sendok hanya berkumpul dengan Garpu. Kehidupan di rak dapur yang semula tenang dan damai berubah menjadi kacau. Antar tetangga saling membenci, mencurigai, dan bermusuhan.&lt;br /&gt;            “Sebenarnya ada apa ini?” Tanya Pak Teko prihatin. Dia sudah tidak bisa membuat minuman segar lagi gara-gara Gelas dan Sendok tidak mau bertegur sapa.&lt;br /&gt;            “Gelas sekarang jadi sombong, Pak Teko! Dia merasa dirinya paling bagus! Menurutnya, dialah alat makan yang paling penting.” Ujar Piring.&lt;br /&gt;            “Si Piring itu yang merasa dirinya paling berguna. Padahal orang juga bisa makan pakai daun atau kardus!” Balas Si Gelas.&lt;br /&gt;            “Huh! Kalian memang suka pamer! Coba bayangkan kalau di pesta kemarin tidak ada sendok dan garpu! Orang mau makan pakai apa? Pakai tangan? Ya enggak lah ya! Sendok dan Garpu tiada duanya!” Timpal Sendok. Dia masih jengkel dengan ketidakadilan Bu Sanusi.&lt;br /&gt;            “Sudah-sudah, jangan bertengkar! Kalian semua benar! Gelas alat makan yang penting, Piring alat makan yang harus ada, dan Sendok juga alat makan yang tak kalah pentingnya. Kalian semua sama pentingnya! Kalian punya tugas masing-masing. Piring menjadi tempat makanan, Sendok alat untuk menyuap makanan, dan Gelas menjadi tempat minuman. Semuanya berguna dan harus saling membantu.” Nasihat Bu Nampan.&lt;br /&gt;            “Benar, Anak-anak.  Kalian semua adalah satu tim. Meskipun berbeda-beda tapi harus bersatu untuk mencapai satu tujuan. Pesta kemarin menjadi sedikit kacau karena kalian tidak mau bersatu dan saling mencurigai. Yang dihias paling menarik bukan berarti yang paling penting. Yang tidak dihias bukan berarti tidak penting. Masing-masing punya peran sendiri-sendiri. Bayangkan jika Gelas dan Piring tampil apa adanya, tentu tamu tidak akan tertarik. Juga seandainya sendok dihias, tentunya malah akan kerepotan dalam menjalankan tugas.” Tutur Pak Teko.&lt;br /&gt;            Gelas, Piring, dan Sendok saling berpandangan. Bu Nampan dan Pak Teko benar. Perbedaan bentuk, penampilan, tugas, dan pendapat bukan alasan untuk tidak bersatu. Justru karena mereka berbeda, maka bisa saling melengkapi dan bekerjasama. Bayangkan jika piring hanya bekerjasama dengan piring saja, atau sendok dengan sendok saja, tentulah orang kesulitan saat makan. Akhirnya mereka bermaaf-maafan dan berjanji akan kembali kompak di meja makan dalam acara makan malam nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-443624655331552128?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/443624655331552128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/kisah-piring-dan-gelas-untuk-lintang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/443624655331552128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/443624655331552128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/09/kisah-piring-dan-gelas-untuk-lintang.html' title='KISAH PIRING DAN GELAS (Untuk Lintang dan Justine, rukun selalu)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-6452670763014538737</id><published>2009-08-31T18:45:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T18:48:55.946-07:00</updated><title type='text'>CITA-CITA SEPOTONG LILIN (Cerita untuk Lintang dan Justine sebelum tidur)</title><content type='html'>CITA-CITA SEPOTONG LILIN KECIL&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di dalam sebuah almari kaca, tersimpan aneka lilin. Warnanya beraneka ragam. Bentuk dan ukurannyapun bermacam-macam. Ada yang dihiasi pita, bunga-bunga kering, benang emas, bahkan ada yang diberi wewangian.&lt;br /&gt;            “Nanti malam aku akan dipakai untuk menghias meja makan,” kata si lilin merah dengan bangga.&lt;br /&gt;            “Besok Minggu aku akan dipakai untuk menghias kue ulang tahun, lho!” Si lilin berbentuk angka mengatakannya dengan sombong.&lt;br /&gt;            “Aku akan dipakai untuk relaksasi,” ujar si lilin wangi tak mau kalah.&lt;br /&gt;            Di sudut almari, sepotong lilin kecil berwarna putih tanpa hiasan, tertunduk lesu. Dia sedih mendengarkan penuturan teman-temannya itu. Kenapa dirinya tidak pernah diberi tugas? Apakah karena bentuknya yang sederhana dan harganya yang murah? Dia jadi minder.&lt;br /&gt;            Bu Jaya, pemilik koleksi lilin, setiap hari membersihkan koleksinya. Lilin Kecil hanya digeletakkan begitu saja di sudut. Tidak dipedulikan. Jika ada tamu, Bu Jaya selalu memamerkan lilinnya yang indah-indah. Sementara Lilin Kecil dilupakan.&lt;br /&gt;            Lilin Kecil berpikir, mungkin dia akan diberi tugas jika sedikit berdandan. Maka dia memberanikan diri mendekati lilin yang dihisai bunga-bunga rumput kering.&lt;br /&gt;            “Bolehkah aku minta sedikit saja bungamu itu? Supaya aku bisa sedikit berdandan?” Tanya Lilin Kecil. Dengan angkuh lilin bunga rumput menghardiknya.&lt;br /&gt;            “Kalau aku sampai memberikan bungaku untukmu, bisa-bisa kecantikanku akan hilang! Kecantikanku itu penting, Lilin Kecil! Karena aku cantik, maka Bu Jaya sangat sayang padaku. Kamu jangan mimpi deh! Dari dulu, kamu memang sudah jelek. Jadi mau berdandan seperti apapun, tetap saja jelek!” Ejek lilin bunga rumput. Lilin Kecil menjadi semakin sedih. Lilin-lilin yang lainpun menolak memberikan sedikit hiasan mereka. Akhirnya Lilin Kecil kembali ke sudut almari dengan kecewa.&lt;br /&gt;            “Aku ingin sekali bisa menjadi lilin yang berguna seperti mereka. Alangkah senangnya jika aku dibutuhkan. Alangkah bahagianya jika aku bisa memberikan cahayaku. Pasti rasanya bangga sekali. Tapi mana mungkin? Aku hanya diletakkan di barisan paling belakang. Sama sekali tidak terlihat dari luar almari. Wajahku juga polos tanpa hiasan. Mana ada orang yang tertarik padaku?” Lilin Kecil menangis. Seolah sudah tak ada harapan lagi untuk mewujudkan cita-citanya.&lt;br /&gt;            Hari demi hari dilalui Lilin Kecil dalam kesendirian. Teman-temannya yang cantik tidak mau mendekat dan bergaul dengannya. Mereka takut kehilangan pamor dan dianggap sebagai lilin yang tidak berkelas. Maka Lilin Kecil hanya bisa memandangi teman-temannya yang setiap hari dirawat, sambil menelan ludah.&lt;br /&gt;Lama-kelamaan, debu yang menempel pada tubuhnya kian banyak. Bahkan ada sarang laba-laba yang melilitnya. Dia tampak makin kusam dan tidak menarik. Teman-temannya semakin menjauh. Lilin Kecil hanya bisa berdoa, semoga suatu saat nanti dirinya bisa menjadi lilin yang berguna.&lt;br /&gt;            Malam itu Bu Jaya sedang sibuk mengerjakan tugas kantor. Dia sedang sibuk menulis angka-angka. Pekerjaannya membutuhkan ketelitian dan konsentrasi. Tapi tiba-tiba lampu listrik padam.&lt;br /&gt;            “Yah, padahal tugas ini harus segera selesai,” keluh Bu Jaya. Dia sedikit panik. Seluruh ruangan menjadi gelap. Dia tidak ingin pekerjaannya gagal hanya gara-gara listrik padam. Akhirnya dia membuka laci dan mencari lampu senter. Namun tidak ditemukannya. Dia hanya menemukan sebuah kotak korek api.&lt;br /&gt;            “Untung ada korek api, jadi aku bisa menyalakan lilin!” Ujar Bu Jaya girang. Mendengar ucapan itu, para lilin menjadi senang. Berarti mereka akan digunakan. Merekapun berdebat, siapa yang akan dinyalakan untuk menerangi meja kerja Bu Jaya.&lt;br /&gt;            “Pastilah aku! Tubuhku besar, pastilah nyalaku terang dan tahan lama!” Ujar sebatang lilin besar bergambar ukiran.&lt;br /&gt;            “Bukan, bukan! Pastilah aku! Aku panjang dan nyala apiku bersih, pasti aku yang dipilih!” Lilin panjang berwarna putih dengan tempelan gambar bunga mawar tak mau kalah.&lt;br /&gt;            “Siapa bilang? Pasti aku! Aku ditempatkan dalam wadah kaca sehingga tidak meleleh kemana-mana. Jadi, pastilah aku!” Dengan congkak lilin hias dalam wadah kaca itu menonjolkan diri.&lt;br /&gt;            Mendengar ucapan teman-temannya, Lilin Kecil menjadi ciut hatinya. Tidak punya harapan lagi. Mana mungkin Bu Jaya akan mengambilnya. Teman-temannya mempunyai kelebihan. Mereka hebat. Pastilah salah satu dari mereka yang akan terpilih. Dia hanya menundukkan kepala di sudut almari. Tanpa harapan.&lt;br /&gt;            Sebuah korek api menyala mendekati kaca almari. Para lilin segera memamerkan kehebatan masing-masing agar terpilih. Cukup lama Bu Jaya mencari-cari lilin yang cocok, tapi tidak ketemu juga.&lt;br /&gt;            “Lilin besar itu mengeluarkan asap yang kotor, lilin putih gambar bunga mawar cepat sekali meleleh, lilin dalam wadah kaca nyalanya kecil, sedangkan lilin yang memakai hiasan pita dan bunga  sayang kalau dipakai. Dimana ya aku meletakkan lilin kecil warna putih itu?” Tangan Bu Jaya menggapai-gapai sudut almari. Mendengar namanya disebut, Lilin Kecilpun segera beranjak. Hatinya amat girang. Belum pernah dia merasa sebangga ini.&lt;br /&gt;            “Aku di sini!” Teriak Lilin Kecil. Teman-temannya mencibir karena iri.&lt;br /&gt;            “Oh, ini dia! Untung aku masih menyimpannya. Dia memang kecil tapi nyalanya terang dan bersih.” Ujar Bu Jaya. Diapun segera meraih lilin itu dan membersihan kotoran yang menempel.&lt;br /&gt;            Lilin Kecil dinyalakan sumbunya lalu diletakkan di tengah meja. Cahaya yang muncul dari tubuhnya menerangi seisi ruangan itu. Oh, inikah rasanya menjadi berguna? Senang sekali. Bisa memberikan sesuatu yang dimiliki untuk membantu orang lain. Lilin kecil tersenyum bangga. Walaupun begitu, dia tidak menyombongkan diri. Dia tetap tersenyum ramah kepada teman-temannya yang memandang dengan muka masam dari dalam almari.&lt;br /&gt;            “Terimakasih, Tuhan. Engkau telah mengabulkan doaku. Aku sudah menjadi lilin yang berguna. Jauhkanlah aku dari sifat sombong ya, Tuhan.” Sejenak Lilin Kecil memejamkan mata untuk bersyukur. Lalu menengadah dan melihat nyala api yang bergoyang-goyang indah di kepalanya. Dia bahagia karena Bu Jaya bisa melanjutkan pekerjaannya lagi. Meskipun tubuhnya terus meleleh dan kian pendek, dia senang. Dia telah membantu meringankan pekerjaan Bu Jaya.&lt;br /&gt;            “Untung ada lilin kecil ini, sehingga pekerjaanku bisa selesai tepat waktu.” Kata Bu Jaya. Tiba-tiba lampu listrik menyala kembali. Buru-buru Bu Jaya meniup lilin itu “Karena lampu sudah menyala, akan kusimpan lilin ini di tempat biasa. Kapan-kapan kalau lampu mati, akan kugunakan lagi.”&lt;br /&gt;            Malam itu Lilin Kecil bisa tidur nyenyak. Dia jadi tahu, setiap benda memiliki kegunaannya masing-masing. Dia mulai mengerti, bahwa dirinyapun punya kelebihan dibalik kekurangannya. Dia tidak merasa minder lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-6452670763014538737?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/6452670763014538737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/cita-cita-sepotong-lilin-cerita-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6452670763014538737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6452670763014538737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/cita-cita-sepotong-lilin-cerita-untuk.html' title='CITA-CITA SEPOTONG LILIN (Cerita untuk Lintang dan Justine sebelum tidur)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-8523321035862001163</id><published>2009-08-30T19:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T19:37:30.091-07:00</updated><title type='text'>PENGHARAPAN DAN DOA TIDAK PERNAH SIA-SIA (KUASA DOA vol 4, 7 Sept 2009)</title><content type='html'>PINTUPUN DIBUKAKAN BAGIKU&lt;br /&gt;Dari Caecilia Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Siang itu putri keduaku yang masih duduk di bangku TK A pulang dengan membawa hadiah. Satu tas jinjing kertas berisi boneka, satu pak kartu bahasa inggris, dan  satu set alat mewarnai dari merek terkenal. Dia bilang baru saja memenangkan lomba menggambar di sekolah. Kupeluk dan kucium dia sambil mengatakan bahwa aku sangat bangga. Hatikupun bersyukur.&lt;br /&gt;            Paginya, saat kuantar dia ke sekolah, kutanyakan perihal hadiah itu pada guru kelasya. Ibu Guru itu memberiku ucapan selamat. Bahkan memberitahu bahwa putriku menjadi juara dua dari sekian ratus anak yang ikut lomba. “Gambarnya sudah bertema. Tarikan garisnya tegas dan mewarnainyapun rapi. Dia baru empat tahun, tapi sudah sangat menonjol prestasi  gambarnya.” Ujar Ibu Guru sambil menunjukkan hasil karya anakku. Gambar rumah dengan pohon, taman, langit cerah, dan seorang anak perempuan memetik apel.&lt;br /&gt;Air mataku meleleh. Ibu Guru sampai heran. Seharusnya aku tersenyum senang tapi kenapa malah menangis. Buru-buru kuhapus air mata dan berusaha tersenyum, lalu menjabat erat tangan Ibu Guru.”Terimakasih ya, Bu.” Ucapku, lantas buru-buru berlalu. Aku sangat bersyukur sampai-sampai bukan tawa lagi yang terlontar, melainkan tangis bahagia.&lt;br /&gt;Betapa tidak, saat berumur dua tahun, putriku belum bisa berjalan. Padahal, anak tetangga yang sebaya sudah bisa berlari kesana-kemari. Dia susah makan dan mudah muntah sehingga tampak begitu kurus, matanya sayu, gampang sakit dan kakinya kecil serta lemas. Berat badannya terus menurun. Bahkan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yang diberikan Posyandu, berat badan anakku sudah nyaris menyentuh garis merah, yang artinya berat badan sangat kurang. Aku khawatir anakku lumpuh.&lt;br /&gt;            Saat itu aku sering menyalahkan diri-sendiri. Kenapa saat mengandung tidak doyan makan dan dilanda morning sickness terus-menerus? Kenapa aku tidak mau melawan rasa mual untuk meminum susu khusus untuk ibu hamil? Kenapa tidak mau mengalahkan rasa nek untuk meminum vitamin-vitamin yang diberikan dokter? Lihatlah akibatnya, anak yang kulahirkan menjadi kekurangan gizi  dan pertumbuhannya tidak wajar. Air mata penyesalan tak ada guna. Sudah terlambat.&lt;br /&gt;            “Bapa, aku tidak pernah minta yang muluk-muluk. Aku hanya minta anak yang sehat. Tapi kenapa anakku sakit?” Protesku kala itu. Bahkan kadang setiap kali menyuapinya aku mengucap, “Dengan nama Tuhan Yesus.” Aku memaksa Yesus untuk melindungi usahaku sehingga makanan itu tidak dimuntahkan putriku. Tapi toh akhirnya muntah juga, dan aku kecewa.&lt;br /&gt;            Saat lahir pada 4 Februari 2004, dia tidak menangis, sampai-sampai bidan  menjungkirkan tubuhnya dan menepuki pantatnya. Akhirnya dia menangis sebentar lantas lebih sering tertidur sampai aku kesulitan untuk menyusui. Sehabis menyusu pun dia mudah muntah padahal sudah disendawakan. Kata dokter lambungnya kecil, jadi perlu jarak dua jam untuk menyusui. Saat mulai mengenal makanan lembek pun dia gampang muntah. Sampai-sampai tubuhnya menjadi kurus sekali. Menu yang bisa masuk ke lambungnya hanya itu-itu saja, sehingga asupan gizinya tidak seimbang. Sebab jika diperkenalkan pada menu lain dia akan muntah-muntah hebat. Sampai menjelang masuk TK, makananya hanya bubur halus. Hanya itu yang bisa diterimanya tanpa muntah. Jika ada segelintir nasi saja yang tertelan, maka seluruh isi lambungnya akan keluar. Itu membuatku stress. Bahkan saking tertekannya, aku tidak pernah bisa menangis, padahal sangat ingin menangis.&lt;br /&gt;Saat berumur satu tahun, bayiku belum bisa bangun sendiri. Dokter tumbuh kembang anak yang memeriksanya mengatakan, pertumbuhan motoriknya terganggu akibat gizi buruk. Otaknya tidak bisa memerintahkan syaraf-syaraf motorik untuk bekerja dengan baik. Bayi-bayi normal lain secara alami, akan menggunakan telapak tangan untuk menyangga tubuh jika akan jatuh. Bayiku tidak bisa melakukan gerakan naluriah yang paling dasar itu.&lt;br /&gt;Orang-orang yang melihat anakku selalu merasa prihatin. Ibu-ibu lain pasti sangat bangga jika bayinya dicolek atau digemesin karena sehat dan montok. Sedihnya hatiku karena tidak ada orang yang mencolek atau gemas pada putriku. Semua orang selalu tampak prihatin karena kondisi bayiku yang memelas. Bahkan ketika ibu mertuaku bertandang, beliau malah menangis saat melihat cucunya dan membuatku tambah sedih.&lt;br /&gt;            “Anak saya tidak kena folio kan, Dok? Anak saya tidak lumpuh layuh kan, Dok?” Ketakutanku teramat dalam.&lt;br /&gt;            “Anak ibu belum terlambat untuk ditangani. Kita harus memperbaiki gizinya dulu. Usahakan makan sedikit-sedikit tapi sering sehingga tidak mudah muntah. Saya berikan vitamin untuk merangsang nafsu makannya. Susunya juga diganti dengan susu khusus, supaya kebutuhan gizinya tercukupi. Setelah tubuhnya lebih kuat, anak ibu bisa diterapi. Otaknya harus diberi memori tentang cara-cara bangun, duduk, jongkok, berdiri, kemudian berjalan. Sabar ya, Bu. Prosesnya akan lama. Tapi jika kontinyu, anak ibu pasti tertolong.” Beban hatiku sedikit teringankan. Ada secercah harapan.&lt;br /&gt;            Aku harus meluangkan banyak waktu untuk menyuapi bayiku. Harus sabar mendampinginya menerima susu formula baru yang diresepkan dokter. Akupun dituntut untuk setia memeriksakan putriku secara rutin.&lt;br /&gt;            “Maafkan aku telah menyangsikan-Mu, Bapa. Kauberi aku jalan. Terimakasih” Ucapku dalam doa malam ketika berat badan anakku mulai bertambah. Bayiku dinyatakan siap untuk mengikuti terapi. Pemberian nutrisi otak dengan obat yang mengandung piracetam pun dimulai.&lt;br /&gt;            Terapi dilakukan dua kali seminggu. Senin dan Kamis. Diawali dengan memiringkan tubuh anak, menapakkan tangannya ke matras, lantas pelan-pelan memutarnya ke depan agar bisa duduk. Ruangan ber-AC sejuk, matras bersih, ruangan dengan gambar warna-warni dan terapist yang ramah membuat anakku betah dan tidak rewel selama latihan dan penyinaran. Aku harus mengulang-ulang gerakan itu di rumah agar otak anakku merekam gerakan-gerakan itu, sehingga saatnya nanti bisa melakukan sendiri tanpa bantuan. Tiga bulan kemudian, dia bisa duduk sendiri.&lt;br /&gt;            Proses pengobatan itu cukup menguras keuangan keluarga. Setiap datang untuk terapi, sedikitnya seratus delapan puluh ribu rupiah harus keluar. Belum termasuk menebus resep obat, vitamin, dan susu khusus. Batinku menjadi ciut. Sanggupkah aku dan suamiku melalui tahapan-tahapan terapi sampai putri kami benar-benar bisa berjalan? Sementara penghasilan suamiku hanya cukup? Memang segala pengeluaran pengobatan keluarga bisa mendapat ganti 60% dari kantor, tapi kan tetap harus keluar uang dulu.&lt;br /&gt;            Tiada henti aku berdoa. Aku yakin, Tuhan akan memenuhi kebutuhanku. Hingga suatu hari aku mencari informasi ke rumah sakit negeri, ternyata di sanapun terapi semacam itu bisa dilakukan. Tentu saja ongkosnya jauh lebih murah. Bahkan hanya seperempatnya saja.  Harapan baru muncul kembali.&lt;br /&gt;            Aku rela mengantri berjam-jam untuk mendaftar, membayar biaya pengobatan di loket dan menunggu giliran dipanggil di depan ruang terapi. Tentu saja ruangannya kini tidak ber-AC, tidak ada gambar warna-warni yang disukai anakku, matrasnya usang, pelayanan para medisnya tidak seramah yang dulu, dan harus mau berdesak-desakan dengan pasien lain yang jumlahnya bejibun. Tapi aku terus menguatkan hati. Semua kulakukan demi kesembuhan buah hati kami. Mungkin aku kuat untuk menunggu berjam-jam sebelum dipanggil ke ruang terapi, tapi tidak dengan putriku. Kadang dia sudah terlanjur kelelahan menunggu sebelum jatuh gilirannya untuk mengikuti terapi.&lt;br /&gt;Di rumah sakit negeri, putriku mulai belajar posisi merangkak, dilanjutkan dengan posisi jongkok, lantas dilatih berdiri. Dia tidak pernah mau merangkak, tapi mengesotkan pantat dan kakinya setiap kali ingin berpindah tempat. Perkembangannya memang sangat lambat. Setiap posisi atau gerakan dasar kira-kira dibutuhkan waktu tiga bulan untuk bisa melakukan sendiri tanpa bantuan. Tapi aku terus bertahan dan berusaha tersenyum penuh syukur.&lt;br /&gt;            Suatu ketika, saat sedang menjalani terapi di atas matras, bayiku muntah. Tambah kotorlah matras untuk umum itu. Seorang perawat marah-marah. Dia menegurku dengan nada tinggi. “Lain kali kalau mau terapi, anaknya jangan disuapi dulu!” Katanya. Kami sudah menunggu begitu lama sedari pagi sampai tibalah waktu untuk makan siang bagi anakku. Apa aku akan membiarkannya tidak makan sampai terapi selesai? Tentu aku tak sampai hati membiarkan dia lapar. Ruangan menjadi kotor dan bau. Berulang-ulang aku minta maaf. Buru-buru kubersihkan bekasnya dengan selendang yang biasa kupakai untuk menggendong putriku. Di tempat itu tidak ada lap atau tisyu.&lt;br /&gt;            Bayiku mengalami trauma sejak kejadian itu. Dia ketakutan, menangis keras, dan mengamuk jika diajak ke ruang terapi. Akhirnya terapist-pun kesulitan untuk melatihnya. Bahkan ketika baru sampai di pintu gerbang rumah sakit, dia sudah meraung-raung minta pulang. Aku jadi bingung dibuatnya.&lt;br /&gt;Karena tidak tega pada anakku, aku tidak pernah datang ke rumah sakit lagi. Untuk kembali ke rumah sakit swasta yang dulu, aku tidak yakin dengan kondisi keuangan kami. Aku sempat kehilangan semangat dan dilanda kekhawatiran. Jangan-jangan putriku tidak bisa berjalan jika terapi itu dihentikan. Akhirnya aku melatihkan gerakan-gerakan, yang pernah diajarkan oleh terapist pada putriku di rumah. Sedikit demi sedikit, sesuai kemampuannya.&lt;br /&gt;            “Bapa, aku percaya, bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Engkau pasti selalu memperhatikan usahaku demi kesembuhan anakku. Aku tahu, Engkau mencintai umat-Mu yang mau berusaha. Aku serahkan semua usahaku ini hanya pada-Mu ya, Bapa. Aku percaya Engkau tidak akan berpaling dariku. Hanya pada-Mu aku berharap, Bapa.” Aku percaya, Bapa tidak pernah memberi harapan kosong.&lt;br /&gt;Saat perayaan Natal 2005 di lingkungan, Sinter Klas bertanya,”Justine, apa yang menjadi harapanmu di Natal ini?” Aku sebagai ibunya mewakilinya menjawab,”Dia ingin cepat bisa jalan, Om Sinter Klas.” Tokoh itupun kaget. Masa ada anak umur dua tahun belum bisa jalan? Diapun buru-buru menyalami tangan kecil anakku sambil berkata,”Semoga Tuhan Yesus mendengarkan doa dan harapanmu ya, Justine.” Amin, jawabku.&lt;br /&gt;Dan keajaiban itupun datang. Maret tahun 2007, saat putriku berusia dua tahun satu bulan, dia berjongkok, memegang kedua lututnya, mengangkat tubuhnya, berdiri sempoyongan, lantas melangkah dua kali ke arahku dan jatuh. Aku terbelalak melihatnya.&lt;br /&gt;            “Puji Tuhan!” Aku semakin percaya,  pengharapan yang disertai doa dan usaha, tidak pernah sia-sia. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7) Terimakasih Tuhan, Kau dengar suara ketukanku dan Kaubukakan pintu untukku. Tuhan selalu memberi kesempatan pada umat-Nya untuk berusaha, supaya mereka semakin kuat, tambah dewasa jiwanya, dan tidak lupa diri atas keberhasilan yang dicapainya. Itu yang kurasakan. Tuhan menyertai segala usaha manusia, namun semuanya butuh proses, tidak serta-merta datang seperti sulap. Justru proses itulah yang membuat manusia semakin menemukan dirinya sebagai yang berarti dan berharga. Hasil memang penting, tapi tak ada maknanya jika tanpa proses usaha dan campur tangan Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;            Kini Justine sudah berumur 5,5 tahun dan duduk di bangku TK B. Badannya memang tidak bisa gemuk, larinyapun tidak sekencang anak-anak lain, bahkan jika sedang bermain dan ada anak yang lebih agresif dia memilih untuk menyingkir karena takut tersenggol dan jatuh. Namun kemampuan motorik halusnya luar biasa. Apalagi dalam hal menggambar dan mewarnai. Bahkan dalam beberapa kali pentas tari Natal dan HUT Kemerdekaan RI di lingkungan tempat tinggal kami, dia selalu di barisan depan karena paling cepat hafal gerakannya dan bisa ditiru teman yang lain. Matanya bulat dan berbinar cerdas. Aku yakin, itulah keadilan Tuhan.  Diapun kini mulai belajar makan nasi dan makanan padat lainnya, tanpa muntah.&lt;br /&gt;            “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Mat 7: 11) Kesembuhan Justine adalah pemberian Bapa yang terbaik dalam hidupku. Aku memintanya, dan Dia memberikan padaku. Jumlah waktu selama satu tahun satu bulan pengobatan dan terapi itu, dulu kulalui dengan sangat berat. Tapi itu tak ada artinya dibanding dengan hikmah Kasih Tuhan kepada keluarga kami. Aku belajar sabar, setia, lebih mencintai keluargaku, dan kamipun jadi team work yang kompak. Terimakasih, Bapa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-8523321035862001163?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/8523321035862001163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/pengharapan-dan-doa-tidak-pernah-sia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8523321035862001163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8523321035862001163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/pengharapan-dan-doa-tidak-pernah-sia.html' title='PENGHARAPAN DAN DOA TIDAK PERNAH SIA-SIA (KUASA DOA vol 4, 7 Sept 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-198656335000900146</id><published>2009-08-29T23:13:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T23:14:40.371-07:00</updated><title type='text'>BERAKHIRNYA SEBUAH PERSAINGAN (HIDUP  no 41 tahun ke-61 14 Oktober 2007)</title><content type='html'>BERAKHIRNYA SEBUAH PERSAINGAN&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berto dan Siska sama-sama lulusan dari sebuah universitas negeri terkemuka di Negara ini. Keduanya diwisuda dengan predikat Cuma laude dan meraih nilai terbaik di jurusannya. Kini, Berto bekerja sebagai dosen di almamaternya dan sedang melanjutkan kuliah ke strata dua. Istrinya, Siska, menjadi reporter di sebuah majalah wanita terkenal di Ibu Kota.&lt;br /&gt;            Tahun pertama, hubungan mereka lancar dan harmonis. Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Sejoli itu bisa mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Namun ketika pada tahun ketiga Siska melahirkan anak pertama, mau tidak mau dia harus rela melepaskan pekerjaan yang menjadi cita-citanya sejak kecil! Bayi mereka tidak bisa minum susu formula sehingga harus bergantung pada susu ibu (ASI)! Sungguh merepotkan!&lt;br /&gt;            Siska mulai sering uring-uringan menghadapi situasi seperti itu. Dia menjadi  semakin stress ketika teman-temannya menelpon dan menyayangkan keputusannya untuk mengundurkan diri. Ayahnyapun pernah menyatakan rasa kecewanya karena sudah membiayai sekolah tinggi-tinggi tapi akhirnya masuk dapur juga! Ibu muda itu benar-benar mengeluh, kenapa tidak ada yang bisa mengerti posisi sulitnya! Anaknya tidak bisa ditinggal kerja!&lt;br /&gt;            “Sudahlah, Ma, bukankah anak jauh lebih penting dari apapun juga? Kebutuhan kita juga sudah tercukupi dari gajiku. Lagipula, setelah anak kita berumur dua atau tiga tahun, kamu bisa bekerja lagi.” Berto memberi penghiburan. Kata-kata suaminya cukup menguatkan hatinya.&lt;br /&gt;            Setahun telah berlalu, kini prestasi dan karier Berto semakin gemilang. Pergaulannya semakin luas dan semakin dihormati di kampus. Melihat itu semua, Siska menjadi iri hati. Terlebih jika bertemu dosen-dosen wanita teman sekerja suaminya saat ada arisan. Seharusnya dia bisa berkarier gemilang seperti mereka! Satu tahun tinggal di rumah telah menjauhkan dirinya dari teman-teman dan lingkungan yang serba produktif dan professional. Pergaulannya menjadi sempit, ilmunya menjadi mandeg, wawasannya ciut, dan mulai ada perasaan minder di hatinya. Dia bukan hanya iri pada suaminya tapi juga menjadi minder! Siska merasa dirinya benar-benar selevel dengan pembantunya. Hanya mengurus anak, membereskan pekerjaan rumah tangga, dan nonton sinetron atau infoteiment!&lt;br /&gt;            “Pa, aku mau kerja lagi!” Katanya pada suaminya suatu hari.&lt;br /&gt;            “Apa sudah siap untuk meninggalkan anak kita dan membiarkannya diasuh pembantu?”&lt;br /&gt;            “Harus siap, Pa. Kalau tidak nekat nanti aku keburu tua dan tidak laku di bursa kerja. Apalagi teman-temanku sudah jadi redaktur semua. Aku harus mengejar ketinggalanku.”&lt;br /&gt;            “Apa kamu benar-benar tega untuk menyapih anak kita?”&lt;br /&gt;            “Pa, jangan menyudutkan aku terus dong! Laki-laki bisa tega meninggalkan anaknya di rumah demi kariernya, kenapa perempuan tidak?” Berto hanya menarik nafas dalam. Dia tidak mau berdebat lagi karena tekat Siska begitu bulat. Seminggu kemudian Siska mulai bekerja sebagai koordinator liputan pada sebuah surat kabar ternama. Tugasnya menuntut dirinya untuk sering pulang larut malam. Saat berangkat kerja, anaknya belum bangun dan setelah pulang anaknya sudah tidur. Lama-kelamaan anaknya lebih lengket kepada pembantunya dan merasa tidak butuh ibunya. Pada awalnya Siska merasa sedih, tapi lama-lama situasi itu justru menguntungkan dirinya. Karena saat harus tugas ke luar kota, anaknya tidak perlu rewel!&lt;br /&gt;            Hari Minggu, mertuanya datang dan menginap. Otomatis keluarga adik iparnyapun datang. Kebetulan anak adik iparnya sebaya dengan anaknya. Ketika pamer kebolehan, anak berusia dua tahun itu sudah pintar berdoa, pandai menyanyikan lagu-lagu sekolah minggu, dan bicaranyapun sudah banyak dan jelas. Sementara itu, anaknya hanya diam, takut pada orang baru, dan sesekali rewel jika pembantunya sibuk di dapur. Adik iparnya begitu bangga pada anak balitanya. Sedangkan Siska, apa yang bisa dibanggakan dari anak yang pendiam, penakut, dan sering rewel? Siska kecewa sekali.&lt;br /&gt;            Sejak punya anak, adik iparnya memang dengan kesadaran penuh lebih memilih mendidik anak ketimbang mengejar karier. Tentu saja anak yang diasuh oleh ibunya sendiri akan jauh memiliki kemajuan dibanding anak yang diasuh pembantu. Semakin tinggi pendidikan si pengasuh bukankah akan semakin banyak kemampuan yang bisa ditransfer kepada anak?&lt;br /&gt;            Lama sekali Siska merenungkan hal itu. Untuk apa dia harus mati-matian menyaingi karier suaminya jika akhirnya anaknya sendiri yang menjadi korban. Dia mulai menyadari, suami memang bukan sosok untuk disaingi. Meskipun dulu mereka bersaing di bangku kuliah, bersaing meraih popularitas di kampus, bersaing siapa yang bakal lulus duluan, bersaing mendapatkan nilai A pada setiap mata kuliah, namun kini situasinya jauh berbeda. Mereka bukan teman kuliah lagi, melainkan sudah menjadi suami-istri.&lt;br /&gt;            Siska diingatkan pada isi Kitab Kejadian. Bukankah Allah menciptakan wanita sebagai penolong yang sepadan bagi pria? Adam dan Hawa diciptakan tidak untuk saling bersaing. Mereka diberi tugas dan posisi masing-masing sesuai dengan rencana Sang Pencipta, yaitu memenuhi bumi dan menakhlukkannya.Bagaimana bisa pria dan wanita menguasai bumi jika saling bersaing? Mereka harus saling menolong. Tuhan menciptakan mereka sama-sama menurut gambar dan citra Allah. Keduanya sama-sama diberkati oleh-Nya. Mereka sudah mempunyai kedudukan yang sepadan semenjak diciptakan. So, buat apa bersaing? Buat apa wanita sibuk mencari kesetaraan jika sejak dibentuk dari tulang rusuk pria, dirinya sudah sepadan dengan pria?&lt;br /&gt;Pria akan meninggalkan keluarganya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Dalam satu daging, mana mungkin kehidupan harmonis bisa terselenggara jika anggotanya saling bersaing? Bisa-bisa jadi duri dalam daging! Masing-masing sudah diberi tugas sesuai rencana Allah. Bukankah yang lebih penting untuk diusahakan adalah saling mengasihi, saling menghargai, saling menghormati, dan saling mendukung, sehingga tidak akan ada penindasan atau sikap superior antara yang satu terhadap lainnya?&lt;br /&gt;“Pa, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku.” Siska memberitahu suaminya dengan hati-hati. Dia tidak mau dianggap plin-plan.&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;            “Anak kita jauh lebih penting. Toh di rumah aku masih bisa baca buku, browsing internet, dan bikin tulisan untuk kukirim ke media cetak. Jadi talentaku tetap bisa berkembang dan anak kita tidak akan ketinggalan lagi.” Suaminya tersenyum bahagia mendengarkan kebijaksanaan istrinya itu. Hati Siska pun berbunga karena akan semakin dekat dengan buah hati mereka. (Rini Giri, Bekasi Utara, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-198656335000900146?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/198656335000900146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/berakhirnya-sebuah-persaingan-hidup-no.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/198656335000900146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/198656335000900146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/berakhirnya-sebuah-persaingan-hidup-no.html' title='BERAKHIRNYA SEBUAH PERSAINGAN (HIDUP  no 41 tahun ke-61 14 Oktober 2007)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-6742107325130229035</id><published>2009-08-29T23:11:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T23:12:47.416-07:00</updated><title type='text'>Tangisan Si Gadis Rantang (HIDUP  no.12 tahun ke-62 23 Maret 2008)</title><content type='html'>TANGISAN SI GADIS RANTANG&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota kabupaten tempat aku tinggal, terdapat sebuah gereja paroki. Para pastur yang berkarya di paroki itu tinggal di sebuah pasturan di belakang bangunan gereja. Sehari tiga kali aku datang ke sana untuk mengantar rantang berisi makanan yang akan disantap para pastur. Umat paroki mempercayai catering ibuku untuk menyediakan hidangan sehari-hari bagi para pastur itu.&lt;br /&gt;Tugas mulia ini sudah aku jalani sejak masih kelas satu  SMP dulu. Sekarang aku sudah kuliah semester  lima dan bertambah sibuk, tapi aku tetap setia menjalankan tugasku sebagai pengantar rantang. Sambil mengantar makanan, aku bisa kenal lebih dekat dengan para pastur maupun petugas sekretariat gereja  lainnya.&lt;br /&gt;“Mbak Ririn adalah orang yang paling ditunggu-tunggu,” seloroh Pak Mardi, koster gereja, saat aku masuk ke dapur pasturan pada suatu siang.&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa, Pak?”&lt;br /&gt;“Kalau mbak Ririn belum datang, para pastur gelisah,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Kok?”&lt;br /&gt;“Habis, kalau rantang yang dibawa Mbak Ririn belum sampai, mereka belum bisa memulai kegiatan.” Pak Mardi tertawa geli. Akupun ikut terkekeh. Seperti biasanya aku membantu koster itu menata hidangan di meja makan. Hidangan dibagi dua. Sebagian untuk Romo Galih, Ketua Dewan Paroki, dan sebagian lagi untuk Romo Seto. Khusus untuk Romo Galih, ibuku memasakkan hidangan yang rendah kalori dan rendah gula. Maklum, pastur yang sudah memasuki usia senja ini punya penyakit diabetes militus. Sedangkan untuk Romo Seto, tidak ada pantangan atau diet khusus.&lt;br /&gt;“Kok kelihatannya buru-buru, Rin?” Tanya Romo Galih sewaktu berpapasan denganku di ruang tamu. Beliau baru pulang dari memberikan sakramen perminyakan kepada warga yang sakit di salah satu lingkungan.&lt;br /&gt;“Ada kuliah siang, Romo. Saya permisi dulu ya. Mohon berkat Tuhan.” Akupun meraih tangan tua itu dan kucium. Di kota kabupaten pedalaman seperti ini, seorang pastur memang sangat dihormati. Cium tangan merupakan suatu kebiasaan  umat untuk menunjukkan rasa hormat dan cintanya pada sang gembala.&lt;br /&gt;“Hati-hati ya. Tuhan memberkati. Belajar yang benar, biar hidupmu sukses. Sekarang kamu jadi pengantar rantang, lima atau sepuluh tahun lagi aku ingin melihatmu jadi eksportir makanan siap santap,” pesan Romo Galih dengan sedikit humornya. Akupun tertawa. Romo Galih dan Romo Seto memang sudah seperti temanku sendiri. Kami sering ngobrol, berkelakar, dan berdiskusi. Namun begitu, rasa hormatku kepada mereka tetap selalu kujunjung tinggi.&lt;br /&gt;Kedekatanku dengan Romo Seto harus berakhir karena beliau dipindahkan ke paroki lain. Sebagai gantinya, datanglah seorang pastur muda yang baru saja ditahbiskan. Namanya Romo Adi. Orangnya ramah, supel, bijak, dan humoris. Bonusnya, wajahnya rupawan. Romo baru ini langsung populer di kalangan Mudika dan kelompok Legio Maria. Setiap mereka mengadakan kegiatan, pastilah Romo Adi yang diminta untuk mendampingi. Akupun cepat akrab dengan pastur baru ini. Dia menjulukiku Si Gadis Rantang. Bahkan Romo Adi mempercayaiku sebagai penunjuk jalan jika melakukan kunjungan pastoral ke pelosok-pelosok lingkungan yang belum dikenalnya.&lt;br /&gt;Rupanya kedekatanku dengan Romo Adi menimbulkan desas-desus yang kurang sedap. Aku digosipkan punya hubungan khusus dengannya. Hal yang lebih menyakitkan lagi, aku dikira sengaja menggoda pastur yang begitu baik itu. Seorang teman Ibuku bahkan memperingatkan dengan keras agar anak gadisnya ini menjauhi sang pastur karena di parokinya dulu sempat terjadi aib dimana seorang pastur terpaksa menanggalkan jubah demi menikahi wanita yang terus-menerus mendekatinya.&lt;br /&gt;“Tidak mungkin lah, Bu. Aku sangat menghormati Romo Adi. Dia itu gembala umat yang dipanggil sendiri oleh Tuhan. Mana mungkin aku akan menjadi penghalang bagi pekerjaan Tuhan di dunia ini,” jawabku ketika Ibu mempertanyakan kebenaran desas-desus yang sangat memalukan bagi keluarga kami itu.&lt;br /&gt;“Ibu percaya sama kamu, Rin. Tapi mulai sekarang, untuk menghindari fitnah yang lebih kejam lagi, kamu harus mengurangi kedekatanmu dengan Romo Adi.” Aku tahu, Ibuku juga kasihan pada pastur muda itu. Jangan sampai kabar-kabar bohong dari orang-orang yang iri dan dengki ini bisa menjadi kendala baginya untuk melayani umat. Baiklah, aku akan mundur. Kedekatan pastur dengan umatnya memang harus dalam porsi yang wajar. Aku tidak mau jadi pengantar rantang lagi. Biar tugas itu dilakukan pembantu ibuku.&lt;br /&gt;“Pak Mardi, mulai besok, rantang akan diantar pembantu kami. Tolong diingat diet Romo Galih ya, Pak. Jangan sampai menunya tertukar dengan milik Romo Adi. Ingat ya, Pak, minum Romo Galih itu teh tawar. Jangan sampai lupa,” pesanku pada koster di hari terakhir aku mengantar rantang. Pak Mardi hanya mengangguk. Aku tahu dia merasa sedih karena tidak ada lagi yang membantunya menata meja makan pastur.  Padahal sudah hampir selama sembilan tahun terakhir ini aku adalah mitra setianya. Dia juga sedih karena tahu bahwa segala berita yang tidak mengenakkan itu adalah bohong belaka.&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku jarang muncul di pasturan. Aku tidak ingin omongan-omongan yang tidak benar  semakin merajalela dan menjatuhkan nama baik Romo Adi maupun merongrong kehidupanku. Romo Galih dan Romo Adipun memaklumi tindakanku. Bahkan merekapun membantu membersihkan nama baikku dengan memberi penjelasan seperlunya kepada umat. Semoga lambat-laun umatpun menyadari bahwa yang mereka dengar hanyalah gosip murahan dan fitnahan orang dengki belaka.&lt;br /&gt;Semester tujuh ini aku mengikuti Kuliah Kerja Nyata di suatu pedusunan di lereng gunung. Telepon sama sekali tidak ada di sana. Telepon selularpun tidak bisa digunakan karena tidak ada sinyal. Alat komunikasi  yang bisa kami andalkan adalah surat dan e-mail. Namun, surat bisa datang terlambat dan e-mail baru bisa kami akses jika dosen atau koordinator tingkat kecamatan datang  membawa laptop.&lt;br /&gt;“Rin, ada e-mail dari adikmu. Maaf ya, sepertinya  agak terlambat. Baru masuk tadi pagi.” Koordinator tingkat kecamatan tampak mendung ketika mulai membuka laptopnya. Siang itu dia sengaja datang ke dusun kami hanya untuk mengantar berita itu. Diapun segera menyodorkan laptopnya dan membukakan e-mail untukku.&lt;br /&gt;“Mbak, Romo Galih sudah berpulang malam ini. Gula darahnya naik terus dan sempat masuk rumah sakit selama tiga hari. Kata Dokter, beberapa bulan terakhir dietnya kacau. Misa requem untuk beliau diadakan esok pagi jam 10.00. Apa Mbak Ririn bisa pulang? Salam dan doa, adikmu, Riana.” Tiba-tiba dadaku menjadi sesak, jemariku mengepal, mukaku memanas, bibirku menggigil, dan air  mata tidak bisa kubendung lagi. Akupun berteriak histeris. Menangis dan sulit berhenti. (Bekasi Utara, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-6742107325130229035?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/6742107325130229035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/tangisan-si-gadis-rantang-hidup-no12.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6742107325130229035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6742107325130229035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/tangisan-si-gadis-rantang-hidup-no12.html' title='Tangisan Si Gadis Rantang (HIDUP  no.12 tahun ke-62 23 Maret 2008)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7057940867593330170</id><published>2009-08-29T23:01:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T23:03:22.939-07:00</updated><title type='text'>YESUS FILTER HIDUPKU (Warta Klara 30 Agustus 2009)</title><content type='html'>YESUS FILTER HIDUPKU&lt;br /&gt;Oleh C. Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terucap dan ditunjukkan dalam perilaku, ternyata mencerminkan apa yang dipunyai. Jika perbendaharaannya baik, maka yang terluncur dari mulut dan  tertuang dalam tindakan adalah hal-hal yang baik. Sebaliknya jika perbendaharaannya minus, maka kata-kata yang terlontar dan perilaku yang tampak juga kurang terpuji.&lt;br /&gt;            Jika saya sedang rajin membaca Alkitab, maka saya akan terisnpirasi untuk menulis hal-hal yang berjiwa rohani. Tapi ketika saya sedang iseng membaca bacaan kurang bermutu, maka yang saya tulispun sumpah serapah. Apa yang keluar dari diri benar-benar berasal dari perbendaharaan yang tersimpan dalam hati dan pikiran. Apa yang memancar dari diri adalah apa yang menjadi perasaan dan pandangan.&lt;br /&gt;            Mungkin kadang bisa berakting di depan orang lain, beda di dalam beda pula di luar. Alias pakai topeng. Tapi akan bertahan berapa lama? Lambat laun akan capek menipu diri sendiri dan orang lain. Orang lain, selugu apapun, juga mampu membaca mata dan mengenali bahasa tubuh. Merekapun akan tahu jika  ternyata isi hati dan ucapan tidak sinergi. Atau pikiran dan tindakan tidak sejalan.&lt;br /&gt;            Dunia ini dilengkapi dengan dua sisi yang berseberangan. Kutub baik-kutub buruk, halal-haram, sejati-palsu, jujur-dusta, rendah hati-congkak, dan sebagainya. Celakanya kelima indera mampu menangkap dan menyerap semuanya. Bisa melihat kebaikan tapi juga menatap kejahatan. Bisa mencium kedamaian tapi juga membaui permusuhan. Bisa mendengar kejujuran tapi juga menguping kebohongan. Bisa mencecap perilaku halal tapi juga merasakan perilaku haram. Bisa meraba ketulusan tapi juga menyentuh kedengkian.&lt;br /&gt;            Namun apa yang ditangkap panca indera, tidak semuanya harus menjadi perbendaharaan. Manusia berhak untuk memilah dan memilih. Kalau yang dipilih dan disimpan dalam brankas adalah hal baik, maka kelak yang dibagikan pada orang lain juga kekayaan yang baik itu. Tapi jika yang disimpan dalam tabungan hal yang tidak baik, maka bagaimana mungkin akan menaburkan hal baik sementara tak punya simpanan yang baik?&lt;br /&gt;            Yesus berkata : “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” Mark 7:15. Rupanya kita butuh filter untuk menyaring semua hal yang terserap. Sebab semua hal bisa mempengaruhi kita. Jika pandai menyaring, maka hanya yang baik dan benar saja yang tersimpan dan dikeluarkan dalam ucapan dan tingkah laku. Jika tepung sudah diayak dan disimpan dalam kantong, bukankah siap dijadikan kue lezat? Tapi jika mengayak pasir dan lebih memilih kerikil yang tersisa di atas saringan, bukankah akan menyandung kaki suatu saat?&lt;br /&gt;            Semua kejahatan dunia yang mempengaruhi dan tidak berguna, biarlah tidak masuk ke dalam hati. Cukup masuk ke perut dan dibuang ke jamban. Sebab jika dibiarkan masuk ke dalam hati dan suatu saat dikeluarkan, maka akan menajiskan. Orang lain bisa terluka dan tersakiti kareanya.“Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” Mark 7:20-22.&lt;br /&gt;            Ya, Yesus, jadilah Engkau filter bagi hidupku. Sehingga aku bisa memilah dan memilih hal baik yang layak menjadi kekayaan rohaniku. Sehingga aku tidak akan dinajiskan oleh sesuatu yang kotor yang keluar dari mulut, kaki, dan tanganku. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7057940867593330170?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7057940867593330170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/yesus-filter-hidupku-warta-klara-30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7057940867593330170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7057940867593330170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/yesus-filter-hidupku-warta-klara-30.html' title='YESUS FILTER HIDUPKU (Warta Klara 30 Agustus 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7937530213420989452</id><published>2009-08-29T22:06:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T22:08:08.367-07:00</updated><title type='text'>SAHABAT PENA DARI SIBERUT (HIDUP No 22 tahun ke-61 14 Oktober 2007)</title><content type='html'>SAHABAT PENA DARI SIBERUT&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Siapa aku? Anak hutan belantara yang biasa bermain dengan alam dan bergurau dengan hijaunya dedaunan. Ya, berbeda sekali dengan dirimu yang tinggal di kota dengan mobil dan bangunan megah yang kau sebut dengan apa itu…mall?&lt;br /&gt;            Rumahku? Aku tinggal di dalam uma di tengah rimba. Rumah panjang untuk ditinggali keluarga besar kami. Kau pernah cerita soal rumah tradisional joglo di daerahmu itu kan? Yah, boleh dibilang uma itu rumah tradisional kami.&lt;br /&gt;Hobiku? Hobiku berburu. Aku sudah mengenal kegiatan ini selagi masih orok…ha… ha…ha…Kami sudah bisa membuat busur dan anak panah sendiri sejak kecil. Ujung anak panah kulumuri racun mematikan dari kulit kayu dan akar tumbuhan khusus. Tapi tenang saja, kau tak perlu takut bergaul denganku.  Berburu adalah kebanggaan lelaki Mentawai sepertiku. Kami punya etika dalam berburu kok.&lt;br /&gt;Kau tahu letak Pulau Siberut kan? Di lepas pantai barat Sumatera. Di Kepulauan Mentawai. Pulau Siberut yang terbesar dan paling utara dari kepulauan itu. Keluargaku tinggal di kota kecamatan bagian tenggara dari pulau itu, namanya Muarasiberut. Jauh sekali dari Kota Semarang-mu bukan?&lt;br /&gt;Makanan kami? Kami makan sagu hutan. Berlauk ikan, daging binatang buruan, atau tempayak. Kau pasti belum pernah mencicipi gurihnya tempayak. Binatang kecil itu muncul dari dalam pohon sagu yang dibelah dan dibiarkan selama beberapa minggu. Proteinnya tinggi.&lt;br /&gt;            Ah, tapi aku sedih menceritakan semua itu padamu. Itu hanya tinggal kenangan yang diceritakan Bajaj (ayah) padaku. Semua yang kupaparkan itu bukan masa kecilku, tapi masa kecil Bajaj. Aku sudah tidak mengenal uma lagi, tapi tinggal di perkampungan. Jangankan punya  panah beracun dan membidik babi hutan, berburupun sekarang dilarang keras dan senjata-senjata tajam dirazia. Hutan dibabat para cukong. Tapi kami yang dituding telah merusak ekosistem, menjarah hutan, dan melakukan perburuan liar. Aku sudah tak pernah makan sagu, makananku beras seperti orang Jawa. Dan kami, anak-anak di kecamatan-kecamatan telah belajar di sekolah-sekolah yang didirikan para misionaris. Orang luar bilang, orang Mentawai itu suku primitif yang harus dibikin beradab. Mereka datang dengan pembangunan dan telah merusak hidup kami. Tatanan adat hilang, tradisi leluhur dilarang, kami harus meninggalkan agama nenek moyang dan berganti agama baru yang diijinkan pemerintah, hutan belantara tempat kami menyandarkan hidup dibabat habis, dan kami harus menyingkir dari uma seperti siput yang dicopot dari cangkangnya.&lt;br /&gt;            Sudahlah, mungkin harus begitu supaya modern. Selalu butuh tumbal. Tapi dengan bersekolah aku bisa membaca, menulis, mengetahui dunia luar, termasuk mengenal dirimu yang jauh. Dari Pastur Kepala Sekolahlah aku mendapat majalah yang memuat berita tentang keberhasilanmu menjadi Siswa Teladan SMA Tingkat Nasional. Sehingga aku bisa kenalan denganmu. Jangan berhenti mengirim surat padaku ya, karena dengan itu aku bisa melihat dunia…”&lt;br /&gt;            Itu isi surat kedua dari sahabat penaku di Siberut. Kuterima awal Januari 1990. Lantas di akhir bulan, kutulis padanya, bahwa pembangunan justru meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran, kesehatan, dan pendidikan warga. Jadi janganlah memandang buruk pembangunan. Coba, lihatlah Pulau Jawa yang telah terlebih dahulu dibangun. Hidup di sana sungguh nyaman dan mudah karena segala fasilitas ada. Universitas-universitas berkualitaspun dibangun di seantero Jawa. Kuusulkan padanya untuk kuliah di Jawa saja setamat SMA nanti. Dia kini mendapat beasiswa dari yayasan misi di daerahnya, sehingga bisa duduk di bangku SMA Katolik di Padang Pariaman. Dengan begitu, kelak dia bisa membangun tanah kelahirannya. Dia juga kuberitahu tentang komputer yang semakin canggih, bahkan internet dan telepon seluler mulai dikonsumsi kalangan tertentu di Jawa. Hebat bukan?&lt;br /&gt;            Surat balasanku itu adalah surat terakhirku. Dia terus menulis, tapi aku tak membalas karena harus kuliah ke Tokyo atas beasiswa yang kuterima. Kini, delapanbelas tahun telah berlalu. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Mungkin sudah pulang ke Siberut dan menjadi guru di sekolah misi.&lt;br /&gt;Tiap hari, dari televisi ruang kerjaku di Jakarta, kulihat bencana terus melanda negeri ini. Banjir melahap Metropolitan dua kali dalam satu tahun. Ibukota sudah menjadi hutan beton yang tidak mampu menyerap air hujan. Dulu aku membanggakan mall-mall yang bertebaran di Semarang, tapi kini aku pusing melihatnya. Sungai-sungai di Jawa yang tenangpun meluber akibat pendangkalan oleh sampah dan menggenangi kota-kota yang dilaluinya. Di mana-mana tanah longsor karena tanaman-tanaman keras yang menyangga perbukitan telah ditebang. Lumpur panas pun merendam puluhan kampung karena ambisi pengeruk isi perut bumi yang ingin tambah kaya. Aku rindu untuk menulis lagi bagi sahabat lamaku itu.&lt;br /&gt;“Sekarang, hampir setiap orang punya telepon seluler dan bisa mengakses internet semau gue. Tapi pulau yang kubangga-banggakan padamu karena kemajuannya, kini sedang menuai bencana. Aku lahir, tumbuh, dan besar di pulau kaya ini, sehingga terlena dalam kenikmatan hasil-hasil pembangunannya. Fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, komunikasi, tehnologi, rekreasi semua serba tersedia dalam kondisi prima. Aku penikmat pembangunan yang tulen, sampai-sampai tak punya kepekaan sepertimu.&lt;br /&gt;Tuhan memang memberi hak pada manusia untuk memenuhi dan menaklukkan bumi serta menguasai isinya. Bukankah itu tugas untuk memiliki, memanfaatkan, merawat, dan memelihara? Bukan untuk merusak, memusnahkan, dan membinasakan? Manusia hanya membanggakan hasil tanpa peduli dampak. Pembangunan memang membawa kemajuan dan kemudahan hidup. Tapi jika dilakukan tanpa perencanaan, tanpa pertimbangan pada dampak lingkungan dan sosial, pasti kamu telah melihat sendiri akibatnya, banjir, tanah longsor, lumpur panas meluap, penggusuran.&lt;br /&gt;Aku saat ini bukan hanya merasa seperti siput yang dipaksa keluar dari cangkang, tapi merasa sudah dipotong-potong, ditusuk satai dan dihidangkan di meja makan VIP  hotel berbintang lima. Kelihatannya mewah dan penuh gengsi, namun ternyata menderita. Pernah aku terpaksa meninggalkan mobilku yang terbenam banjir di jalan dan mencapai kantor dengan diangkut gerobak sampah berongkos limapuluh ribu rupiah.  Oh Tuhan…”&lt;br /&gt;Kutelepon Istriku apakah surat-surat sahabat penaku dari Siberut itu masih tersimpan baik, karena aku membutuhkan alamat yayasan misi yang dulu menyekolahkannya. Dia bilang, semua barang di lantai bawah sudah dihancurkan air dan lumpur saat banjir lalu. Termasuk surat-surat itu. Oh, bagaimana kabar hutan rimbamu, Siberut? Jakarta kebanjiran…(Bekasi Utara, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7937530213420989452?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7937530213420989452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/sahabat-pena-dari-siberut-hidup-no-22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7937530213420989452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7937530213420989452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/sahabat-pena-dari-siberut-hidup-no-22.html' title='SAHABAT PENA DARI SIBERUT (HIDUP No 22 tahun ke-61 14 Oktober 2007)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7758894438414242495</id><published>2009-08-29T22:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T22:06:09.882-07:00</updated><title type='text'>KETIKA DIA PULANG (HIDUP no.10 tqhun ke-62 9 maret 2008)</title><content type='html'>KETIKA DIA PULANG&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Aku sedang berdandan di depan cermin pagi itu, ketika Mbok Narti  mengetuk pintu kamar yang setengah terbuka dan memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganku.&lt;br /&gt;            “Siapa?” tanyaku sedikit jengkel. Pagi-pagi begini, saat sedang bersiap-siap untuk pergi misa, kenapa musti ada tamu! Siapa sih tamu nggak tahu waktu itu?&lt;br /&gt;            Setelah dandanan terasa pas dan pantas, aku mengintip dari gorden jendela kamar. Seorang lelaki tua berdiri di teras dengan sikap gelisah. Ya Tuhanku dan Allahku! Kepalaku seperti tersambar petir dan tubuhku seperti terkena tendangan bola yang meluncur ke gawang! Tiba-tiba aku lunglai, jantungku serasa mau copot, persendianku lemas, dan kerongkonganku mengering membuat lidah jadi kelu. Dia, yang duapuluh lima tahun lalu meninggalkan rumah ini, meninggalkan aku dan ketiga anak-anak yang masih kecil, demi seorang perawan molek yang tak tahu diri, kini kembali. Mau apa dia? Kenangan-kenangan pahit dan bekas-bekas luka yang harus aku telan dan kusembuhkan sendiri itu muncul lagi. Selama ini aku sudah bisa melupakannya, mengenyahkannya dari ingatan, melenyapkannya dari mimpi-mimpi burukku, dan bahkan sudah menganggap dia mati! Tapi kenapa sekarang dia berdiri lagi persis di tempat ketika aku memohon-mohon dengan tangis pilu sambil memeluk erat kakinya, supaya tidak pergi duapuluh lima pasang musim yang lalu? Aku benar-benar tak habis mengerti!&lt;br /&gt;            Segera kuraih hand phone di meja rias dan kuhubungi anakku tertua. Aku berusaha mencari dukungan darinya. Dia sudah berusia delapan tahun waktu ayahnya pergi, jadi kuharap dia lebih mengerti keadaannya dibanding kedua adiknya,  yang kala itu masih balita dan sama sekali tidak punya memori tentang sosok ayahnya.&lt;br /&gt;            “Apa Ibu masih mencintai Bapak? Kalau memang ibu masih berkenan, terimalah dia kembali, Bu. Bagaimanapun juga dia ayah kami. Tapi kalau tidak, ya sudah, itu hak  Ibu. Saya dan adik-adik hanya ingin Ibu bahagia. Kami tidak ingin Ibu tersakiti lagi. Hanya Ibu yang bisa memutuskannya,” ujar anak lelakiku di ujung telephone. Aku memang tidak pernah menjelek-jelekkan ayah mereka atau menanamkan rasa dendam pada anak-anakku. Mereka bertiga tumbuh wajar dengan seorang ibu single parent tanpa banyak tanya tentang ayah mereka. Sama sepertiku, selama ini mereka merasa ayahnya seolah sudah mati. Tidak ada cerita, kabar, foto, ataupun kenangan tentangnya.&lt;br /&gt;Aku harus berani menghadapi lelaki tua itu. Apa maunya sekarang? Akupun bergegas ke teras dengan sikap yang elegan dan berwibawa, meskipun sebenarnya itu hanya topeng dari perasaan kacauku. Ketika aku muncul, dia menoleh ke arahku dengan gerakan serba salah tingkah. Kenapa kakek tua? Kamu kaget melihat diriku masih cantik dan kian matang? Aku hanya diam dalam keangkuhan sambil menunggu apa yang mau dikatakannya. Kini sorot matanya layu, tubuhnya kurus, raut mukanya loyo, dan penampilannya sama sekali tidak perlente seperti dulu. Aku tetap bisu menunggu.&lt;br /&gt;            “Miranti...” desisnya menyebut namaku. Aku masih berdiri kaku. Dia mendekat dan menatap mataku sendu. Sebenarnya jantungku berdetak kencang melihat mata yang dulu pernah kucintai itu, tapi aku tetap membatu. “Ranti, maafkan aku.” Apa? Minta maaf? Setelah sekian puluh tahun mengkhianati dan mencampakkanku seperti rombengan? Setelah membiarkanku hidup menderita membesarkan tiga anak sendirian? Dia mau minta maaf? Jadi setelah dia jadi sakit, lusuh, dan tak berguna seperti itu, dia mau minta maaf, minta dikasihani, minta dimaklumi, lantas dengan seenaknya mau kembali ke rumah ini? Enak saja! Kemana dara molek yang membuat dirinya kehilangan daya nalar, perasaan, dan iman itu? “Aku dan Savina sudah bercerai tiga tahun lalu,” ucapnya tanpa ditanya. Oh, jadi cuma sebatas itu cinta perempuan yang membuatnya lupa daratan itu? Setelah lelaki itu jadi bobrok dan tidak bisa lagi dihisap uangnya, lantas dicampakkan begitu saja! Aku membuang muka sinis. “Ranti, aku punya banyak dosa padamu dan anak-anak. Aku mohon, Ranti, maafkan aku. Sekarang aku sudah tua, sakit, dan mungkin sebentar lagi akan mati. Aku hanya ingin minta maaf darimu, supaya  hari-hari akhirku menjadi tenang dan akupun bisa mati dengan tersenyum, meskipun pastilah dosaku ini tidak terampuni,” ujarnya lirih dengan mata merah berkaca-kaca, lantas batuk-batuk tak ketulungan.  Dia tampak begitu menderita. Tiba-tiba aku jadi kasihan padanya. Penyesalannya sungguh-sungguh. Dia pulang hanya dengan tubuh tua yang letih, dengan batuk hebat yang menggerogoti badannya, dan dengan kerendahan hati untuk minta maaf. Bukankah sebenarnya sejak dulu  aku mendamba agar suamiku menyadari kesalahannya? Lihat diriku, bukankah justru aku yang sedang berdiri dalam kecongkaan dan perasaan menang? Aku menarik nafas dalam. Dulu aku sangat mencintainya, bahkan rela bersumpah di depan altar untuk setia kepadanya dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit. Kini dalam kondisinya yang memprihatinkan seperti itu apakah aku akan terus membusungkan dada untuk tidak menggenapi sumpahku dalam sakramen perkawinan tiga puluh lima tahun silam? Bukankah kami tidak pernah bercerai?&lt;br /&gt;            Oh, Yesus. Kenapa Kau harus mengajariku untuk memaafkan orang lain tujuh puluh kali tujuh kali? Kenapa Kau harus mengajariku untuk memberikan pipi kiri ketika pipi kanan ditampar orang lain? Kenapa juga Kau tidak membiarkan perempuan pezinah itu dilempari batu, bahkan Kautolong dan Kausuruh bertobat? Aduh, berat betul ajaran dan teladan-Mu, ya Yesus! Aku mengeluh. Tiba-tiba lelaki itu berlutut dan memeluk kakiku erat sambil menangis.&lt;br /&gt;            “Aku memang tidak pantas untuk mendapat maafmu. Aku juga tidak layak untuk bertemu anak-anak. Kesalahanku memang sangat besar. Aku memang pantas mendapatkan hukuman…” Setelah itu dia berdiri. Dengan kepala tertunduk diapun membalikkan badan dan pergi dengan langkah gontai. Punggungnya tampak tersengal-sengal oleh batuk yang luar biasa menyiksa.            Apakah engkau akan tetap membisu dalam kesombonganmu, Miranti? Untuk apa kau pergi ke gereja dan minta ampun pada Bapa kalau kau sendiri tidak mau memaafkan orang lain?&lt;br /&gt;“Mas,” panggilku dengan susah-payah. Lelaki itu berhenti dan menoleh. Aku mendekatinya. “Pagi ini aku mau ke gereja. Apa kau mau kita pergi bersama?” Wajah renta itu memandangku dan tersenyum mengangguk penuh haru. Untuk menerimanya lagi di hatiku  mungkin butuh waktu, tapi untuk sekedar memaafkan dan membuatnya tersenyum, aku bisa melakukannya bukan? Oh, Yesus, ajaran-Mu memang keras, tapi dengan sedikit kerendahan hati saja, ajaran itu begitu mudah dan membahagiakan. Terimakasih, Yesus. (Bekasi Utara, Oktober 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7758894438414242495?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7758894438414242495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/ketika-dia-pulang-hidup-no10-tqhun-ke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7758894438414242495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7758894438414242495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/ketika-dia-pulang-hidup-no10-tqhun-ke.html' title='KETIKA DIA PULANG (HIDUP no.10 tqhun ke-62 9 maret 2008)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-8945794359257901476</id><published>2009-08-29T21:57:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T22:01:53.603-07:00</updated><title type='text'>Sepeda Tante Tien (HIDUP no 04 tahun ke-62, 27 jan 2008)</title><content type='html'>SEPEDA TANTE TIEN&lt;br /&gt;Oleh Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sudah dua minggu ini bunyi bell sepeda onta yang rutin mengunjungi Bina Iman Anak (BIA) itu tidak terdengar. Ada apa gerangan? Apakah Tante Tien bangkrut gara-gara setiap Hari Minggu bagi-bagi kue dagangan gratis pada anak-anak? Apakah Tante Tien pulang kampung? Ataukah Tante Tien sakit?  Tidak ada satu orangpun di tempat BIA yang tahu. Rita menggigit bibir. Hatinya resah memikirkan ketidakhadiran perempuan paruh baya penjaja kue keliling itu. Dia lebih suka kalau ternyata tante Tien memang sudah memutuskan untuk tidak memberi kue gratis lagi.  Kalau  apa yang dilakukan perempuan itu bisa bikin bangkrut, tentu Rita akan sangat menyesal.&lt;br /&gt;            “Maaf, Tante. Saya sangat berterimakasih atas perhatian Tante pada kegiatan BIA. Tapi Tante, ini kan barang dagangan. Kalau setiap Hari Minggu dibagikan gratis pada anak-anak, Tante bisa tekor. Nanti pakai apa bayar kontrakan dan biaya makan keluarga Tante?” kata Rita suatu hari.  Perempuan dengan sepeda onta lengkap keranjang kue di boncengannya itu hanya tersenyum. Dia terus memasukkan kue donat sebanyak duabelas biji, sesuai jumlah anak yang hadir, ke dalam kantung plastik.&lt;br /&gt;            “Ini cuma sedikit kok. Tidak ada artinya dibanding berkat Tuhan yang melimpah untuk saya dan keluarga.” Ah, tante satu ini memang sok! Semua orang juga tahu kalau keluarganya itu miskin, suaminya menganggur, anak-anaknya tidak bisa kuliah. Berkat yang mana? Demi melihat kernyitan di dahi Rita, perempuan  itu berkilah. “Yang penting keluarga kami tetap rukun, tetap bisa makan, tetap sehat.” Oh. Rita menghela nafas. “Ini wujud syukur. Cuma ini yang bisa kami berikan,” lanjutnya sambil menyodorkan bungkusan itu pada si pendamping BIA. Anak-anak pasti akan berlompatan girang menerima penganan gratis itu. Rita hanya mengangguk sambil mengucap terimakasih sebelum sepeda onta itu berlalu. Dulu pernah Rita menyodorkan sejumlah uang sebagai kompensasi, tapi dengan tulus Tante Tien menolak.&lt;br /&gt;            Apa iya Tante Tien bangkrut sehingga tak bisa jualan lagi? Kalau pulang kampung tidak mungkin, karena biasanya memberi tahu. Atau jangan-jangan sakit? Rita segera mendapatkan ide. Dia harus mengunjungi rumah Tante Tien untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Mahasiswi itu pergi bersama dua orang pendamping BIA lainnya dan tiga anak asuh.&lt;br /&gt;            Rumah kontrakan itu berupa petak dengan ruang tamu sempit, sebuah kamar tidur yang hanya tertutup kain gorden lusuh, dan sekat kecil untuk memasak serta ada kamar mandi ciut. Seorang lelaki tua duduk di beranda sambil mengepulkan asap rokok, sedangkan sepeda onta itu tidak kelihatan. Apa tante Tien sedang pergi? Rombongan itupun segera bertanya pada lelaki tua, suami Tante Tien, yang buru-buru masuk rumah untuk memberi tahu. Tak lama sosok perempuan yang sangat mereka kenal karena kemurahan hatinya itu muncul dari dalam rumah. Dengan senyum ramah yang cerah. Syukurlah, dia baik-baik saja.&lt;br /&gt;            “Aduh, mimpi apa aku semalam sampai-sampai dikunjungi tamu-tamu istimewa ini.” Diapun segera menyalami rombongan. “Maaf ya, sudah beberapa kali saya tidak bisa mampir, soalnya tidak ada sepeda lagi. Mau jalan ke sana sudah letih rasanya.” Diapun mempersilakan rombongan duduk di atas tikar  ruang tamunya.&lt;br /&gt;            “Sepedanya rusak?” Tanya Rita.&lt;br /&gt;            “Bukan. Anak saya sedang butuh ongkos untuk cari kerja di kota lain. Hanya sepeda itu yang bisa dipakai untuk menambah uang sakunya.”&lt;br /&gt;            “Tante tidak jualan lagi?” desak Rita.&lt;br /&gt;            “Jualan kok. Tapi hanya dekat-dekat sini saja. Soalnya jalan kaki. Aduh, maaf ya, tidak sempat mengunjungi bina iman lagi.”&lt;br /&gt;            “Nggak pa-pa kok, Tante. Yang penting Tante selalu sehat dan baik-baik saja.” Jawan Rita menghibur. Perempuan itupun terus nyerocos dengan ceritanya. Katanya, sejak tidak pernah mampir ke BIA, dagangannya agak sepi.&lt;br /&gt;            “Oh, seandainya bisa mampir terus, pastilah laris.” Rita tersenyum geli. Sebenarnya mudah saja logikanya, kalau naik sepeda daya jangkau Tante Tien semakin luas dan pembeli semakin banyak. Sedangkan dengan jalan kaki, daerah yang dikelilingi terbatas sehingga yang belipun sedikit. Tapi perempuan sederhana itu masih saja mengkait-kaitkan hasil dagang dengan berkah dan syukur. Rita geleng-geleng.&lt;br /&gt;            Suatu hari, BIA mengedarkan proposal untuk acara Lomba Kitab Suci. Kas Lingkungan sudah mengucurkan dana, tapi masih dirasa kurang. Rapat pengurus lingkungan akhirnya mengijinkan Tim BIA mencari donator.  Anak-anak muda itupun mendatangi warga yang dianggap terpandang di lingkungan itu, dengan harapan dana yang akan diberikanpun jumlahnya tidak main-main. Satu dua orang memang memberikan dana cukup banyak dengan senyum tulus, tapi beberapa orang hanya mengeluarkan lembaran warna ungu atau hijau. Itupun dengan ceramah panjang lebar, keluhan adanya macam-macam tarikan sumbangan, dan sungut-sungut kenapa tidak minta dana saja pada paroki. Bahkan ada juga yang hanya disambut pembantu yang mengatakan bahwa tuan rumah sedang pergi. “Memang lebih mudah bagi seekor unta masuk ke lubang jarum!” sungut Rita kesal. Toh Tim BIA cukup kreatif untuk mengalokasikan dana yang ada sehingga acara berjalan baik bahkan menyisakan surplus beberapa puluh ribu.&lt;br /&gt;Rita kini jadi mengerti, kenapa Tante Tien begitu gembira dan bersemangat meskipun dia hidup dalam segala kekurangan. Dia orang yang selalu diliputi rasa syukur. Memberikan kue dagangan cuma-cuma pada anak-anak BIA merupakan ucapan terimaksihnya pada Tuhan, sehingga dia tidak pernah merasa rugi meskipun mengurangi pendapatan. Jika dia berhenti memberi, diapun merasa kehilangan sarana untuk berucap syukur dan sedih bahkan rugi. Memang aneh. Mungkin itulah yang namanya iman. Bahagia meskipun mempersembahkan segala yang dimiliki dari kekurangannya.&lt;br /&gt;“Kenapa uang sisa kegiatan itu tidak digunakan untuk kebahagiaan sesama kita?” Tanya Rita pada teman-teman satu timnya.&lt;br /&gt;“Maksudmu?” Tanya salah satu diantara mereka.&lt;br /&gt;“Sisa uang itu ditambah iuran sukarela kita, bisa dibelikan sebuah sepeda bekas.” Jawab Rita. Apa salahnya sih berbuat sesuatu untuk orang yang telah berjasa bagi BIA?&lt;br /&gt;“Buat apa?” Mereka tak habis mengerti. Rita tersenyum lagi.&lt;br /&gt;“Buat Tante Tien.” Jawab Rita kemudian.&lt;br /&gt;“Supaya kamu kebagian kue gratis lagi?” Ledek kawannya. Rita tetap tersenyum.&lt;br /&gt;“Ya. Supaya dia kembali bahagia. Bukankah kalian juga merasakan senyum tulus dan kebahagiaan hati Tante Tien setiap kali datang?.” Kawan-kawannyapun mengangguk setuju. Semakin merekahlah senyum senang Rita. Mereka segera merogoh kocek masing-masing.&lt;br /&gt;Pada pertemuan BIA berikutnya, bell sepeda Tante Tien terdengar lagi. Ada kebahagiaan di raut wajah tuanya. Kali ini lebih banyak lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-8945794359257901476?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/8945794359257901476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/sepeda-tante-tien-hidup-no-04-tahun-ke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8945794359257901476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/8945794359257901476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/sepeda-tante-tien-hidup-no-04-tahun-ke.html' title='Sepeda Tante Tien (HIDUP no 04 tahun ke-62, 27 jan 2008)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-1489341056184881143</id><published>2009-08-29T21:53:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T21:54:22.095-07:00</updated><title type='text'>MAU IKUT MUNDUR JUGA? (Warta Klara 23 Agustus 2009)</title><content type='html'>MAU IKUTAN MUNDUR JUGA?&lt;br /&gt;Oleh C. Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi hanya diberi susu. Namun seiring bertambahnya usia, dia harus makan menu halus, lembik, lantas padat. Jika bayi tidak diajari demikian, maka sampai besarpun  tidak akan bisa mencerna makanan padat.&lt;br /&gt;            Anak kedua saya juga begitu. Sampai umur 4,5 tahun hanya makan bubur saja. Sebab setiap kali dikenalkan pada menu lembik, dia selalu muntah. Saya putus asa dan membiarkannya terus makan bubur daripada tidak sama sekali. Akibatnya? Dia terkena gizi buruk dan terlambat jalan bahkan harus terapi. Puji Tuhan, kini dia sudah baik.&lt;br /&gt;Dalam surat pertama  kepada umat di Korintus, Paulus pernah berkata: “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras,  sebab kamu belum dapat menerimanya.” Paulus menjelaskan bahwa ajaran-ajaran Kristus hanya bisa ditangkap oleh orang yang dewasa rohani. Sebab ajaran-ajaran Yesus sangat radikal. Jika hanya belajar hal mudah terus, maka tidak akan segera dewasa.&lt;br /&gt;Kotbah di bukit dalam Matius 5-7 membuat semua orang berkobar-kobar hatinya. Yesus orator ulung yang mampu menghipnotis pendengar dan pembaca dengan kata-kata indah, lugas, tegas, dan tepat sasaran. Dia mengajar sebagai orang yang berkuasa.&lt;br /&gt;Ajaran-ajaran-Nya tidak ringan. Miskin di hadapan Allah, menjadi garam dan terang dunia, mengajarkan berarti melakukan, mengampuni lebih utama daripada persembahan, tak ada perceraian, hidup jujur, tidak membalas kejahatan orang, mengasihi musuh,  berdoa-bersedekah--puasa bukan untuk pujian dan pameran, mengumpulkan harta surgawi, tidak mengkhawatirkan hidup, tidak mudah menghakimi, mau berusaha dalam doa, memilih jalan hidup yang benar, berbuah kebaikan, dan meletakkan iman pada dasar yang kokoh. Siapa yang tidak takjub? Siapa yang sanggup melakukannya?&lt;br /&gt;Bahkan murid-murid yang kagum pada perkataan dan perbuatan besar-Nya, langsung menyadari ketajaman ajaran itu. Di Kapernaum, Yesus pernah menyatakan diri sebagai roti yang turun dari surga. Barangsiapa makan daging-Nya dan minum darah-Nya akan beroleh hidup kekal. Lalu para murid bersungut-sungut dan berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yoh 6: 59-66. Dan sejak saat itu murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.&lt;br /&gt;Ketika menyadari bahwa ajaran Kristus itu tidak mudah, apakah lantas juga akan mundur teratur? Seperti saya yang langsung menyerah ketika anak saya hanya doyan bubur? Nyatanya berakibat fatal, anak saya kurang gizi dan perkembangan motoriknya terganggu. Jika ikut mundur, kerugian besar yang akan menimpa. Sebab ajaran Yesus bak harta karun di ladang, sehingga orang rela menjual apapun untuk membeli seluruh ladang itu. Butuh perjuangan untuk menemukannya dan pengorbanan untuk melakukannya.&lt;br /&gt;Simon dan para rasul tetap bertahan. Bahkan ketika ditantang untuk pergi, Simon menjawab. “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” Yoh 6:68-69.&lt;br /&gt;Yesus melalui Simon, menunjukkan cara menjadi dewasa rohani, seperti harapan Paulus. Harus percaya hanya pada-Nya, tak ada tempat lain. Percaya bahwa ajaran itu adalah ajaran Allah dan akan membawa pada hidup kekal.&lt;br /&gt;Mengenal Yesus seperti minum susu. Mendengar ajaran-Nya seperti belajar makan bubur. Merenungkan firman-Nya seperti mengenal menu lembik. Melakukan apa yang dikehendaki-Nya seperti menikmati makanan padat. Butuh proses, belajar, sabar, tekun, dan rendah hati. Pantang mundur! Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-1489341056184881143?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/1489341056184881143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/mau-ikut-mundur-juga-warta-klara-23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/1489341056184881143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/1489341056184881143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/mau-ikut-mundur-juga-warta-klara-23.html' title='MAU IKUT MUNDUR JUGA? (Warta Klara 23 Agustus 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7469587068678807611</id><published>2009-08-29T21:51:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T21:52:54.832-07:00</updated><title type='text'>DUA ORANG PEREMPUAN (Warata Klara 14 juni 2009)</title><content type='html'>DUA ORANG PEREMPUAN&lt;br /&gt;Oleh Caecilia Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Suatu pagi aku kedatangan tamu. Dua orang perempuan. Senyum dan ucapan mereka seramah sahabat. Mereka bertanya, apakah aku seorang kristiani. Tentu, jawabku. Aku mengenal Yesus sejak kecil bahkan dibabtis ketika bayi. Merekapun mengeluarkan beberapa buku rohani untuk ditawarkan. Judulnya menarik, bersampul indah, dan dilengkapi gambar-gambar menawan. Mereka bilang aku boleh mendapatkannya dengan membayar secara sukarela. Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran seperti itu? Tanpa pikir panjang akupun memilih buku tentang keluarga dan cerita Alkitab untuk anak-anak. Toko buku terdekat belum tentu menyediakan bahan bacaan semenarik itu. Setengah jam kami ngobrol di ruang tamu dengan keakraban yang terbina seperti air mengalir. Saat pulang, aku mengantar mereka sampai pintu gerbang dan mengucapkan banyak terimakasih. Seorang ibu rumah tangga yang jarang bepergian sepertiku, lantas diberi bacaan bagus dengan harga murah, bukankah suatu anugerah? Aku sudah menghemat biaya transportasi untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;            Seminggu kemudian, dua perempuan itu kembali mampir ke rumah. Masih dengan senyum dan perkataan ramah yang membuat kami cepat akrab. Seperti teman lama rasanya. Mereka mulai mengajakku berdiskusi tentang segala kebobrokan dan kerusakan dunia akhir-akhir ini. Menurut mereka, Tuhan tidak menyebabkan segala kehancuran di bumi ini. OK, aku sependapat. Tuhan telah memberikan kebebasan secara bertanggung jawab kepada manusia untuk mengelola bumi seisinya. Tentu saja jika kemudian bumi ini mengalirkan banjir, melongsorkan tanahnya, membakar kayu-kayu hutannya, mengerontangkan sumber-sumber airnya, dan tidak membuahkan hasil panen yang baik lagi, kita tidak bisa menyalahkan Tuhan. Itu adalah kesalahan manusia sendiri yang terlalu rakus dan tidak menjaga keseimbangan alam.&lt;br /&gt;            Mereka bertanya apakah Tuhan akan diam saja dengan semua itu? Aku bilang, tentu saja Tuhan kan bertindak. Bukankah Tuhan hanya menyelamatkan Nuh dan keluarga ketika air bah menenggelamkan segala orang fasik? Bukankah Tuhan murka melihat kekejian di Sodom dan Gomora? Bukankah Tuhan menceraiberaikan Israel dan membuang mereka ke Babel karena umat pilihan-Nya itu memilih untuk menyembah allah lain? Salah satu perempuan itu bilang, inilah akhir jaman itu, dimana bangsa bangkit melawan bangsa, gempa bumi dimana-mana, dan penyakit serta kelaparan merajalela. Tuhan akan membiarkan sistem buruk ini berlalu dan segera mengakhirinya, lantas menyediakan firdaus baru bagi mereka yang tetap dalam kebenaran. Satu-satunya cara supaya tetap dalam kebenaran adalah mengenal Bapa dan Yesus secara benar melalui Alkitab. Aku menjadi tertarik dan menjanjikan waktu khusus di pertemuan berikutnya.&lt;br /&gt;            “Apakah kita perlu mempercayai Tritunggal? Apakah benar Maria itu bunda Allah? Apakah diperbolehkan berdoa di depan patung? Apakah Yesus itu Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia? Apakah perayaan Natal itu perlu karena berasal dari tradisi kafir? Apakah Roh manusia itu bersifat kekal setelah manusia mati? Jawabannya tidak, Mbak Rini. Tidak ada satupun ayat dalam alkitab yang menyebutkan hal-hal itu. Ajaran-ajaran yang mendukung hal di atas tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bukankah hukum kita adalah hukum Allah yang tertulis dengan jelas dalam Alkitab? Coba renungkan masalah ini.” Darahku mendidih mendengar perkataan tamu itu ketika kami bertemu untuk ketiga kalinya. Mukaku pucat dan aku terdiam dengan kerongkongan mengering. “Kalau Mbak Rini belum bisa menerima, mari kita cari ayat dalam Alkitab yang bisa menjelaskan itu semua. Tolong tunjukkan jika memang ada ayat yang mendukung.” Terus terang aku jadi kebingungan untuk menentang atau memberi penjelasan tentang perbedaan pandangan antara apa yang aku percayai dengan apa yang telah mereka paparkan. Selama ini aku jarang membaca Alkitab. Firman Tuhan hanya aku dengarkan ketika mengikuti misa di gereja. Itupun hanya sayup-sayup sampai. Bagaimana aku akan menunjukkan bukti-bukti bahwa doktrin yang mereka sampaikan itu keliru kalau aku saja tidak bisa membuktikan kebenaran dari doktrin yang aku percayai? Sementara mereka hafat isi Alkitab di luar kepala. Aku gelagapan dan hanya menjawab seadanya.&lt;br /&gt;            “Saya bahagia dengan apa yang telah saya pelajari dan percayai.” Ujarku. Sungguh tidak bijaksana jika aku emosi. Padahal ingin kukatakan, segera pergilah dan kebaskanlah debu di luar sana agar tidak tertinggal di rumahku!&lt;br /&gt;            “Percaya saja tidak cukup, Mbak. Kita harus mengkajinya, harus mengujinya, apakah yang kita percayai itu benar-benar sesuai dengan kehendak Allah.”&lt;br /&gt;            “Saya menerima Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus dengan iman. Jadi biarlah tersisa misteri di dalamnya, namun saya sungguh percaya. Kalau saya berusaha membuktikannya, itu bukan lagi iman, tapi sudah menjadi ilmu pengetahuan.”&lt;br /&gt;            “Tapi Allah tidak menghendaki kita menjadi bodoh, Mbak.”&lt;br /&gt;            “Mungkin saya kelihatan bodoh di mata anda berdua, tapi pasti tidak di hadapan Tuhan, karena saya menerima Dia seperti  seorang anak kecil menerima bapaknya. Tanpa banyak bertanya. Percaya saja. Bukankah Nuh tidak banyak tanya ketika disuruh membuat bahtera? Yesaya dan Yeremia juga tidak banyak tanya ketika diutus kepada bangsa Israel untuk  bernubuat. Para rasul juga menjalankan begitu saja perintah Yesus ketika diutus pergi berdua-dua tanpa protes. Bukankah Musa yang banyak tanya dan sering meragukan Allah justru tidak diijinkah masuk ke Kanaan? Yunus yang menyangsikan perintah Allah untuk menyerukan pertobatan bagi warga Niniwe justru tenggelam, tertelan ikan, dan sampai di kota itu dengan perasaan menyesal?” Itu benteng terakhirku sebelum keduanya pulang dengan wajah tetap tersenyum. Padahal jantungku begitu meletup-letup menahan marah.&lt;br /&gt;            Tapi ada untungnya juga kedatangan kedua perempuan itu. Aku jadi tertarik untuk membaca Alkitab lebih teliti lagi. Bukti-bukti yang diminta kedua perempuan itu bisa kutemukan di sana. Mereka hanya beda menafsirkan. Tapi kita tidak boleh menafsirkan semau hati bukan? Aku tetap berpegang pada apa yang sudah diajarkan padaku dan kupercayai.&lt;br /&gt;            Ketika kedua tamu itu datang lagi, dengan sopan kukatakan,” Maaf, saya tidak bisa menerima anda lagi. Anggur lama harus disimpan di kirbat yang lama. Anggur baru harus disimpan di kirbat baru. Sebab jika anggur baru dituang ke kirbat lama, kulit kirbat itu akan robek. Anggur lama yang disimpan di kirbat baru malah tidak akan terjaga mutunya. Kita saling menghormati saja.” Keduanya tidak pernah datang lagi. Biarlah aku tetap seperti anak kecil dalam menerima-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7469587068678807611?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7469587068678807611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/dua-orang-perempuan-warata-klara-14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7469587068678807611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7469587068678807611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/dua-orang-perempuan-warata-klara-14.html' title='DUA ORANG PEREMPUAN (Warata Klara 14 juni 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7585888289841417972</id><published>2009-08-29T21:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T21:51:27.315-07:00</updated><title type='text'>YESUS, PRIA PALING TAMPAN (Warta Klara 5 Juli 2009)</title><content type='html'>KITA BUTUH MEMAAFKAN&lt;br /&gt;Oleh C. Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Masa pensiun seharusnya dinikmati dalam kebahagiaan menimang cucu. Tapi seorang ibu justru jatuh sakit dan kesepian. Begitu berhenti kerja, sakit hatinya sangat terasa. Menyita seluruh waktu dan membuatnya digerogoti TBC kronis.&lt;br /&gt;            Semua bermula ketika putrinya mencintai pria beda agama. Beda pendapat membuat keduanya sering cekcok. Sang ibu ingin anaknya tetap dalam keyakian yang mereka anut. Sedangkan sang anak ingin dihormati pilihan hidupnya. Parahnya, sang putri akhirnya menikah diam-diam dengan tata cara di luar gereja.&lt;br /&gt;Ibu ini sangat kecewa. Dia sudah mengandung, melahirkan, merawat, dan menyekolahkan hingga jadi sarjana. Tapi apa balasannya? Dia dikhianati. Hubungan mereka pun putus. Sang ibu tak sudi lagi melihat putrinya. Beberapa kali sang putri bertandang, ingin minta maaf, sekaligus memperkenalkan para cucu. Tapi pintu hati sudah terpatri rapat. Hati  terlanjur hancur, sampai-sampai tak tersisa lagi untuk memaafkan.&lt;br /&gt;            Untunglah ibu itu punya sahabat dari lingkungan gereja yang mau mendengarnya, bahkan  mau mengantar jika berobat. Ibu itu merasa iri, ”Anak-anakmu begitu mencintaimu. Sementara anak harapanku, malah pergi.” Sahabat itu menjawab dengan hati-hati,”Mungkin sudah saatnya kaumaafkan putrimu. Sebenarnya dia tidak meninggalkanmu, bukankah dia selalu ingin kembali? Mungkin bukan hanya dia yang butuh dimaafkan. Kaupun butuh memaafkannya.”&lt;br /&gt;            Memberi maaf jauh lebih sulit dijalani dibanding minta maaf. Minta maaf kalau tidak ditanggapi bisa langsung pergi dan bilang, “Yang penting aku udah minta maaf. Soal tidak dimaafkan, itu urusan dia!” Tapi orang yang dimintai maaf dan tidak memberi, rasa dendam dan bencinya akan merongrong terus seumur hidup.&lt;br /&gt;Memaafkan  butuh energi besar. Batin bergumul hebat. Enak sekali minta maaf, si peminta maaf itu kan tidak tahu bagaimana sakit dan kecewanya orang yang dirugikan. Yang butuh kan orang yang minta maaf, jadi biar saja dia memohon-mohon dulu. Kadang makan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar memaafkan. Bahkan kadang sampai akhir hayatpun maaf tak diberikan. Memberi maaf bukan hanya sekedar kalimat,”Ya, saya maafkan. Jangan diulangi lagi ya.” Tapi merupakan kerelaan untuk menerima dan melupakan kesalahan orang lain. Untuk sampai pada tahap itu, kerendahan hati  sangat berperan. Orang yang tulus memaafkan, akan mau tersenyum lagi pada yang dimaafkan. Sedangkan maaf semu akan menghindar dari si pelaku. Syukur-syukur nggak punya urusan lagi sama dia! Kapok deh!&lt;br /&gt;            Rasa gondok pada orang lain yang bersalah, lama-lama jadi tekanan batin. Jiwa yang sakit membuat tubuh jadi rapuh pula. Maka keikhlasan untuk memaafkan sangat dibutuhkan demi kesehatan jiwa dan raga. Memaafkan mampu menyembuhkan luka batin, walau orang yang bersalah tidak minta maaf. Apalagi jika minta maaf. Apakah hati akan dibiarkan makin luka dengan tidak memaafkan? Dengan mengampuni, dua batin tersembuhkan sekaligus.&lt;br /&gt;            “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5: 23-24) Memaafkan orang lain dibutuhkan untuk bisa hidup berkenan di hadirat Tuhan.&lt;br /&gt;            Kini si ibu tampak lebih sehat. Bahkan berseri-seri ketika menceritakan kebandelan cucunya. “Apa gunanya aku rajin misa dan berdoa Bapa Kami, tapi tidak mau memaafkan anakku sendiri.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7585888289841417972?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7585888289841417972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/yesus-pria-paling-tampan-warta-klara-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7585888289841417972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7585888289841417972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/yesus-pria-paling-tampan-warta-klara-5.html' title='YESUS, PRIA PALING TAMPAN (Warta Klara 5 Juli 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-7377477280394096869</id><published>2009-08-29T21:40:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T21:45:00.146-07:00</updated><title type='text'>BERKAH DALAM PERBEDAAN (Warta Klara 16 Agustus 2009)</title><content type='html'>BERKAH DALAM PERBEDAAN&lt;br /&gt;Oleh C. Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sejak ada latihan menari di rumah, teman anak saya bertambah. Sebelumnya dia hanya bermain dengan anak-anak tertentu. Kini, anak dari gang lain mau mampir ke rumah. Anak saya juga sering pamit bermain ke gang lain. Berkat latihan bersama menyongsong HUT RI ke-64 itu, sekat antar warga terbuka. Bukan hanya diantara anak-anak, tapi juga di kalangan orangtua.&lt;br /&gt;            Warga yang dulu diam saja jika berpapasan, sekarang mulai menyapa. Yang dulu belum kenal, sekarang mulai mengobrol. Kulit putih, kuning langsat, sawo matang, dan hitam manis berkumpul untuk rapat. Rambut lurus, berombak, keriting, panjang, pendek dan cepak bersama membentuk panitia. Orang Sunda, Jawa, Batak, Flores, Ambon, Makasar, Padang, dan Palembang berperan dalam iuran. Tak ada perbedaan. Semua satu tujuan untuk menyukseskan acara HUT RI ke-64 di lingkungan.&lt;br /&gt;            “Ibu pinjam sarung siapa ya? Kita butuh lima untuk lomba.”  Ujar saya. Kebetulan saya termasuk panitia. “Besok aku pinjem dari teman-temanku yang ngaji deh!” Jawab anak saya spontan. Lomba makan kerupuk, makan bakwan, pindah bendera, lari sarung, lompat kodok, dan goyang bola telah mengikis segala perbedaan dan menyatukannya dalam tawa ria.&lt;br /&gt;            Karena hanya ada waktu 2 minggu untuk latihan, saya merancang tarian yang mudah dihapal. Yang penting lagunya ngetop. Tak Gendong Kemana-Mana-nya Mbah Surip. Jadilah sebuah tarian kocak. “Kita harus saling menggendong untuk pentas malam 17 Agustus nanti ya.” Ujar saya. Mereka semua tertawa hahahaha. Maksud saya, saling membantu, menyemangati, dan mengingatkan antar teman sehingga timnya kompak. Ternyata dalam 5 hari saja, mereka sudah hapal gerakannya.&lt;br /&gt;            “Seragam tarinya apa, Bu?” Tanya seorang anak. Yang penting tidak merepotkan orang tua dengan membeli baju baru. Saya memberi beberapa pilihan. Ternyata disepakati T-Shirt, rok pendek, dan leging. “Aku gak punya leging!” Keluh anak saya. “Pinjam punyaku aja. Aku punya banyak di rumah.” Usul salah satu temannya. Puji Tuhan. Anak itu punya banyak leging karena sehari-hari dia memakai kerudung.&lt;br /&gt;            Pesta kemerdekaan Indonesia, bukan sekedar makan-makan, bikin panggung, pasang umbul-umbul, goyang sampai pagi, dan aneka lomba lucu-lucuan. Pesta kemerdekaan adalah saat bagi semua kalangan untuk berbaur di lingkungan masing-masing. Pesta dimana keanekaragaman bisa menyatu tanpa sekat dan saling bekerjasama untuk kebahagiaan bersama. Perbedaan suku, agama, golongan, strata sosial, tingkat pendidikan, dan pandangan yang diagungkan selama ini, hancur mati kutu hanya oleh lomba lari sarung. Seorang ibu lulusan S2 pun berlari bersama dalam satu sarung dengan ibu rumah tangga lulusan SMEA.&lt;br /&gt;            Yesus bersabda :”Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (Mat 5: 46-47) Kita diutus untuk mengasihi sesama tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;            Sebagai orang Katolik, perhelatan besar bangsa ini adalah kesempatan baik untuk mewartakan Kasih Yesus dalam keterlibatan positif. Sebab pohon dikenal dari buahnya. Mari membuka hati pada perbedaan. Ternyata berbeda itu membawa berkah. Bisa saling mengisi dan melengkapi. Jika rela membuka hati, ternyata orang lainpun menyambut. Nyatanya anak saya kian banyak teman. Seorang ibu di ujung gang yang selama ini tak saya kenal, kini tersenyum ramah setiap bertemu. Persatuan bangsa ada di tangan kita bersama. Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-7377477280394096869?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/7377477280394096869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/berkah-dalam-perbedaan-warta-klara-16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7377477280394096869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/7377477280394096869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/berkah-dalam-perbedaan-warta-klara-16.html' title='BERKAH DALAM PERBEDAAN (Warta Klara 16 Agustus 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-6542990248468692122</id><published>2009-08-29T21:39:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T21:49:56.134-07:00</updated><title type='text'>KITA BUTUH MEMAAFKAN (Warta Klara 26 Juni 2009)</title><content type='html'>KITA BUTUH MEMAAFKAN&lt;br /&gt;Oleh C. Rini Giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Masa pensiun seharusnya dinikmati dalam kebahagiaan menimang cucu. Tapi seorang ibu justru jatuh sakit dan kesepian. Begitu berhenti kerja, sakit hatinya sangat terasa. Menyita seluruh waktu dan membuatnya digerogoti TBC kronis.&lt;br /&gt;            Semua bermula ketika putrinya mencintai pria beda agama. Beda pendapat membuat keduanya sering cekcok. Sang ibu ingin anaknya tetap dalam keyakian yang mereka anut. Sedangkan sang anak ingin dihormati pilihan hidupnya. Parahnya, sang putri akhirnya menikah diam-diam dengan tata cara di luar gereja.&lt;br /&gt;Ibu ini sangat kecewa. Dia sudah mengandung, melahirkan, merawat, dan menyekolahkan hingga jadi sarjana. Tapi apa balasannya? Dia dikhianati. Hubungan mereka pun putus. Sang ibu tak sudi lagi melihat putrinya. Beberapa kali sang putri bertandang, ingin minta maaf, sekaligus memperkenalkan para cucu. Tapi pintu hati sudah terpatri rapat. Hati  terlanjur hancur, sampai-sampai tak tersisa lagi untuk memaafkan.&lt;br /&gt;            Untunglah ibu itu punya sahabat dari lingkungan gereja yang mau mendengarnya, bahkan  mau mengantar jika berobat. Ibu itu merasa iri, ”Anak-anakmu begitu mencintaimu. Sementara anak harapanku, malah pergi.” Sahabat itu menjawab dengan hati-hati,”Mungkin sudah saatnya kaumaafkan putrimu. Sebenarnya dia tidak meninggalkanmu, bukankah dia selalu ingin kembali? Mungkin bukan hanya dia yang butuh dimaafkan. Kaupun butuh memaafkannya.”&lt;br /&gt;            Memberi maaf jauh lebih sulit dijalani dibanding minta maaf. Minta maaf kalau tidak ditanggapi bisa langsung pergi dan bilang, “Yang penting aku udah minta maaf. Soal tidak dimaafkan, itu urusan dia!” Tapi orang yang dimintai maaf dan tidak memberi, rasa dendam dan bencinya akan merongrong terus seumur hidup.&lt;br /&gt;Memaafkan  butuh energi besar. Batin bergumul hebat. Enak sekali minta maaf, si peminta maaf itu kan tidak tahu bagaimana sakit dan kecewanya orang yang dirugikan. Yang butuh kan orang yang minta maaf, jadi biar saja dia memohon-mohon dulu. Kadang makan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar memaafkan. Bahkan kadang sampai akhir hayatpun maaf tak diberikan. Memberi maaf bukan hanya sekedar kalimat,”Ya, saya maafkan. Jangan diulangi lagi ya.” Tapi merupakan kerelaan untuk menerima dan melupakan kesalahan orang lain. Untuk sampai pada tahap itu, kerendahan hati  sangat berperan. Orang yang tulus memaafkan, akan mau tersenyum lagi pada yang dimaafkan. Sedangkan maaf semu akan menghindar dari si pelaku. Syukur-syukur nggak punya urusan lagi sama dia! Kapok deh!&lt;br /&gt;            Rasa gondok pada orang lain yang bersalah, lama-lama jadi tekanan batin. Jiwa yang sakit membuat tubuh jadi rapuh pula. Maka keikhlasan untuk memaafkan sangat dibutuhkan demi kesehatan jiwa dan raga. Memaafkan mampu menyembuhkan luka batin, walau orang yang bersalah tidak minta maaf. Apalagi jika minta maaf. Apakah hati akan dibiarkan makin luka dengan tidak memaafkan? Dengan mengampuni, dua batin tersembuhkan sekaligus.&lt;br /&gt;            “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5: 23-24) Memaafkan orang lain dibutuhkan untuk bisa hidup berkenan di hadirat Tuhan.&lt;br /&gt;            Kini si ibu tampak lebih sehat. Bahkan berseri-seri ketika menceritakan kebandelan cucunya. “Apa gunanya aku rajin misa dan berdoa Bapa Kami, tapi tidak mau memaafkan anakku sendiri.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-6542990248468692122?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/6542990248468692122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/kita-butuh-memaafkan-warta-klara-26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6542990248468692122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6542990248468692122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/kita-butuh-memaafkan-warta-klara-26.html' title='KITA BUTUH MEMAAFKAN (Warta Klara 26 Juni 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1780293429095350205.post-6785203454286067107</id><published>2009-08-29T21:35:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T21:38:56.524-07:00</updated><title type='text'>Domba Itu Tidak Sesat (Warta Klara 28 Juni 2009)</title><content type='html'>Dua tahun silam, saat berkunjung ke Santa Klara, Bapak Uskup Julius Darmaatmaja SJ pernah menghimbau agar para ketua lingkungan memperkecil lubang jalinan jala-nya dalam merangkul umat. Sehingga ikan-ikan kecil pun tertangkap. Dalam kunjungan tahun ini, kembali lagi Bapak Uskup menghimbau supaya para pengurus lingkungan rajin mencari domba yang hilang. Ikan-ikan besar sudah pasti terjaring walau lubang jalinan jala besar. Domba-domba yang tetap berada dalam kawanan sudah pasti aman. Sehingga ikan besar dan domba taat ini tak perlu dikejar-kejar lagi, karena mereka sudah setia dengan sadar dan ikhlas untuk tinggal di perahu atau kandang. Ikan-ikan kecil dan domba hilang inilah yang harus dirangkul supaya mau kembali dan bersatu dengan kawanannya di habitat yang telah disediakan. Wah, saya jadi tersentuh dengan himbauan yang sebenarnya tajam tapi memakai gaya bahasa perumpamaan yang santun itu. Malu malah! Masalahnya saya juga pernah jadi ikan teri yang sulit masuk jaring. Atau domba hilang yang ogah kembali. Kenapa begitu?&lt;br /&gt;            Dulu, waktu baru masuk menjadi warga paroki ini, anak-anak saya masih kecil. Bahkan yang bungsu masih bayi. Suami saya juga bekerja dari pagi sampai malam, bahkan kadang tugas ke luar kota. Wah, pokoknya keluarga kami repot banget. Ketemu tetangga saja jarang, apalagi ketemu saudara seiman dalam satu lingkungan. Para pengurus lingkungan sudah berusaha maksimal untuk menjaring kami. Jala-nya dijalin kecil-kecil supaya keluarga ikan teri kami terperangkap masuk. Jika ada kegiatan, undangan selalu diantar, Ibu Ketua lingkungan kadang menelpon, saudara selingkungan yang terdekat sering mengingatkan, bahkan kalau ketemu di mana aja selalu ada yang menyapa dan bertanya kenapa jarang kelihatan. Wah, anak saya ulangan, anak saya agak panas, anak saya agak rewel, nanti kalau diajak doa bakalan ribut, suami saya belum pulang, suami saya masih di luar kota. Bahkan saat diajak menengok orang sakit pun, anak-anak dan suami selalu jadi alasan saya. Ini nggak mengada-ada lho. Bener.&lt;br /&gt;            Mengacu pada himbauan Bapak Uskup, saya jadi kasihan pada para Ketua Lingkungan berikut para pengurusnya yang sudah bekerja keras memperkecil jalinan jala dan menebarkannya sampai ke pelosok danau, bahkan sampai ke tempat yang tersembunyi. Mereka juga sudah berusaha mencari domba yang belum kembali sampai ke penjuru ladang, bahkan sampai diantara semak belukar. Kerja mereka sudah maksimal. Jadi bukan salah mereka jika akhirnya kegiatan di lingkungan hanya dihadiri orang yang itu-itu juga. Tapi sebenarnya ikan teri seperti saya waktu itu, atau domba bandel seperti saya kala itu, yang jadi pangkal persoalan. Saya sadar sepenuhnya, bila saya masuk ke dalam jaring dan tinggal dalam perahu atau masuk kandang bersama domba lain, akan ada konsekuensi yang mengikuti. Misalnya : ikut dalam kegiatan lingkungan seperti doa, arisan, koor, sekolah minggu, rumah dipakai untuk doa, dan siap bantu ini itu. Belum lagi ada iuran dan kegiatan sosial. Tentulah butuh kerelaan untuk meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan dana. Kalau dana, mungkin masih bisa. Tapi waktu, tenaga, pikiran belum bisa saya bagikan karena tersedot habis untuk mengurus keluarga. Beberapa teman mengajak arisan wilayah, ikut koor WP, KEP, dan jadi lektor. Aduh, mungkin nanti kalau anak-anak sudah SMP jadi bisa saya tinggal, jawabku. Untuk lingkungan saja belum bisa, apalagi untuk wilayah atau paroki. Boro-boro!&lt;br /&gt;            Oh, Bapa Uskup yang budiman. Mungkin para gembala awam di lingkungan, wilayah, dan paroki seantero Santa Klara sudah bekerja keras untuk menjaring dan menemukan domba kecil seperti saya. Tapi memang saya sendirilah yang belum mau terjaring dan masuk kawanan. Saya masih ingin bebas. Belum mau terikat dengan aturan main dan konsekuensi di dalam perahu atau kandang yang akan melindungi saya. Para nelayan-Nya dan gembalan-Nya sudah berusaha, tapi saya yang sengaja sembunyi. Belum tepat saatnya.&lt;br /&gt;            Hingga suatu saat, anak sulung saya sudah masuk SD. Di sekolah dia ditanya guru agamanya, ikut sekolah minggu atau tidak? Dia merengek minta ikut sekolah minggu. Kalau minta baju atau sepatu baru mungkin saya bisa membuat alasan untuk menunda. Tapi dia minta lebih dekat dengan Yesus dan saudara seimannya. Apa saya mau menolaknya juga? Bukankah dalam sakramen perkawinan saya sudah berjanji untuk mendidik anak-anak saya sesuai ajaran kristiani? Akhirnya, adiknya yang masih bayipun saya bawa ke sekolah minggu. Dan di sanalah perubahan mulai terjadi. Anak saya mendapat banyak teman seiman. Ibu-ibu yang mengantar anak-anak mereka juga begitu baik dan perhatian pada saya. Padahal selama ini saya terus cari alasan untuk menghindar dari keterlibatan saya dengan mereka. Mungkin para nelayan dan gembala-Nya sudah lelah mencari saya. Tapi Dia sendiri, GEMBALA YANG SEJATI, menggiring dan membawa saya masuk ke dalam kawanan domba-Nya melalui perantaraan anak saya sendiri. Sejak saat itu saya berniat untuk mengabdikan diri bagi sekolah minggu di lingkungan saya. Anak-anakpun tidak pernah mengeluh diajak dalam kegiatan lingkungan. Melalui kegiatan kecil itulah, tangan besar-Nya telah membimbing saya untuk pulang ke kandang-Nya yang aman dan damai. Saya sudah tidak memikirkan lagi konsekuensi dan aturan main di dalam kawanan. Kalau tenaga, waktu, pikiran, dan dana yang saya punya hanya saya serahkan demi kemuliaan nama-Nya, tak ada yang terasa berat. Dia sudah begitu baik pada saya, jadi bukankah sayapun harus baik kepada-Nya? Sungguh. LORD is my SHEPERD, and I want to follow, where ever He leads me where ever He goes. Climbing the mountain and down to valley….selarik lagu itu selalu menyemangati saya untuk terus berada di dalam kawanan.&lt;br /&gt;            Bapak dan Ibu pengurus lingkungan, maafkan ikan teri dan domba kecil yang bandel ini ya. Mohon dimaklumi. Waktu itu mungkin timing-nya belum tepat. Sorry, udah bikin repot. Kami sangat menghargai dan mengacungkan jempol atas kerja keras Bapak dan Ibu sekalian. Bapa di sorga yang akan membalasnya.Yesus, terimakasih Kaukembalikan aku ke dalam kawanan domba-Mu. Domba kecilmu ini tidak tersesat kok, dia hanya bersembunyi saja. Bapak, Ibu, dan saudara terkasih, jangan pernah sembunyi seperti saya ya. Setiap orang pasti punya alasan khusus dan unik kenapa belum bisa aktif di lingkungan masing-masing. Saya maklum itu karena telah mengalami sendiri. Berada dalam perahu-Nya atau tinggal di dalam kandang-Nya jauh lebih enak kok dibanding sembunyi. Bener lho. Karena pertumbuhan iman kita butuh pupuk dan air mineral dari saudara seiman kita. Menurut saya, aktif itu bukan berarti  selalu hadir dalam setiap kegiatan. Tapi menjaga hubungan baik dengan anggota komunitas, ambil bagian semampu kita, dan melakukan semua itu dengan hati gembira. Jangan ragu untuk terlibat. Salam damai dalam kasih Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1780293429095350205-6785203454286067107?l=rinigiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rinigiri.blogspot.com/feeds/6785203454286067107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/domba-itu-tidak-sesat-warta-klara-28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6785203454286067107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1780293429095350205/posts/default/6785203454286067107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rinigiri.blogspot.com/2009/08/domba-itu-tidak-sesat-warta-klara-28.html' title='Domba Itu Tidak Sesat (Warta Klara 28 Juni 2009)'/><author><name>Cerpen Rini Giri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09669454659421247076</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LvKjS597gvk/TD6CKnQhB9I/AAAAAAAAABE/BAJ45TWX9H4/S220/sdbg.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
